
"Tia!!" panggil Rey di parkiran ketika Tia sudah melangkah hendak naik memasuki gedung kantor.
Tia berhenti melangkah dan menoleh, tampak Rey tengah berjalan cepat mendekatinya.
"Pagi Pak Rey?" sapa Tia sambil tersenyum tipis.
"Pagi juga. Gimana istirahat kamu semalam? Apa nenek itu datengin kamu lagi?"
"Oh, enggak kok Pak. Saya rasa ... beliau sudah tenang, malah beliau ucapin terima kasih ke saya waktu kita mau pulang." sahut Tia sembari tersenyum.
"Hah, serius kamu??" Rey terperangah.
Tia tersenyum dan mengangguk.
"Kamu enggak takut, Ti?"
Tia menggeleng, "Itu bukan pertama kalinya saya alami hal diluar nalar, Pak."
"Ka-kamu ... indigo??"
Tia mengangkat bahu, "Enggak tau, yang jelas ... saya sudah sering mengalami hal ganjil, termasuk hal ganjil tentang kalung ini." imbuh Tia seraya menunjukkan kalung dari Rey.
Rey mengercitkan dahi, "Hal ganjil apa?" tanya Rey.
Tia terdiam sejenak, ingin sekali ia langsung bertanya tentang keterkaitan Susan dengan kalung itu dan Rey, tapi akan butuh banyak waktu yang tersita sedangkan pagi itu mereka baru saja akan memulai aktivitas di kantor.
"Ceritanya nanti saja ya, Pak? Enggak bisa sekarang." tolak Tia, pelan.
"Kapan? Oh iya, jujur saya kecewa banget loh karena semalam kita gagal dinner."
Tia meringis, ia agak merasa bersalah karena ia harus menyampaikan amanat nenek Kinasih dulu hingga akhirnya mereka kemalaman dan batal makan malam bersama.
"Maaf ya Pak? Saya juga enggak tau bakal ketemu mendiang nenek Kinasih itu."
Rey tersenyum, "Ya sudah enggak apa-apa, tapi ... kalau diganti makan siang berdua, gimana?" ajaknya.
Tia agak terkejut karena tak menyangka jika atasannya itu tak habis akal untuk mengajaknya berduaan. Namun karena merasa tak enak, ia pun mengiyakan lalu berjalan bersama menuju ruang kerja mereka.
*
Siang hari pun tiba, Rey tampak sumringah karena ajakannya kali ini dinilai akan mulus tanpa kendala. Tia mengikuti Rey masuk ke dalam mobil untuk pergi makan siang bersama.
Ketika mobil Rey mulai memasuki pelataran sebuah restoran, Tia pun terperangah.
"Kita mau ngapain, Pak?" tanya Tia dengan polos.
"Ya makan lah, emang mau apa?" sahut Rey sambil tertawa kecil.
Tia masih terperangah, karena baginya terlalu mewah jika harus ke restoran se-mentereng itu hanya untuk makan siang. Tiba-tiba, dering telepon mengagetkannya.
"Udah ... yuk turun? kita masuk!" ajak Rey.
"Ya udah Pak Rey duluan aja, saya ada telepon." ucap Tia kemudian membuka tasnya untuk mengambil ponsel.
Rey mengangguk lalu turun dan berjalan lebih dulu, namun baru saja Tia menutup pintu mobil, seorang lelaki tiba-tiba mendekat ke arahnya lalu dengan sangat cepat merampas tas cangklong yang menjuntai di pundak Tia, sebelum ia sempat mengambil ponselnya dari tas.
Tia tak menyerah begitu saja, ia pun mengejar si penjambret sambil terus berteriak. Rey yang sudah berjalan lebih dulu hendak masuk ke dalam restoran pun menoleh dan segera ikut berlari mengejar penjambret itu.
Namun Tia jatuh terjerembab karena memaksa berlari dengan sepatu hak tingginya.
"ADUH!!!" pekik Tia.
Rey meminta tolong beberapa orang yang ada di sana, agar coba membantu mengejar penjambret itu dan menangkapnya, sedangkan Rey berbalik untuk menolong Tia yang mengaduh kesakitan sambil memegangi pergelangan kakinya.
"Tia, ayo saya gendong ke mobil." ujar Rey sambil bersiap untuk membopong tubuh Tia.
"Eh-eh, ng ... enggak usah Pak, saya bisa berdiri kok." tolak Tia dan berusaha untuk bangkit.
Rey membiarkan saja Tia berusaha namun ia tahu pasti itu tidak akan berhasil.
Benar saja, Tia kembali terjatuh sebelum tubuhnya benar-benar bisa bangkit. Suara mengaduh kembali terdengar dari mulutnya.
"Tuh kan, saya bilang juga apa? Sini saya bantu gendong kamu ke mobil. Bandel sih!" omel Rey lalu bergegas membopong Tia menuju mobilnya.
