
Sebelum Igan dan Jio menggelar klarifikasi di depan media, ternyata pihak Om Bono, Ilona, dan Yongki sudah lebih dulu melakukan konferensi pers untuk mengumumkan secara resmi bergabungnya Yongki dengan perusahaannya untuk menggantikan posisi Igan.
Igan dan Jio melihat tayangan itu melalui streaming di ponsel saat sedang menuju lokasi pembuatan iklan produk yang akan dibintangi Igan.
"Sialan, kita keduluan! Mereka berasa kayak di atas angin tuh, kata-katanya menyudutkan lu banget Gan!" umpat Jio, emosi.
Igan tersenyum, "Biarin, Tuhan tau kok siapa yang bener - siapa yang salah." sahutnya, bijak.
"Ck, lu enggak seharusnya bijak disaat begini woy! Lawan mereka!"
"Ya kita enggak bisa grubak-grubuk dong, Bro! Lu kira kita lagi lawan Banteng? Kita nih lagi ngadepin orang-orang licik, jadi harus pake strategi."
"Iya juga sih."
"Lagian lu kan manajer gue, harusnya lu yang lebih wise lah ngadepin beginian. Jangan emosian, biar bisa mikir jernih."
"Iya-iya ...."
Setibanya di lokasi syuting iklan, Igan langsung bersiap untuk memulai tiap scene sesuai arahan.
Waktu berlalu dengan cepat hingga tak terasa sudah lewat waktu maghrib. Namun, hasil yang mereka dapat pun sesuai harapan.
"Keren, Gan! Kamu emang bisa diandalkan." puji sang sutradara iklan tersebut.
Igan tersenyum, "Makasih, Pak. Saya juga cuma ngikutin arahan sesuai di script kok." sahutnya, merendah.
"Saya heran, kenapa labelnya Bono sampe gantiin kamu sama penyanyi baru itu? Padahal ... saya lihat, kamu sangat kompeten dan multi talenta." imbuh sutradara itu.
"Ya ... penilaian orang pasti beda-beda, Pak."
"Tapi ... bukannya kamu sudah lama ada di label itu? kenapa tau-tau diganti?"
Igan dan Jio saling tatap, lalu dengan mantap Igan menjawab.
"Itu berawal dari urusan pribadi sih Pak sebenarnya, gara-gara hubungan saya sama Ilona bubar."
"Terus, hubungan sama dikeluarinnya kamu dari label itu apa?"
"Kan yang punya label itu Om-nya Ilona, Pak. Berhubung Igan sama ponakannya bubar, jadi ... hubungan kerja Igan di label itu juga dibubarin." seloroh Jio.
"Wah, enggak profesional banget! Tapi kamu enggak perlu khawatir, Gan. Nama kamu udah besar kok di dunia hiburan, jadi ... saya yakin, masih banyak yang mau kerja sama kamu."
"Insya Allah, Pak. Saya juga optimis begitu." sahut Igan dengan senyuman
Malam hari ketika perjalanan pulang dari lokasi syuting iklan, Igan melihat sebuah gerobak martabak di tepi jalan yang ia lalui.
Mendadak, pikirannya langsung tertuju pada Tia. Ya, gadis yang diam-diam sudah memikat hatinya itu kembali membayangi pelupuk matanya.
"Bro, mlipir dong. Gue mau beli martabak." celetuk Igan.
"Euh, tumben? Laper?" timpal Jio, meledek.
"Iya, sekalian gue mau beli buat temen."
"Temen? Pasti temen yang lu demen kan?" ledek Jio kemudian terkekeh.
Igan mengulum senyum, namun dalam hati ia membenarkan.
"Lu mau juga enggak?" tanya Igan ketika mobil Jio sudah menepi dan berhenti tak begitu jauh dari tukang martabak yang Igan maksud.
"Enggak usah, masih kenyang gue." sahut Jio sembari mengelus perutnya.
"Oh iya, kalo lu mau balik duluan enggak apa-apa deh, Bro. Gue mau mampir ke rumah temen gue juga soalnya." ujar Igan.
Jio justru senyum-senyum mendengar Igan 'mengusirnya' untuk pulang duluan.
"Enggak, gue pengin tau temen yang lu demen itu siapa. Ayo lah, entar gue drop lu di rumah tu cewek, abis tu gue baru balik. Entar lu baliknya minta jemput supir bokap lu aja."
"Ah, kepo juga lu ya?" timpal Igan terbahak.
"Ya iyalah, emang enggak boleh? Kan gue manajer lu."
"Ya udah deh, tapi jangan nikung ya?" ledek Igan.
"Ya-elah ... kuwatir banget! Enggak, gue entar nyari sendiri deh yang lain!"
Igan tertawa lagi, "Ya udah, tungguin ya? gue pesen martabak dulu." ujarnya kemudian keluar mobil dan mendekat ke penjual martabak itu.
