
Manik mata Tia terpusat pada satu objek di jari manis Ilona, saat sang penyanyi tengah melakukan siaran langsung di akun sosmed-nya. Ia sedang berpikir keras tentang cincin yang Ilona pakai.
Matanya membulat sambil menjentikkan jari, ketika ingatannya sudah kembali mengingat dimana ia melihat cincin itu.
Gue inget sekarang!! Gue pernah liat cincin itu di mimpi, waktu gue mimpi tentang Mas Igan yang terperangkap. Jadi ... cewek misterius di mimpi gue itu ... Ilona?? batin Tia.
Tia masih menyaksikan siaran langsung dari sang artis yang jelas-jelas bukan idolanya itu di ruang serbaguna sembari menunggu jam istirahat makan siangnya habis.
"Tia, kamu sedang apa di situ? Lihat berita apa, kok kayaknya serius sekali?" tiba-tiba sang CEO, Bintang Erlangga sudah berdiri di luar ruangan sembari menatapnya.
Tia terkesiap, hampir saja ponsel di tangannya terhempas ke lantai. Ia bergegas berdiri dan mendekati sang bos.
"Ma-maaf Pak, saya lagi nonton siaran langsungnya penyanyi Ilona." ucap Tia, gugup.
Bintang mengerutkan dahi, "Kamu mengidolakan dia?"
"Tidak, Pak. Saya cuma penasaran sama hubungan dia dan ...." ucap Tia, menggantung.
"Dan siapa?"
"Dan Mas Igan, putra Bapak."
Mata Bintang sontak membulat, membuat Tia mengira jika bosnya itu marah.
"Apa yang bikin kamu penasaran sama hubungan mereka?" tanya Bintang, tenang agar Tia tidak takut.
"Maaf, boleh saya tau apa Pak Bintang setuju kalau Mas Igan dekat sama Ilona?"
"Tidak, saya tidak pernah setuju dengan hubungan mereka. Kenapa? Apakah saya seorang ayah yang egois?"
"Bukan begitu maksud saya, tapi ... apa artinya Bapak tidak akan hadir di acara pertunangan mereka?"
Lagi-lagi mata Bintang membulatdengan ekspresi wajah terkejut bercampur emosi.
"Apa? Tunangan??" tanya Bintang, tak percaya.
Tia mengangguk pelan lalu menyodorkan ponselnya kepada Bintang. Bintang menerima ponsel itu dan mulai menyaksikan siaran langsung yang dilakukan oleh Ilona, namun ternyata itu sudah bagian pamungkas jadi Bintang hanya melihat itu sebentar.
Raut kekesalan sangat jelas terpancar dari wajah Bintang.
"Saya enggak habis pikir, kenapa Igan nekat bertunangan dengan gadis itu? Padahal sudah sangat tegas saya katakan sama dia, kalau saya tidak bakal merestui." ujar Bintang, lirih namun geram.
"Maaf Pak, bukan maksud saya untuk ikut campur. Tapi ... saya pikir, ada yang tidak wajar dengan hubungan mereka."
Bintang langsung menatap Tia dengan intens.
"Maksud kamu, tidak wajar bagaimana? Coba kamu jelasin ke saya."
Aduh, Pak Bintang percaya hal-hal gaib enggak ya? batin Tia.
"Kenapa Tia? Cepat jelaskan ke saya, atau ... kita bicara di ruangan saya saja. Ayo!" ajak Bintang.
Tia mengekor langkah Bintang yang melangkah cepat di depannya menuju ruang CEO. Mereka berpapasan dengan Teguh, kemudian Bintang berhenti sejenak dan bicara.
"Hmmm ... Teguh, saya ada perlu dengan Tia, tolong sampaikan pada Jeni ya? Saya pinjam Tia dulu sebentar." ucap Bintang pada Teguh, karena menyadari jam makan siang sudah hampir selesai.
"Oh, baik Pak. Nanti saya sampaikan." sahut Teguh, kemudian melirik Tia dengan heran.
Tia membalas tatapan Teguh dengan isyarat bahwa ia tidak ada masalah. Teguh pun mengangguk, lalu melanjutkan langkahnya kembali ke ruang kerjanya setelah istirahat makan siang.
"Silakan duduk, Tia. Sekarang, coba kamu ceritakan apa yang buat kamu berpikir bahwa ada yanh tidak beres dalam hubungan anak saya dan Ilona?" tanya Bintang ketika mereka sudah berada di dalam ruang CEO.
