
Mobil yang ditumpangi Rey dan Tia sudah memasuki halaman rumah berlantai dua tempat Rey bernaung. Setelah mobilnya terparkir aman, keduanya segera turun.
"Ayo Sayang, kita masuk?" ajak Rey.
Tia mengangguk kemudian berjalan di samping Rey, mereka pun masuk.
"Selamat datang Mbak Tia ...." ucap seorang wanita berusia enam puluh tahunan, menyapa dengan senyuman tulus.
Tia agak mengernyit, ia cukup terkejut karena wanita itu sudah tahu namanya. Namun dengan cepat ia menguasai situasi.
"Terima kasih ...." sahut Tia dengan santun.
"Ini Mbok Sarmi, asisten rumah yang sudah lama kerja di sini." ujar Rey, memperkenalkan.
"Oh, Mbok Sarmi ... Salam kenal, saya Tia." timpal Tia.
"Iya Mbak saya sudah tau, Pak Rey sudah bilang ke saya kalau akan mengajak calon istrinya makan siang kemari. Ternyata Mbak Tia lebih cantik dari is ...." Mbok Sarmi sontak berhenti bicara dan menutup mulutnya, sembari melirik ke arah Rey yang langsung berdehem dan menatap tajam ke arahnya.
Tia menangkap gelagat aneh dari Mbok Sarmi dan Rey, namun ia tak mau gegabah untuk langsung bertanya.
"Apa hidangannya sudah siap semua, Mbok?" tanya Rey, mengalihkan pembicaraan.
"Oh, sudah Pak. Mari silakan langsung ke ruang makan." ujar Mbok Sarmi mengarahkan Reya dan Tia untuk menuju ruang makan.
Setelah melayani keperluan makan majikan dan tamunya itu, Mbok Sarmi pun beranjak pergi.
"Yuk, kita langsung makan?" ajak Rey.
Tia mengangguk, ia pun melangkah beriringan dengan Rey. Selama ia berjalan menuju ruang makan, benaknya merasa terusik. Tia merasa tak asing dengan suasana rumah itu. Ia coba mengingat-ingat, namun belum menemukan jawaban.
"Sayang, duduk sini." ajak Rey seraya mempersilakan Tia duduk di kursi yang sudah ia sediakan.
Tia terkejut karena ternyata ia sudah berada di ruang makan.
"Oh, i-iya Pak." sahut Tia, gugup.
Rey menatap Tia penuh selidik, "Pak? Kenapa panggil saya 'Pak' lagi?" tanya Rey.
Tia terhenyak, "Oh, hmmm ... maaf, maksud saya ... Mas." ralatnya sembari meringis, salah tingkah.
Rey tersenyum tipis, lalu berusaha untuk mengabaikan.
Mereka pun menikmati hidangan yang tersaji di meja, semuanya terlihat lezat dan menggugah selera.
"Nanti habis makan, saya mau ajak kamu keliling rumah ini." ujar Rey.
Tia sontak berhenti mengunyah, ia menatap Rey dengan kelopak mata yang membulat.
"Kamu mau kan? Supaya nanti ... kalo kamu sudah jadi nyonya di rumah ini, kamu sudah hafal dan enggak bingung lagi." imbuh Rey, menjelaskan.
"Oh." sahut Tia, singkat sembari mengangguk.
Mereka melanjutkan makan siang sampai selesai. Tia tampak dengan tenang coba menelisik setiap detil ruangan itu,
"Kapan kita keliling rumah ini, Mas?" celetuk Tia.
"Kamu mau sekarang?" tanya Rey.
Tia mengangguk dengan mantap, Rey pun tersenyum.
"Ya sudah, yuk?" ajak Rey kemudian bangkit dari duduknya diikuti oleh Tia.
Gue ngerasa enggak asing sama suasana di rumah ini, tapi gue kenapa enggak inget ya kapan kesininya? pikir Tia.
"Kamu kenapa, Sayang? Kok kayak lagi mikir gitu?" tegur Rey yang ternyata memperhatikan Tia.
Tia menoleh cepat ke arah Rey, "Ng ... enggak kok, enggak apa-apa. Saya cuma pengin tau lebih banyak ruangan-ruangan yang ada di rumah ini. Hmmm ... Mas Rey sudah lama tinggal di sini?"
