
Sesi interview Tia dengan Bintang yang didampingi oleh Hendra pun berlangsung lancar. Tia yang semula khawatir jika big boss itu akan bersikap kaku justru dapat bernapas lega karena ternyata Bintang sangat baik dan humble.
Bintang bersikap demikian karena dulu ayah Hendra dan Tia yang bernama Taufan adalah salah satu teman Bintang di kampus. Mereka memiliki hubungan cukup baik, bahkan mereka sempat menjalin kerja sama bisnis.
Namun sayang, usahanya harus mengalami kebangkrutan setelah ia menikah lagi dengan seorang wanita bernama Maya sepeninggal istri pertamanya, yang notabene adalah ibu kandung Hendra dan Tia.
Bintang sempat memberikan bantuan agar usaha temannya itu bisa kembali aktif namun ternyata tak banyak membantu, karena usahanya tetap tidak bisa kembali berjalan seperti semula akibat Taufan yang sudah mulai sakit-sakitan.
Taufan hanya meminta agar Bintang memberi lapangan kerja bagi anak-anaknya kelak, ia pun menceritakan perihal rumah tangganya yang tak harmonis lagi semenjak kondisi finansial keluarga mereka menurun.
Hingga akhirnya Taufan dituntut cerai oleh Maya yang memang mempunyai hobi foya-foya. Taufan tak dapat mencegah keinginan wanita yang sebenarnya menjadi duri dalam pernikahannya dengan Dini, mendiang istrinya terdahulu.
Dulu, Maya adalah karyawan baru di perusahaan Taufan. Taufan yang memiliki wajah ganteng dan saat itu masih berharta pun menjadi target incaran Maya untuk didekati.
Dengan intensitas pertemuan mereka di kantor yang sering terjadi, mampu memuluskan rencana Maya untuk menaklukkan Taufan kendati ia tahu jika Taufan sudah berkeluarga.
Dengan gencarnya taktik yang Maya lakukan dengan mengandalkan wajah cantik dan tubuh yang aduhai serta suara lemah lembut yang memabukkan, akhirnya Maya berhasil menggaet Taufan dan menikah secara diam-diam.
Hubungan gelap mereka berlangsung beberapa lama hingga Dini pun mengetahui kenyataan tersebut. Ia sangat terpukul dan tak terima telah dikhianati sang suami yang selama ini ia cintai.
Parahnya di belakang Taufan, Maya semakin berani menekan Dini secara mental. Ia pun berani mendesak Taufan untuk menikahinya secara hukum negara agar diakui sepenuhnya sebagai istri.
Hendra yang kala itu sudah cukup besar pun turut menyaksikan kepiluan sang bunda. Lama kelamaan, Dini mulai jatuh sakit akibat tak kuat menahan derita batin yang mendera.
Keuangan hasil usaha Taufan pun dikuasai oleh Maya untuk memenuhi hasrat belanjanya yang tak terkendali, hingga berujung pada kebangkrutan usaha yang dibangun penuh perjuangan oleh Taufan.
Biaya untuk menjamin pengobatan Dini pun kontan tidak ada lagi, yang menyebabkan sakitnya semakin parah dan beberapa bulan kemudian meninggal dunia.
Setelah berhasil mendapat kepuasan berfoya-foya dari uang Taufan hingga usahanya jatuh, Maya pun memilih untuk bercerai karena ia tak sudi hidup susah.
Giliran Taufan yang harus menanggung penyesalan seumur hidup karena termakan rayuan wanita rakus itu. Ia sangat merasa bersalah kepada Dini, mendiang istri pertamanya, juga pada kedua buah hati mereka, Hendra dan Tia.
Akibat runtutan kesusahan itu, Taufan tak dapat membiayai Hendra melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang kuliah. Hendra pun menyadari keadaan tersebut dan tak mau menuntut.
Taufan yang masih menyimpan nomor telepon Bintang pun diam-diam menghubunginya, untuk meminta bantuan agar teman baiknya itu mau memberi lapangan pekerjaan di perusahaannya.
Bintang pun menyanggupi permintaan Taufan, ia meminta Hendra untuk melamar pekerjaan ke kantornya. Namun mereka sepakat untuk tidak memberitahukan kepada Hendra tentang hal itu.
Mereka ingin hubungan kerja antara Hendra dan Bintang tetap profesional sebagai atasan dan bawahan. Bintang juga tidak mau dianggap hanya menaruh iba pada Hendra.
Setelah Hendra diberitahu ayahnya untuk coba melamar kerja di perusahaan Erlangga, Bintang melihat postur serta kemampuan bela diri yang dimiliki Hendra sangat cocok jika ditempatkan sebagai petugas keamanan kantor, disamping itu juga karena Hendra hanya memiliki ijasah SLTA dan sertifikat pelatihan.
*
Malam hari ketika Tia sedang terlelap, ia bermimpi melihat dua buah pelangi nan cantik tampak menaungi kantor yang ia datangi. Tia begitu takjub melihat fenomena alam yang terbilang sudah jarang terjadi itu.
Tepat saat adzan Subuh berkumandang, Tia terbangun. Ia duduk termenung di tepi ranjangnya sambil memikirkan mimpi yang hadir menghiasi tidurnya.
Namun suara Hendra yang memanggil membuat Tia tersadar lalu ia bergegas keluar kamar.
"Sudah subuh, Dek. Ayo sholat!" Ajak Hendra yang sudah tampak siap mengenakan sarung dan membawa sajadah untuk sholat di ruang tengah.
Tia mengangguk lalu beranjak menuju kamar mandi untuk berwudu, kemudian salat wajib dua rakaat pun mereka tunaikan secara berjama'ah.
