Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Susan


Sepekan telah berlalu dan Hendra sudah kembali ke rumah setelah dinyatakan membaik oleh dokter yang memeriksanya, namun ia belum bisa beraktifitas ke kantor sampai kondisinya benar-benar pulih.


Tia yang saat itu sudah kembali aktif bekerja tampak termenung di meja kerjanya. Teguh melihatnya dan menegur, "Kenapa Ti, kok bengong?"


Tia tersentak kaget menatap ke arah Teguh, lalu menjawab dengan gelagapan.


"Euh? Ng-enggak apa-apa kok, Mas." Sahutnya.


Teguh menatap Tia dengan lekat, ia melihat kalung yang sedang Tia pakai.


"Ti, kalungnya bagus. Beli di mana?" Tanya Teguh.


"Euh? I-ini? Ini ... hmmm ...." Tia tampak ragu menjawabnya.


"Dari tadi aku perhatiin kamu pegangin kalung itu terus, dari pacar kamu ya?" Ledek Teguh.


"Enggak ... bukan kok-bukan!" Sahut Tia, menolak.


"Ah masa?? Tapi kamu pegang-pegang terus dari tadi."


Tia hanya tersenyum, lalu mengalihkan pembicaraan.


"Mas Teguh nanti mau beli makan siang di mana? Aku boleh nitip enggak?" Tanya Tia.


"Aku nanti mau ke warteg di ujung jalan sama si Gugun. Emang mau nitip makan apa?"


"Nasi campur aja deh, Mas. Lauknya terserah."


"kalo enggak, ikut aja yuk? Daripada kamu sendirian di sini?"


"Enggak ah, Mas. Aku lagi enggak fit, lagi red day nih! Agak ngantuk juga, apalagi suasananya sepi gini."


"Iya emang, ruangan kita berasa sepi banget. Pak Rey sama Jeni lagi training di luar kota tiga hari, Tami lagi ijin sakit. Cuma kita bertiga."


"Tapi untung ada Gugun, jadi tetep hidup ni ruangan." Timpal Tia.


"Hehehe ... iya, ternyata kelakuannya yang konyol dan usil itu bermanfaat banget pas situasi kayak gini." Sahut Teguh, tertawa.


Tak lama, pintu ruangan mereka terbuka. Tampak Gugun yang baru datang setelah menghadap ke ruang pimpinan.


"Gimana Gun laporannya, beres kan?" Tanya Teguh.


"Beres dong ...!!" -Gugun melihat ke arah jam dinding- "Guh, maksi yuk? Laper gue!"


"Ayo! Ti, beneran enggak ikut? Bonceng aku juga enggak apa-apa kok, yuk?" Ajak Teguh.


"Aduh ... enggak deh Mas, aku nitip aja. Beneran enggak enak nih badan! Aku mau tidur dulu sebentar di sini." Tolak Tia.


"Apa mau gue panggilin Bang Jack biar beliin makanan buat lu, Ti? Biar lebih cepet dateng makanannya?" Saran Gugun.


"Enggak lah, biarin nitip Mas Teguh aja. Lagian aku mau tidur dulu." Tolak Tia.


"Oh, ya udah deh. Yuk, Guh?!" Ajak Gugun.


Teguh mengangguk, ia menatap cemas terhadap Tia yang mulai menelungkupkan kepala dengan bantalan kedua tangan yang dilipat di atas meja.


"Gue agak khawatir deh sama si Tia, dari tadi gue perhatiin dia sering bengong." Ujar Teguh kepada Gugun saat sudah berjalan menuju area parkir.


"Ngantuk kali dia, kan tadi bilang mau tidur dulu." Timpal Gugun, santai.


Teguh hanya manggut-manggut, berusaha setuju dengan pendapat Gugun walaupun dalam hati ia masih merasa janggal.


*


Sementara itu, di dalam ruangan tampak Tia mulai tertidur. Ia benar-benar tak dapat mengendalikan rasa kantuknya saat itu, hingga benar-benar terlelap.


Seperti kejadian yang sudah-sudah, Tia bermimpi bertemu dengan gadis yang selalu hadir di alam bawah sadarnya semenjak ia menerima kalung pemberian Rey.


Sejujurnya Tia tak ingin menyimpan kalung itu lagi, tetapi Rey selalu berhasil membujuknya. Dan hari itu Tia bertekad untuk memakai kalung indah tersebut agar bisa bertemu dengan si gadis misterius di alam bawah sadarnya.


Siang itu, Tia serasa kembali berada di dalam sebuah ruangan, atau lebih tepatnya sebuah kamar yang sama seperti waktu awal ia melihat gadis itu.