"Ya ... lumayan." sahut Rey sembari tersenyum menatap kekasihnya itu.
"Dulu ... Mas tinggal sama siapa di sini?" tanya Tia, mulai sedikit mencari tahu.
Rey terdiam untuk beberapa saat, ia menghela napas.
"Kita ke ruang sana, nanti saya ceritakan." ajak Rey sembari menggenggam tangan Tia menuju ke sebuah ruangan.
Rey membuka sebuah pintu ruangan yang sepertinya sengaja selalu ia kunci dari luar. Ruangan itu tampak gelap, karena lampunya sengaja tidak dinyalakan.
Rey melangkahkan kaki terlebih dahulu kemudian tangannya mengarah ke dinding di sebelah pintu, di mana terletak sebuah saklar untuk menyalakan dan mematikan lampu.
Rey menekan tombol saklar itu ke arah ON, seketika lampu pun menyala menerangi seisi ruangan yang lebih tepat disebut kamar itu.
Tia melangkah masuk tanpa diminta, ia merasa tertarik untuk segera mengetahui isi kamar tersebut.
Netranya tajam menelisik setiap sudut kamar tersebut, intuisinya sontak menerawang pada suatu dimensi yang tak terlihat.
Tia terjatuh lunglai, ia tak sadarkan diri. Rey sontak menangkap tubuh Tia sebelum membentur lantai.
"Tia, Tia, kamu kenapa, Sayang?? Sadar Tia, sadar!!" seru Rey sembari menepuk-nepuk pipi Tia dengan lembut.
Tia tak kunjung membuka mata, hingga mengharuskan Rey membopongnya ke ranjang yang ada di kamar tersebut.
Sementara itu, Tia seperti ditarik ke sebuah dimensi waktu yang telah lalu dan ia pernah mengalami hal itu sebelumnya.
Ketika Tia sedang melihat-lihat sekitarnya, tiba-tiba muncul sosok wanita yang sering hadir di alam bawah sadarnya. Wanita yang tampak seperti orang yang sedang sakit parah.
"Kenapa kamu berani ke sini? kenapa kamu bersama dia?" tanya sosok wanita tersebut dan menghardik Tia.
Tia terhenyak, ia mundur beberapa langkah menjauhi sosok wanita itu.
Wanita itu menyeringai, ia melangkah dengan sangat ringan berusaha mendekati Tia. Tia terus melangkah mundur, ia tahu sesuatu akan terjadi padanya.
Rey terus berusaha menyadarkan Tia dengan memberi aroma terapi dan meminta bantuan Mbok Sarmi.
Mbok Sarmi membalurkan minyak angin ke dahi dan telapak kaki Tia, berharap gadis itu dapat segera membuka matanya.
Benar saja, Tia akhirnya membuka mata. Ia lantas menatap Rey dan tersenyum.
"Sayang, syukurlah kamu sudah sadar. Kamu kenapa, kok tau-tau pingsan??" tanya Rey dengan lembut.
Tia bangkit dari pembaringannya dengan tetap menatap Rey, namun tatapannya berubah menjadi semakin tajam dan senyum yang membuat bulu kuduk Rey berdiri.
"Mbok, Tia ... ke-kenapa ya?? Kok aneh gini??" tanya Rey terbata, takut.
"Sa-saya juga enggak tau, Pak. Tapi ... kayaknya ... Mbak Tia ke ...." sahut Mbok Sarmi.
"Kak Rey, masih inget aku?" sebuah kalimat terucap dari bibir Tia.
Rey tersentak kaget, ia lantas menjauh dari posisi duduk yang awalnya berada di dekat Tia.
Mbok Sarmi dan Rey saling pandang penuh heran bercampur takut.
"Ti-Tia ... kamu Tia kan??" tanya Rey, ragu.
Tia tersenyum sambil menatap Rey tanpa berkedip sedikitpun.
"Pak, Mbak Tia kayaknya kesurupan deh!" ujar Mbok Sarmi, panik.
Rey menoleh ke arah Mbok Sarmi, "Mbok, jangan becanda. Saya lagi panik nih!" tukasnya.
Mbok Sarmi sontak terdiam, ia tak berani lagi banyak bicara.
