Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Menjauh


Hingga menjelang tengah hari Rey tak kunjung kembali ke kantor, membuat para staf divisi yang dipimpinnya bertanya-tanya. Dalam hati Tia pun ikut bertanya-tanya, namun ada rasa senang karena tak harus berinteraksi langsung dengan Rey karena hatinya masih sangat kesal padanya.


"Ti, Pak Rey tumben ya ijin tapi enggak kasih kabar ke aku?" ujar Jeni yang merupakan wakil kepala divisi itu.


Tia menoleh namun hanya mengangkat bahu, tanpa berkomentar apa-apa.


"Iya Ti, lo kan yang lagi dideketin sama Pak Rey. Pasti lo tau kan dia kenapa?" imbuh Gugun.


"Kata siapa Pak Rey lagi deketin aku?" timpal Tia.


"Alaaah ... jangan pura-pura deh! Kita di ruangan ini semua tau, gelagat Pak Rey ke lo tuh beda, Ti. Gue yakin lo juga bisa ngerasain, tapi belagak pilon. Ya kan?" sahut Gugun.


"Tapi kalo soal dia kenapa hari ini, ya aku enggak tau!!" tegas Tia.


"Yakin??" desak Gugun.


"Lo apaan sih, Bang?? Gue bilang enggak tau ya enggak tau!!" tukas Tia sembari berdiri dan beranjak keluar dari ruang kerjanya. Ia tampak sangat kesal akibat dicecar pertanyaan oleh rekan-rekannya.


Jeni, Tami, Teguh dan Gugun semua melongo melihat sikap Tia yang mendadak berubah emosi.


"Lo sih Gun, nanya udah kayak penyidik ke tersangka aja lo!! Jadi ngambek kan dia!" celetuk Teguh sambil memukul pelan lengan Gugun.


"Ya ... gue kan cuma penasaran, masa iya Tia enggak tau Pak Rey kenapa? Kan Pak Rey lagi deketin dia, pasti cerita dong kalo ada apa-apa." elak Gugun, membela diri.


"Atau jangan-jangan ... mereka diem-diem udah jadian, terus sekarang lagi ribut? makanya jadi begitu?" celetuk Tami.


"Ya kali begitu! Emang mereka berdua bocah TK apa? Ribut soal pribadi terus jadi enggak profesional soal kerjaan?" timpal Jeni.


"Ya ... bisa aja kan, Jen? Coba deh kalo lagi dongkol sama laki lo, bawaannya sebel enggak kalo ketemu??" ujar Tami.


Jeni melirik Tami, "Iya juga sih." sahutnya dengan meringis.


"Sebenernya ... gue tadi juga mergokin Tia lagi ngetik surat pengunduran diri." celetuk Teguh.


"Hah??" seru Jeni, Tami, dan Gugun nyaris berbarengan dengan ekspresi wajah terperangah.


"Nah, fix deh tuh!! Mereka pasti lagi ada masalah!" tegas Tami, sangat yakin dengan pendapatnya.


"Udah-udah ... biarin aja dulu mereka, paling besok juga udah damai lagi. Yang penting kita harus tetep kerja." ucap Teguh, menengahi.


Sementara itu, Tia yang sedang kesal berjalan hendak menuju toilet. Namun saat melewati koridor, ia bertemu dengan Bintang, sang CEO.


Tia yang berjalan cepat dan menunduk itu nyaris menabrak Bintang, namun Bintang segera menyapa Tia hingga gadis manis itu mendongak dan menghentikan langkahnya.


"Tia, kamu mau kemana?" tanya Bintang, menyapa.


Tia mendongak dan tampak terkejut, "Hmmm ... saya mau ke ... toilet, Pak." sahutnya, gugup.


Bintang mengangguk, "Oh iya, apa Rey ada di ruangan?" tanya Bintang yang membuat Tia terhenyak.


Kenapa hari ini yang nanyain Rey selalu ke gue sih? rutuk Tia dalam hati.


"Tia?" tegur Bintang.


Tia tergagap, namun dengan cepat menguasai diri.


"Pak Rey ... hari ini tidak masuk kantor, Pak." jawab Tia.


Bintang mengernyitkan dahi, "Kenapa?"


"Saya kurang tahu, Pak Rey tidak kasih kabar ke staf divisi promosi."


Bintang terdiam, lalu menatap Tia diam-diam.


Anak gadisnya Taufan cantik juga ternyata, aku baru benar-benar memperhatikannya. Dia juga kelihatannya gadis yang pintar dan baik. Andai saja, Igan tidak buru-buru menjalin cinta dengan rekan duetnya itu .... batin Bintang.


"Hmmm ... saya permisi mau ke toilet dulu ya, Pak?" pamit Tia.


"Oh, iya-iya. Silakan." sahut Bintang mempersilakan.