Jio yang melihat hal itu langsung ikut keluar dari mobil dan menghampiri Igan.
"Hmmm ... maaf ya Mbak, Ibu, Adek, semuanya ... maaf, ini Mas Igannya jangan dikerubutin begitu ya ...!!
Bang, tolong cepet bikinin pesenannya, kita tunggu di mobil aja ya?" seru Jio berusaha mengurai massa yang antusias mengerubungi Igan, sembari berpesan pada si penjual martabak.
"Oh, iya-iya, Mas! Rame banget emang, takut gerobak saya kedorong-dorong juga nih!" sahut si penjual.
Jio dengan sigap menarik tangan Igan, menjauhi kerumunan.
"Stop ya, tolong jangan ngerubung begitu ... Kasian Mas Igannya lagi capek habis syuting dari pagi." tegas Jio dengan suara lantang.
"Iya Bu, Mbak, lagian entar gerobak saya jadi korban nih kalo sampe kedorong-dorong! Mending pada minggir dah, yang di sini yang mau beli dagangan saya aja!" imbuh si penjual martabak.
"Huuuu ... belagu amat sih! Baru dimintain foto bareng aja sombong!" celetuk salah seorang ibu bertubuh gemuk pada Igan.
"Iya, katanya artis terkenal tapi beli jajannya di pinggir jalan gini!" imbuh yang lain.
"Maklum ... katanya kan udah enggak jadi penyanyi di perusahaan rekaman yang terkenal itu, jadi otewe kere kali tuh ...." cibir yang lain juga.
Jio sangat geram mendengar cibiran dari orang-orang tersebut yang dilontarkan kepada Igan, ia pun berniat untuk melabrak mereka dan mengancam akan melaporkan mereka ke pihak berwajib.
"Eh, mau kemana lagi?" tanya Igan menahan Jio untuk kembali mendekat ke kerumunan itu.
"Gemes gue, pengin gue labrak terus gue ancam laporin polisi aja biar pada mingkem tuh mulut-mulut nyinyir!" tukas Jio.
"Udah ... ngapain ngelabrak mereka segala? Malah kayak emak-emak mau ngelabrak selingkuhan suaminya tau enggak lu?!" cegah Igan sambil terus memegangi tangan Jio.
"Tapi mereka keterlaluan banget tau mulutnya!" omel Jio.
"Biarin aja, mendingan masuk ke mobil." ajak Igan.
Jio terpaksa menuruti ajakan Igan lalu duduk diam di dalam mobil. Namun, ia tak tinggal diam ketika orang-orang itu mengarahkan kamera ponselnya ke arah mereka.
"Mau ngapain lagi mereka foto-fotoin kita? Pada bar-bar amat sih kelakuannya!" Jio tampak sangat geram.
"Lu video balik aja mereka, buat bukti kalo ada apa-apa." saran Igan.
Jio setuju, dan tanpa pikir panjang langsung membidikkan kamera ponsel pintarnya dan mengabadikan kerumunan orang yang mencibir Igan itu dengan rekaman video.
"Eh, kita di video-in tuh! Bubar aja lah, takutnya diperkarain." celetuk salah satu massa yang menyadari jika perbuatan mereka sedang direkam.
Bak semut kehabisan gula, kerumunan massa itu langsung membubarkan diri. Igan dan Jio pun bernapas lega, namun ... tak sepenuhnya lega. Karena bayang-bayang umpatan mereka itu terlanjur melekat di hati Igan.
"Lu enggak apa-apa, Gan?" tanya Jio sambil menatap Igan yang tampak murung.
Igan menggeleng pelan, "Baru kali ini gue dicibir orang, Bro." ujarnya, lirih.
"Sabar, ini ujian buat kita. Bukan cuma buat lu, Gan."
Mereka dikejutkan oleh ketukan di kaca mobil, ternyata martabak yang dipesan Igan sudah jadi.
"Mas, ini martabak keju spesialnya." ujar si penjual seraya menyodorkan tiga buah kotak martabak dengan aroma lezat di depan kaca pintu mobil.
Igan langsung mengambil selembar uang seratus ribuan dari dalam dompetnya.
"Nih kasihin ke Abang itu, kalo ada kembalinya biarin aja buat dia." ucap Igan pada Jio.
Jio mengangguk lalu membuka kaca pintu mobilnya, "Oh iya, ini Bang uangnya."
"Bentar ya Mas, saya ambilin kembaliannya." ujar si penjual seraya bergegas balik badan hendak mengambil uang kembalian.
"Eh-eh, Bang! Enggak usah, buat Abang aja kembalinya. Makasih ya?" seru Jio.
Si penjual balik badan, "Wah, enggak apa-apa emang Mas?"
"Enggak apa-apa, ambil aja."
"Makasih ya Mas?"
Jio tersenyum lalu mengacungkan ibu jarinya ke arah si penjual, kemudian perlahan mulai melajukan mobilnya meninggalkan lokasi itu.
****