"Kak Rey ... ini aku, Susan ...." kata-kata kembali diucapkan Tia, namun bukan Tia secara sadar.
Rey makin terperanjat, ia sontak berdiri dan menjauh dari Tia.
Tubuh Tia pun ikut bangkit dan mulai melangkah mendekati Rey, matanya tajam menatap pria berkaca mata itu.
"Kenapa kamu jadi takut begitu, Kak? Aku Susan, istrimu." ujar sosok Susan yang sedang menguasai raga Tia.
"Su-Su-Susan?? Kamu ... Tia, kamu jangan becanda Sayang!" seru Rey.
"Kenapa kamu kasih kalungku buat gadis ini, Kak?!" hardik Susan, tiba-tiba dengan tatapan nanar.
"Jadi ... kamu benar-benar Susan??"
"Apa kamu mau bukti kalo aku betul-betul Susan??"
Rey terdiam, ia tak tahu harus menjawab apa. Susan di dalam tubuh Tia pun mulai menyebutkan satu per satu hal yang hanya ia dan Rey ketahui selama mereka menikah dahulu.
Mendengar hal-hal tersebut, membuat Rey sontak menitikkan air mata. Ia tak sanggup menahan perasaannya yang campur aduk.
"Maafin aku, Susan. Aku ... enggak bermaksud membuat kamu jadi enggak selamat. Malam itu, aku lagi berusaha supaya bisa lolos dipromosikan jadi kepala bagian di perusahaan Erlangga. Aku benar-benar gila kerja sampai lupa kalau kamu butuh aku."
Bibir Tia tersenyum getir lalu dengan lantangnya ia berteriak, "BOHONG!!!"
"Aku enggak bohong, Susan."
"Aku tau, kamu udah enggak peduli lagi sama aku waktu itu gara-gara sakit yang makin parah! kamu udah bosen kan sama aku?!"
"Enggak Susan, enggak!"
"BOHONG!!"
"Enggak Susan!! Justru aku kasih kalung kamu untuk Tia supaya aku bisa terus ingat sama kamu, Aku lihat ada kemiripan antara kamu dan Tia, makanya aku ...."
"Makanya apa, Mas?" tanya Tia tiba-tiba.
Rey kembali terperanjat, ia heran.
"Kamu siapa?" tanya Rey.
"Saya Tia. Saya sudah dengar semuanya, Mas." sahut Tia.
"Kamu jangan bohong Susan, kamu jangan permainkan saya!"
"Saya Tia, Mas! Susan sudah pergi, urusannya sudah selesai di sini. Sekarang, tinggal urusan kita."
"Kenapa bisa begitu?? Tadi kamu bicara seolah-olah kamu dirasuki oleh mendiang istri saya, tapi sekarang kamu bicara seolah sadar penuh dan dengar semua omongan saya dan Susan tadi. Saya enggak habis pikir, kalo saya ternyata jadian dengan gadis aneh!!"
"Anda menyesal?? Apalagi saya!! Saya enggak mau menjalin hubungan sama laki-laki yang cuma memandang saya karena ada bayang-bayang masa lalunya. Silakan Anda nikahi masa lalu Anda itu, saya permisi."
Tia melangkah pergi dengan langkah cepat dan menghentak, sedangkan Rey dan Mbok Sarmi hanya terdiam.
Rey menghantamkan pukulan ke ruang hampa, ia menyesali semuanya. Ia menyesal karena tak pedulikan Susan yang di saat-saat kritisnya berusaha menghubungi dirinya, namun ia abaikan karena sedang mengejar target supaya bisa dipromosikan di kantor.
Saat itu Mbok Sarmi tak mengetahui kondisi Susan karena Mbok Sarmi sedang izin pulang kampung.
Hanya ada Susan seorang di dalam rumah besar itu hingga ajal menjemputnya di kamar tersebut.
Rey mengetahui kondisi sang istri yang sudah tak selamat itu ketika ia baru pulang pada tengah malam. Rey memang sudah merasa lelah mendampingi sang istri yang semakin hari semakin parah sakitnya, dan itu justru akibat perhatian dari suaminya yang semakin berkurang.
Maafin aku Susan, maafin aku .... batin Rey sambil menitikkan air mata.
****