"Saya mau ceritakan tapi saya ragu, apa Bapak akan percaya atau tidak."
"Ceritakan saja dulu, saya juga bukan orang yang antipati tanpa alasan yang jelas, dalam menilai sesuatu."
Tia menghela napas sejenak, kemudian ia ceritakan semua yang ia lihat di mimpinya hingga cincin yang ia lihat saat Ilona siaran langsung tadi.
"Ini unlogic. Tapi ... bagaimana kamu tau semua itu?"
"Saya ... termasuk orang yang banyak diistilahkan sebagai seorang indigo, Pak. Makanya saya bisa tau."
"Lalu apa yang harus saya lakukan supaya Igan bisa lepas dari gadis itu?"
"Cincin itu Pak. Kemungkinan besar pengaruh yang menyelubungi Mas Igan itu karena cincin itu."
"Ya tapi bagaimana caranya?"
"Cincin itu harus dihancurkan atau dibuang ke tengah laut."
"Tengah laut??"
Tia mengangguk, "Itu tidak seberapa sulit, Pak. Yang sulit itu, bagaimana caranya supaya Ilona mau melepas cincinnya, dan direbut terus dibuang ke laut."
Bintang mengangguk-angguk, wajahnya makin terlihat serius.
Ketika suasana ruang CEO itu hening karena Tia dan Bintang sedang sama-sama berpikir keras untuk menolong Igan, tiba-tiba ponsel Bintang berdering.
"Sebentar, ada telepon." ujar Bintang.
"Kalau begitu, saya permisi kembali ke ruangan dulu ya Pak?" pamit Tia, sopan.
"Oh, iya-iya. Silakan. Terima kasih ya, Tia."
Tia tersenyum, "Sama-sama, Pak." ucapnya kemudian beranjak keluar ruang CEO dan kembali ke ruang kerjanya.
Bintang melihat layar ponselnya, ada tulisan Bunda Sayang tertera di layar.
"Assalamu'alaikum, Bun." sapa Bintang pada sang istri, Bulan.
"Wa'alaikum salam. Yah, apa Ayah sudah tau kalau hari ini Igan mau tunangan sama Ilona?" tanya Bulan, panik.
"Sudah Bun, barusan Ayah habis ngobrol sama staf di kantor yang namanya Tia."
"Tia? Yang anaknya teman Ayah dulu itu?"
"Iya, Bun. Tadi dia lagi nonton siaran langsungnya Ilona di HP, kebetulan Ayah pas lewat."
"Terus gimana Yah, kita ke sana aja yuk?"
"Ke sana? Enggak, ayah enggak mau. Kalau kita ke sana, artinya kita ngasih restu dong, Bun!"
"Ya bukan ngasih restu, Yah ... tapi justru kita harus gagalin acara mereka."
"Itu bukan ide yang bagus, Bun. Kalau kita gagalin acara mereka, itu sama aja mencoreng nama baik kita. Gadis itu kan ngundang wartawan buat meliput, kalau kita kacaukan ... nama baik kita juga yang hancur."
"Ya terus gimana, Yah?"
"Sudah ... biar saja dulu. Biar gadis itu capai dulu keinginannya tunangan sama anak kita, nanti kita cari cara supaya mereka enggak sampai nikah."
"Ya tapi gimana caranya, Yah?"
"Barusan Ayah ngobrol sama anaknya Taufan, yang namanya Tia itu. Dia ternyata indigo, Bun. Dia bisa ngerasain kalau hubungan Igan sama gadis itu, enggak wajar."
"Enggak wajar gimana?"
"Nanti aja ya Ayah ceritain kalau di rumah. Tapi yang jelas kita jangan dateng ke acara Igan, nanti malah kita dipermalukan. Ya, Bun?"
"Ya sudah, Bunda ikut apa kata Ayah aja. Assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikum salam ...."
Sambungan telepon pun berakhir. Bintang termangu di dalam ruang kerjanya yang luas itu. Ia teringat sewktu Igan masih bersikap manis dan mau menuruti nasehat-nasehatnya.
Ya Allah, tolong berikan kami pertolongan dan jalan keluar atas masalah ini. Aamiin ....
Sepenggal doa dalam hati Bintang pun dipanjatkan diiringi air mata yang menetes lembut, memohon pertolongan kepada Sang Pencipta untuk keluarga kecilnya, dan juga sang putra yang benar-benar butuh pertolongan.
****