Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Cerita Kay


Kay pun mulai bercerita awal mula ia bertemu Yongki.


Flashback ON


Kay bertemu Igan di sebuah gerai penjual martabak, lalu meminta untuk berfoto bersama karena ia memang sangat mengidolakan sosok Igan.


Igan yang ramah dan tidak sombong pun mengiyakan permintaan Kay untuk foto bersama, namun Kay yang urakan tiba-tiba bersikap nyeleneh dan tak sopan saat bergaya bersama Igan.


Ia bergaya dengan mendekatkan bibirnya ke arah pipi Igan, seakan ingin mengecupnya. Sadar dengan kelakuan Kay, Igan pun menegur dan meminta Kay untuk segera menghapus foto tersebut.


Kay yang tahu kalau ia salah akhirnya meminta maaf dan menghapus foto itu di ponselnya. Ia pun bergegas pergi dari lokasi tersebut.


Sebelum sampai ke rumah dan sudah cukup jauh dari gerai martabak tadi, ternyata ia diikuti oleh mobil yang dikendarai Yongki. Ia beberapa kali membunyikan klakson mobilnya memberi tanda pada Kay untuk menoleh dan berhenti, namun Kay tak menggubris.


"Eh Mbak, tunggu!" seru Yongki dengan kepala menyembul dari pintu yang kacanya terbuka.


Kay berhenti lalu menoleh ke belakang.


"Mbak fans-nya Igan?" tanya Yongki saat sudah mendekat.


"Hmmm ... iya, emang kenapa Mas? Mas siapa?"


"Enggak apa-apa. Saya Yongki, saya juga artis lho! Pernah main film sama Igan. Saya liat ... kamu suka banget sama Igan, sampe kayak mau cium dia gitu tadi." ujar Yongki sambil tersenyum penuh selidik.


Kay membulatkan mata, "Mas liat??" pekiknya.


Yongki tersenyum penuh arti, "Mau kemana? Ayo saya anterin!" ujar Yongki menawarkan tumpangan.


"Euh? Ng-enggak usah Mas, saya mau pulang kok." tolak Kay, malu-malu.


"Udah enggak apa-apa, ayo naik! Daripada jalan kaki, capek!" bujuk Yongki.


Kay terdiam sejenak, seperti sedang berpikir.


Yongki akhirnya turun dari mobilnya dan mendekati Kay.


"Ayo, enggak usah takut! Ada yang mau saya bicarain juga sama kamu." Yongki tak berhenti membujuk.


Dahi Kay berkerut, "Bicara apa?" tanya Kay, penasaran.


"Masuk aja dulu, nanti saya bilang sambil jalan ke rumah kamu. Masih jauh enggak rumahnya?"


Kay mengulum senyum, "Jauh sih kalo jalan kaki." sahutnya.


Yongki tersenyum kemudian membukakan pintu mobilnya untuk Kay, tak lama kemudian mobil itu mulai merangkak meninggalkan lokasi.


"Nama kamu siapa?" tanya Yongki sembari menyetir.


"Kay." sahut Kay, singkat.


Yongki manggut-manggut.


"Oh iya, tadi Mas liat ya waktu saya foto sama Igan?" tanya Kay.


Yongki tersenyum tipis, "Iya, saya liat. Dia marah kan sama kamu?"


Kay meringis.


"Kamu habis darimana? Kerja?"


Kay menggeleng, "Enggak, lagi nganggur. Habis diberhentiin di tempat kerja, gara-gara ketauan lagi hamil." sahutnya, santai.


"Hah? Lagi hamil?"


Kay manggut-manggut, kehamilannya memang tidak kentara sebab masih termasuk hamil muda.


Ia membuka kotak berisi martabak yang baru saja ia beli. Aroma lezat langsung menyeruak ke seisi kabin mobil Yongki.


"Dede bayi di perut laper nih, Mas. Saya mau makan martabak. Mau?" ujar Kay.


"Oh, enggak-enggak, makasih. Buat kamu aja, biar dede bayinya kenyang." sahut Yongki tertawa kecil.


Kay tersenyum, ia mengambil sepotong martabak coklat keju yang masih agak panas lalu menyuap ke dalam mulutnya.


"Emang udah enggak panas?" tanya Yongki.


"Ma-hih!" suara Kay terdengar aneh saat menjawab dengan kondisi mulut yang berisi martabak.


Lagi-lagi Yongki tersenyum melihat Kay.


"Suami kamu lagi kerja? Makanya beli martabak sendirian?"


Kay terdiam, ia berhenti mengunyah lalu menoleh ke arah Yongki.


"Kenapa?" Yongki kembali bertanya.


Kay kembali mengunyah lalu menelan makanan yang belum halus benar itu dengan cepat.


"Saya enggak punya suami." sahut Kay.


"Udah meninggal?"


Kay menggeleng, "Saya lagi mabok sama temen-temen, terus ... ya gini deh hasilnya."


Ni cewek blak-blakan banget, enggak berusaha nutupin aib atau gimana gitu ke gue! padahal kan baru ketemu. batin Yongki.