"Ka-kamu ... kenapa selalu muncul di mimpi saya?" Tanya Tia ketika melihat gadis itu sedang duduk dengan sebuah syal yang melingkar di lehernya.


Gadis itu menoleh, lalu menatap Tia dengan seksama. Kali ini, Tia merasa ada kemiripan antara dirinya dengan gadis itu, yaitu di bagian mata.


Gadis itu juga memiliki bentuk mata yang sama dengannya, mata yang indah dengan bulu mata yang lentik alami. Namun bedanya, mata gadis itu tampak lebih besar akibat efek lingkaran hitam di sekitar bola matanya.


"Boleh saya tau nama kamu?" Tanya Tia, lagi.


"Su ... san." Sahutnya perlahan.


Susan?? Batin Tia.


"Kenapa kamu jadi sering muncul di mimpi saya?" Lanjut Tia yang tetap berdiri di tempatnya, agak jauh dari ranjang tempat gadis itu duduk.


Gadis itu tersenyum, lalu menunjuk kalung yang tengah Tia kenakan. Tia menunduk dan menunjukkan kalung di lehernya itu kepada di gadis.


"Maksud kamu, kalung ini?" Tanya Tia.


Gadis itu mengangguk.


"Kenapa? Kamu suka kalung ini? Atau ... ada hubungannya kamu sama kalung ini?" Cerocos Tia, menginterogasi.


Gadis itu tertegun, dari raut wajahnya yang pucat dan kurus itu tersirat kesedihan, dan tak lama kemudian ia menangis tanpa suara. Ia hanya meneteskan air mata di pipinya yang kurus.


Tia terhenyak, ia semakin tak mengerti. Ada hubungan apa gadis itu dengan kalung dari Rey.


Tia pun berinisiatif untuk kembali bertanya, "Apa kamu kenal Rey?"


Tak disangka, seketika itu juga raut wajah si gadis berubah marah. Sorot matanya seketika nanar menatap Tia, hingga membuat nyali Tia menciut dan melangkah mundur untuk menjauh.


Gadis itu perlahan berdiri dari ranjangnya, lalu dengan langkah yang diseret berusaha mendekat ke arah Tia.


Dia kenapa jadi marah ke gue?? Apa masalahnya?? Batin Tia, heran.


Langkah Tia semakin mundur dan menjauh, namun langkahnya terhenti akibat tertahan sebuah lemari besar.


Tia tampak panik dan berusaha bergeser untuk mencari celah agar bisa berlari, dan ... berhasil. Ia berlari secepat mungkin untuk menghindari gadis lemah yang tengah berusaha mengejarnya itu.


"AKU... BEN ... CI ....!!!" Teriak Susan itu dengan suara parau.


"Ti, bangun Ti!! Ini nasi campur pesenan kamu. Tia, ayo bangun!" Panggil Teguh yang tampak cemas melihat napas Tia tersengal-sengal, ia terus berusaha membangunkan rekannya itu.


"Eh, si Tia kenapa tuh??" Tanya Gugun yang baru datang dari musala kantor, sehabis menunaikan salat zuhur.


"Enggak tau gue! Gun, bantuin dong bangunin Tia!" Sahut Teguh, panik.


Gugun bergegas mendekat lalu membantu Teguh menegakkan tubuh Tia ke sandaran kursi, kemudian Gugun cepat mengambil sebuah gelas berisi air putih di atas meja.


Teguh memercikkan air itu beberapa kali ke wajah Tia namun tak juga berhasil, akhirnya Gugun dengan sompralnya menyuruh Teguh untuk mengguyur wajah Tia dengan air itu sekaligus.


"Udah guyurin aja ke mukanya, biar cepet sadar. Dicipretin doang kagak mempan kan?" Celetuk Gugun.


"Sembarangan! Kasian lah anak orang gue guyur, ekstrim banget saran lu!" Omel Teguh.


Teguh terus berusaha menyadarkan Tia dibantu oleh Gugun, mereka mengguncang-guncangkan tubuh Tia sampai memberikan aroma minyak angin ke penciuman Tia, dan akhirnya Tia berhasil sadar dengan napas yang memburu.


"Alhamdulillah ... akhirnya hidup lagi lu, Ti!!" Ucap Gugun, sompral.


"Kamu bikin kita kuatir aja, Ti. Kenapa sih tadi? Kamu mimpi?" Tegur Teguh.


Tia mengusap wajahnya yang sedikit basah, lalu menghela napas dalam-dalam. Ia melihat sekelilingnya, lalu berucap syukur karena sudah keluar dari situasi yang mencekam.


***