Usai mengucap salam di penghujung salat, Tia kembali teringat dengan mimpinya. Kedua tangan ia tengadahkan, bermunajat untuk kebaikan.
Tia bergegas memasak air untuk membuat teh hangat dan mulai menyiapkan bumbu-bumbu serta semua bahan untuk membuat nasi goreng, menu sarapan mereka pagi itu.
Pada pukul enam, semuanya sudah siap. Tia dan Hendra duduk menyantap sarapan bersama sambil menonton televisi, namun Hendra menggerutu karena Tia lebih memilih menonton siaran berita seputar selebritis.
"Dek, pagi-pagi kok udah kepoin artis sih? Ganti berita aja." Pinta Hendra.
"Enggak ah, aku suka. Ini kan juga berita Kak, berita tentang artis, hehe ...." Tolak Tia sembari terkekeh.
"Ah kamu tuh." Gerutu Hendra sambil menyuap sesendok nasi goreng hangat untuk mengisi perutnya pagi itu.
Tia tersenyum melihat kakaknya menggerutu. Entah kenapa ia ingin sekali menonton acara gosip pagi itu.
Tia sontak berhenti mengunyah, fokusnya mengarah ke layar televisi untuk menyimak dengan seksama berita yang disuguhkan tentang Dirgantara dan Ilona.
"Kak, mereka pacaran?" Tanya Tia kepada Hendra.
"Ya mungkin, namanya juga artis suka cinlok-cinlokan. Kenapa, kamu cemburu?" Timpal Hendra sambil meledek.
Tia merengut, lalu kembali berujar, "Kok mau sih Mas Igan jadian sama cewek itu?"
"Ya emang kenapa, Dek? Lona itu kan memang cantik, suaranya bagus. Klop lah kalau mereka jadi pasangan. Apalagi mereka sering banget tampil berdua, kan teman duet? Mungkin benih-benih cinta muncul dari situ."
"Cantik sih, suaranya juga bagus kalau pas nyanyi. Tapi kalau pas marah-marah kayak kejadian waktu itu ya sama aja lah, Kak!" -Tia mengunyah nasi goreng- "Galaknya minta ampun, kasian Mas Igan kalau sampai sama dia." Imbuhnya.
"Iya juga sih, mungkin kalau ada penghargaan penyanyi paling galak of the year dia bakal menang tuh!" Timpal Hendra sambil tertawa.
Mendengar itu, Tia hampir saja tersedak. Ia tak menyangka jika kakaknya bisa nyinyir juga.
"Tapi Kak, aku kalau lihat Ilona tuh rasanya kayak punya keterkaitan gitu." Ujar Tia dengan mimik wajah bingung.
"Keterkaitan gimana?"
"Aku juga enggak terlalu yakin sih Kak, tapi yang aku rasa tiap ngeliat dia tuh kayak ada perasaan yang sama."
"Apa kamu juga punya rasa ke Mas Igan, sama kayak Lona? Jadi kamu ngerasa ada perasaan yang sama." Tebak Hendra.
"Ish, bukan Kak. Ngaco aja deh! Lagian aku sama Mas Igan itu bagai langit sama bumi."
Hendra hanya terkekeh mendengar adiknya yang tampak kesal.
"Aku sama sekali enggak nyangka deh Kak, bisa kenal artis beken kayak Mas Igan. Walaupun awal ketemunya dengan cara yang enggak enak, tapi dia sama sekali enggak marah ke aku. Baik banget orangnya." -Tia terdiam sejenak mengenang kejadian serempetan di jalan waktu itu- "Aku malah baru sadar kalau dia artis, pas banyak orang-orang yang nyeletuk sebut namanya. Habisnya ... dia pakai kacamata hitam, topi, celana jeans pendek sama sandal jepit. Beda banget kalau lagi tampil di TV." Imbuh Tia sambil tersenyum lebar.
"Mas Igan itu emang orangnya gitu, enggak sombong juga Dek. Dia ramah banget waktu ikut datang ke kantor Pak Bintang."
Tia senyum-senyum sendiri mengingat kejadian pertemuannya dengan Igan, diam-diam ada rasa kagum yang menyelinap di dalam sanubarinya.
*
Pukul sembilan pagi, ponsel Tia berdering ketika ia sedang sibuk mencuci pakaian. Ia bergegas menuju ruang tengah dimana ponselnya berada.
Tampak nomor telepon lokal yang menelepon. Tia sempat berpikir sejenak, namun ia mantap untuk menerima panggilan telepon tersebut.
"Halo?" Sapa Tia.
"Selamat pagi, dengan Mbak Celestia Amanda?"
"Betul, saya sendiri."
"Saya Irwan, personalia dari perusahaan Erlangga. Kami harap kehadiran Mbak ke kantor kami besok pagi jam delapan, nanti bertemu dengan saya di sana."
"Oh, baik Pak. Besok insya Allah saya datang. Kalau boleh saya tahu, agendanya apa ya Pak besok? apakah tes lanjutan?"
"Hmmm ... bukan Mbak, tapi untuk jelasnya Mbak silakan datang saja besok ya?"
"Oh begitu, ya sudah baik Pak. Terima kasih informasinya."
"Sama-sama ... Selamat pagi."
"Selamat pagi Pak Irwan."
Sambungan telepon berakhir. Tia bersandar di tembok ruang tengah rumahnya lalu ia letakkan ponselnya di atas meja.
Semoga besok jadi awal yang indah buat gue di kantor itu, seindah pelangi yang ada di mimpi gue .... Batin Tia berharap.
***