Tia menatap Rey yang dengan gagah membopongnya, lalu tersenyum sendiri saat ingat Rey mengomelinya tadi. Ia jadi merasa seperti anak kecil yang dimarahi oleh kakaknya.
Tia membuka kaca pintu mobil lalu bertanya, "Pak Rey mau kemana?"
"Saya mau kejar lagi jambret itu." sahut Rey.
Lalu Rey dengan cepat berlari menyusul orang-orang yang sedang mengejar penjambret itu dan setelah berjuang untuk mendapatkan kembali tas milik Tia, akhirnya penjambret itu berhasil dikepung dan dibekuk.
"Terima kasih ya Mas-Mas semua atas bantuannya." ucap Rey terengah-engah.
"Sama-sama, Pak." sahut salah seorang dari mereka.
Orang-orang itu pun akan mulai membubarkan diri, namun Rey mencegahnya. Ia tampak mengambil dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang dua puluh ribuan dan sepuluh ribuan, lalu dibagikan secara rata kepada orang-orang yang sudah membantunya membekuk si penjambret itu.
"Wah, enggak usah begini segala Pak. Kita ikhlas kok bantuin Bapak sama istri." tolak salah satu di antara mereka dan didukung yang lain.
"Enggak apa-apa, saya juga ikhlas kok ngasihnya. Tolong diterima ya? sedikit, sekedar buat beli minuman dan sebagai ucapan terima kasih dari saya, apalagi semuanya sampe keringetan gitu panas-panas ngejar jambret." bujuk Rey.
"Oh, ya udah Pak. Makasih ya? Ni jambretnya kita bawa ke pos polisi di depan sana aja ya, Pak?"
"Ya Mas, silakan. Minta tolong deh supaya dia diamankan, soalnya saya harus cari tukang urut." sahut Rey.
"Oh, istrinya keseleo Pak? Saya tau kok tukang urut yang bagus, namanya Abah Jalo, rumahnya di jalan Mujaer, persis depan sekolah TK Kasih Bunda. Coba aja kesana."
"Oke-oke, makasih banyak ya Mas infonya. Saya mau coba cari alamatnya. Permisi." pamit Rey dengan wajah sedikit lega karena ia bisa segera membawa Tia untuk menyembuhkan kakinya.
Rey bergegas kembali ke mobilnya, "Saya dapet info alamat tukang urut yang bagus buat kaki kamu, Ti." ujarnya antusias sambil menghidupkan mesin mobilnya.
"Euh? Dimana?" tanya Tia.
"Di jalan Mujaer, depan TK Kasih Bunda. Kita kesana sekarang ya?"
"Tapi nanti kita bisa telat loh Pak balik ke kantornya?"
"Nanti saya bilang ke Pak Irwan dan Jeni. Kalo ditunda, kaki kamu bisa bengkak."
"Biar saya naik taksi aja kesana sendiri, Pak Rey jadi bisa balik ke kantor."
"Enggak, kamu celaka begini kan waktu sama saya jadi kamu tanggung jawab saya." tegas Rey.
Diam-diam Tia menatap Rey, ada semburat kekaguman dari sorot matanya kepada lelaki itu.
Ternyata Pak Rey baik banget, dia sosok yang gentleman! puji Tia.
"Kenapa Ti? Kok ngeliatin saya terus?" tegur Rey yang tiba-tiba menoleh ke arah Tia dan memergoki gadis cantik itu tengah menatapnya.
Tia pun salah tingkah, ia gelagapan.
"Hmmm ... enggak Pak, enggak apa-apa." sahut Tia, meringis.
Rey tertawa kecil, "Kamu tau enggak tadi orang-orang itu bilang apa?"
"Euh, emang bilang apa Pak?"
"Kamu itu dikira istri saya, dan ... jujur saya suka sih. Semoga itu bisa jadi kenyataan." ucap Rey sembari tersenyum manis dan menatap Tia dengan lekat.
Tia kembali salah tingkah, entah kenapa tiba-tiba hatinya berdesir dan membuatnya mendadak tersipu malu.
"Kamu ... setuju enggak sama ucapan mereka?" tanya Rey.
"Euh?" Tia terperangah.
"Iya, kamu setuju enggak kalau kita beneran jadi suami istri?"
DEG !!!
Waduh, ini pernyataan cinta Pak Rey untuk kesekian kalinya ke gue, masa gue mau nolak dia terus?? Dia juga udah baik banget ke gue. Tapi ... nanti Kak Hendra setuju enggak ya kalo gue jadian sama Pak Rey? batin Tia berkecamuk.
"Tuh kan ... lagi-lagi kamu cuma diem kalo saya mulai bahas soal itu. Apa dimata kamu saya enggak ada baik-baiknya ya, Ti? sampe kamu susah banget buat nerima cinta saya?" ujar Rey, merajuk.
Tia tertegun, ia menatap Rey. Ada kesungguhan di sorot matanya. Namun, ia masih berat untuk bisa melupakan seseorang yang sudah lebih dulu mengisi relung hatinya.
***