Tia berjalan cepat menuju toilet, sedangkan Bintang berbalik untuk menuju ruang personalia.


Irwan sang kepala divisi personalia langsung membukakan pintu ruang kerjanya, begitu melihat sang CEO berdiri di depan pintu kaca ruangannya.


"Pak Bintang? Mari masuk, Pak." ucap Irwan, mempersilakan.


Bintang mengangguk kemudian melangkah masuk dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Irwan.


"Tumben Pak Bintang ke sini, ada apa Pak?" tanya Irwan.


"Oh, iya Pak. Dari daftar presensi yang saya lihat memang presensi Rey kosong, tapi saya belum dapat keterangan dari Rey dia kenapa. Ponselnya juga tidak aktif tadi saya hubungi." papar Irwan.


"Oh begitu? Ya sudah tidak apa-apa, nanti kalau memang ada kabar dari Rey tolong beritahu saya." pinta Bintang.


"Baik, Pak."


Suara ponsel bergetar di atas meja kerja Irwan tiba-tiba terdengar.


"Pak, ini Rey telepon saya." ujar Irwan saat melihat nama si penelepon.


"Ya sudah, angkat." perintah Bintang dengan tenang.


"Halo?" sapa Irwan.


"Halo Pak Irwan, maaf ganggu. Tadi berkali-kali telepon saya ya?"


"Iya. Anda kenapa, Pak Rey? Saya lihat dari daftar presensi, kehadiran Anda kosong."


"Tidak apa-apa, Pak. Saya cuma ... lagi pengin sendiri dan berpikir."


"Memangnya ada masalah apa, Pak? Kalau ada masalah tentang pekerjaan di kantor, Anda bisa sharing dengan saya."


"Bukan Pak, bukan masalah pekerjaan. Tapi ... saya sudah membuat sebuah keputusan dari hasil pemikiran saya sejak pagi tadi."


"Keputusan apa?"


"Saya memutuskan untuk ... resign dari kantor Erlangga, Pak."


Irwan terperangah, ia mengalihkan pandangan pada Bintang yang duduk di hadapannya.


Bintang memberi kode agar Irwan memberikan ponselnya pada Bintang, ia pun ingin bicara pada Rey.


"Halo, Rey? Ini saya, Bintang. Saya dengar kamu ingin resign, ada apa?"


Rey terhenyak, ia tak menyangka jika sang pemilik perusahaan juga sedang mendengarkannya bicara dengan Irwan.


"Hmmm ... Pak Bintang? Iya betul Pak, saya memang berniat untuk resign dari perusahaan Bapak."


"Ada apa? Apa kamu merasa tidak nyaman bekerja di sini? Kamu sudah cukup lama bekerja di sini Rey, saya kira kamu sudah kerasan bekerja di perusahaan ini."


"Bukan Pak, bukan karena saya tidak nyaman di perusahaan Erlangga. Saya pikir ... saya ingin berbisnis saja."


"Bisnis? Bisnis di bidang apa? Apa kamu ingin jadi rival bisnis saya nantinya?" tanya Bintang, tak serius.


Rey tertawa kecil, ia tahu jika sang CEO bukanlah orang yang seharusnya ia ajak bersaing atau pun ia curangi, karena Bintang sosok pemimpin yang sangat baik dan bijaksana terhadap siapapun.


"Tidak Pak, mana bisa saya menyaingi kerajaan bisnis Pak Bintang? Saya berencana untuk bisnis di bidang seni dan aksesoris."


"Wow, brilian sekali kamu! Nanti kita bisa ngobrol-ngobrol ya spesifiknya seperti apa, siapa tahu kita bisa kerja sama?"


"Baik-baik, Pak. Besok saya ke kantor untuk menyerahkan surat pengunduran diri saya, sekaligus pamitan."


"Euh, siapa bilang saya setuju kamu resign?" celetuk Bintang.


"Lho, kenapa tidak setuju Pak?"


Bintang terkekeh, "Temui saya dulu di kantor, saya ingin lihat apa kamu sudah siap jadi seorang pebisnis, oke?"


"Oh, Pak Bintang bisa saja. Baik Pak, besok saya akan temui Bapak di kantor. Selamat siang."


"Ya Rey, siang."


Percakapan via telepon pun berakhir, Bintang mengembalikan ponsel milik Irwan.


"Bagaimana Pak, Rey jadi resign?" tanya Irwan.


"Ya ... dia sih maunya begitu, mau bisnis saja katanya." sahut Bintang.


"Oh ... tapi, bisnis itu kan tidak gampang ya Pak?"


Bintang mengangguk, "Jelas, butuh kerja keras dan kegigihan disamping usaha yang maksimal dan doa yang tak pernah putus." sahutnya dengan tenang, jauh dari kesan sombong dan menggurui.


Irwan mengangguk setuju dan tersenyum bangga pada bos nya yang terkenal bijak itu.


****