"Ya tau sih, soalnya yang lagi mabok itu cuman ada 1 orang cowoknya. Yang lain cewek semua,"


Ngeri juga nih cewek, gaulnya sama temen cewek yang pada mabok-mabokan! pikir Yongki.


"Kok enggak minta tanggung jawab?" tanya Yongki.


"Dia enggak mau. Malah sekarang udah mati." sahut Kay sambil tersenyum getir.


Yongki terkejut, namun akal liciknya mulai melintas.


"Eh, saya boleh minta nomer HP kamu enggak?"


"Buat apa?"


"Saya ada rencana bagus, nanti kamu pasti dapet uang banyak kalo setuju."


"Rencana gimana sih?"


"Nanti saya kabarin, pokoknya saya minta nomer HP nya aja."


"Oh, oke." sahut Kay.


Yongki lanjut meminta Kay untuk memberikan arahan menuju rumahnya hingga akhirnya mereka pun tiba di rumah Kay.


"Kamu tinggal sama siapa? Kok kayaknya sepi banget?" tanya Yongki ketika sudah berada di depan rumah Kay.


"Tadinya sama abang, tapi ... dia lagi dipenjara gara-gara dituduh nikam cowok yang udah bikin saya jadi begini." sahut Kay sambil mengelus perutnya.


Waduh, keluarga apaan sih mereka? Yang cewek doyan mabok, yang cowok ngabisin nyawa orang! batinYongki.


"Hmm ... ya udah, nomer HP nya mana?" tagih Yongki seraya menyodorkan ponselnya.


"Oh iya lupa." Kay segera mengetikkan nomor ponselnya di ponsel milik Yongki.


"Oke, thank you. Nanti kalo udah siap, saya kabarin kamu." tegas Yongki, kemudian berpamitan.


Enggak sia-sia gue nguntit lu, Gan! Akhirnya gue nemu cara buat jatuhin karir lu! batin Yongki.


Flashback OFF


"Berarti semua udah direncanain mateng-mateng, buat ngejegal karir lu Bro!" seru Jio ketika sudah mendengar cerita dari Kay.


Igan mengangguk, lalu kembali menatap Kay dengan tajam.


"Sekarang pilihan ada di kamu, mau cabut pernyataan dan minta maaf secara terbuka di media atau masuk penjara??" tegas Igan.


"Tolong Mas, saya jangan dipenjara! Saya enggak mau anak ini lahir di penjara, saya enggak mau!!" seru Kay, histeris memohon pada Igan.


"Ya makanya kamu harus adakan klarifikasi di media, cabut pernyataan kamu dan minta maaf untuk bersihkan nama baik anak saya." timpal Bulan.


"Iya-iya, saya mau!" tegas Kay.


"Nak Jio, tolong siapkan segala sesuatunya untuk dia klarifikasi, undang media untuk meliput." pinta Bulan.


"Baik, Tante." sahut Jio, semangat.


"Untuk Om Bono sama Yongki, gimana Bun?" tanya Igan.


Bulan tersenyum, "Kamu pasti tau kan apa yang harus dilakukan?"


Igan tersenyum dan mengangguk.


Jio sibuk menelepon berbagai kantor media infotainment untuk mengabarkan rencana klarifikasi dari Kay untuk dilaksanakan beberapa jam lagi.


Mereka tak pulang dulu untuk memastikan Kay dan Oliver tidak mangkir dari kesepakatan yang sudah dibuat.


Jio juga sibuk mencari lokasi yang tepat untuk dijadikan tempat pertemuan mereka dengan para awak media yang diundang.


Untungnya, Jio banyak memiliki kenalan pengusaha restoran, kafe dan pemilik tempat yang cocok dijadikan lokasi konferensi pers, jadi tak sulit baginya mencari.


Igan menelepon Om Bono untuk mengundangnya datang ke kafe yang sudah ditentukan sebagai lokasi acara.


"Halo Om, maaf ganggu. Om ada waktu enggak? Saya mau ajak Om sama Yongki makan bareng di kafe Aloha." ucap Igan ketika panggilan teleponnya diterima.


"Mau apa lagi ngajak saya ketemu? Makan bareng segala, ada rencana apa kamu??" tukas Om Bono.


"Astagfirullah Om, jangan gitulah ... kita kan udah kenal lama, biar semuanya beres ... Saya juga enggak mau kita jadi tegang terus begini."


"Terus mau ngapain ajak Yongki segala??"


"Ya biar lebih kenal aja sama dia, secara ... dia kan jadi pengganti saya di labelnya Om."


Om Bono terdiam sejenak, ia jelas sedang berpikir sebelum menerima ajakan Igan.


"Saya telepon Yongki dan Ilona dulu."


"Ilona? Saya enggak ajak Lona, Om."


"Kalo kamu enggak mau Ilona ikut, jangan harap saya dan Yongki datang!" tegas Om Bono.


Igan terdiam, ia juga sedang berpikir keputusan apa yang harus diambil.


****