Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Like Father Like Son


Keesokan paginya, Bintang dan Bulan sudah duduk di ruang makan menunggu sang putra untuk sarapan bersama.


"Mbak, tolong panggilin Mas Igan ya? Bilang sudah ditunggu sarapan." Pinta Bulan pada Erni, salah satu asisten rumah tangganya.


"Baik Bu." Sahutnya seraya beranjak menuju kamar majikan mudanya.


Erni mengetuk pintu kamar Igan tiga kali sambil memanggil namanya.


"Mas Igan, ditunggu di ruang makan Mas. Bapak sama Ibu sudah menunggu." Seru Erni.


Tak lama pintu pun terbuka, tampak lah Igan yang sudah sangat rapi dan wangi.


"Iya, ini saya juga mau sarapan." Timpal Igan.


"Sudah rapi banget Mas? Mau ke mana?" Tanya Erni.


"Ada pemotretan pagi ini. Ya udah Mbak, saya sarapan dulu ya? takut telat."


"Oh iya-iya Mas, silakan."


Igan beranjak menemui kedua orang tuanya yang sudah menunggu untuk makan pagi bersama.


"Igan, ayo Nak kita sarapan. Wah wangi banget anak Bunda. Mau ke mana?" Ujar Bulan ketika melihat sang putra sudah mendekat.


"Pagi ini ada schedule pemotretan Bun, makanya Igan udah rapi." Sahut Igan.


Bintang menoleh ke arah sang putra.


"Habis pemotretan, pulang?" Tanya Bintang tampak serius.


Igan dan Bulan sontak menoleh ke arah Bintang dengan tatapan heran.


Ayah pagi-pagi udah serius banget gitu mukanya . Batin Igan sembari menatap ayahnya.


"Hmmm ... enggak Yah, masih ada kegiatan lainnya sampe malam." Sahut Igan santai sambil mulai mengunyah suapan pertamanya pagi itu.


"Tapi kamu pulang ke sini lagi kan Nak? Bunda masih kangen lo, masa udah mau ditinggal lagi?" Tanya Bulan penuh harap.


"Malam nanti Igan pulang ke sini kok Bun, tapi ... mulai besok Igan pulang ke apartemen Bunda lagi, soalnya kalo Igan tiap hari pulang ke sini capek di jalan."


Bulan menghela napas, ia tampak sedih. Igan melihat sang bunda yang bersedih pun segera menghiburnya.


"Tapi Igan usahakan pulang ke sini kok Bun, kalo enggak ada jadwal ke luar kota. Lagian kan udah enggak mikirin bolak-balik ke kampus sekarang."


"Mendingan kamu ikuti jejak ayah Nak, punya jam kerja yang teratur." Celetuk Bintang.


Igan terdiam sejenak, ia menatap ayahnya lalu menghela napas.


"Igan belum bisa, maaf ya Yah? Igan masih enjoy sama aktivitas sekarang." Tolaknya dengan lembut.


Igan melihat arloji hitam di pergelangan tangannya, lalu mempercepat untuk menghabiskan sarapannya.


"Yah, Bun, Igan berangkat dulu. Doain Igan ya?" Pamitnya seraya mencium punggung tangan ayah dan bundanya.


"Hati-hati ya Nak?" Ucap Bulan sambil mengelus kepala Igan.


"Iya Bun." Sahutnya.


"Hati-hati Nak, jangan lupa pikirkan lagi yang ayah bilang tadi." Pesan Bintang pada sang putra.


Igan mengangguk dan tersenyum. Ia langsung mengambil tas dan kunci mobil yang sudah ia siapkan, kemudian beranjak keluar rumah ditemani ayah dan bundanya.


"Assalamu'alaikum ...." Igan mengucap salam seraya melambaikan tangannya.


"Wa'alaikum salam ...." Sahut Bulan dan Bintang bersamaan.


Dipandanginya mobil berwarna hitam yang perlahan namun pasti mulai merangkak meninggalkan halaman rumah megah itu.


Bulan melirik sang suami yang tampak ada beban disorot matanya, ia memahami kegelisahan hati suaminya namun ia juga tidak mau menjadi penghambat karir sang putra.


Tiba-tiba Bulan menoleh kesana-kemari seperti sedang mencari sesuatu hingga menarik perhatian suaminya.


"Bun, lagi ngapain? Nyariin apa?" Tanya Bintang, penasaran.


"Iya, nyari apa?"


"Nyariin senyumnya Ayah, pagi ini kok belum keliatan sih?"


Raut wajah Bintang yang semula serius perlahan mulai berubah, senyuman tipis pun tampak di wajah tampannya.


"Nah, ketemu!" Seru Bulan seraya tersenyum dan menatap suaminya yang nampak tersipu.


"Apaan sih Bun?! Kayak ABG aja." Elak Bintang malu-malu.


"Habisnya Ayah pagi-pagi mukanya kenceng banget gitu, serem tau!"


"Ayah bingung Bun."


"Bingung kenapa Yah?"


"Igan itu lo ... kenapa sih dia susah banget disuruh mulai mengenal dunia bisnis?"


Bulan tahu arah pembicaraan suaminya. Ia menggandeng lengan Bintang lalu menuntunnya duduk di taman.


"Ayah kan tau kalo Igan memang suka dunia musik dari kecil. Ayah juga mendukung kan? Bunda juga liat lo gimana bangganya Ayah waktu liat Igan jadi runner up di kontes nyanyi itu." Ujar Bulan dengan lembut, coba menenangkan suaminya.


"Iya sih Bun, ayah memang bangga sekali sama anak kita tapi masalahnya gimana nasib perusahaan Erlangga kalo enggak ada penerusnya?"


"Ya ... bukan enggak ada penerusnya Yah, tapi belum siap. Suatu saat nanti Bunda yakin kok Igan mau gantiin posisi Ayah di kantor."


"Suatu saatnya itu kapan Bun? Ayah takut kalo denger kata-kata 'suatu saat' , kesannya kok lama ... banget. Ayah kan makin tua Bun."


Bulan tersenyum lalu menggenggam erat tangan pria yang sudah lebih dari dua dekade mendampingi hidupnya itu.


"Sabar Yah ... Igan itu punya passion sendiri di hidupnya, kita enggak bisa terlalu maksain kehendak kita lo. Kalopun kita mau mengarahkan dia untuk jadi pewaris di perusahaan ya jangan pake cara yang bikin dia makin enggak mau."


"Ya terus gimana caranya?"


"Berdoa aja, biar Tuhan yang nanti tunjukkin jalannya. Oke?"


"Huff ... lagian itu anak keras kepala juga ya ternyata." Gerutu Bintang.


"Like father like son , iya kan?" Timpal Bulan sambil menatap pada Bintang, penuh arti.


"Ah Bunda, malah ngeledek." Ujar Bintang seraya mendaratkan sebuah cubitan lembut di pipi Bulan.


Bulan pun tertawa, ia merasa lega karena telah berhasil membuat suaminya sedikit lebih tenang.


"Ya udah yuk siap-siap ke kantor?"


"Iya Yah, sebentar Bunda ambil tas dulu."


Bulan bergegas masuk lalu mengambil tas kerjanya sekaligus mengambilkan tas milik suaminya yang sudah ia taruh di meja, kemudian kembali keluar menemui Bintang yang menunggunya di taman.


"Makasih ya Sayang? Yuk berangkat?" Ajak Bintang seraya menggandeng tangan istrinya.


Bulan mengangguk dan tersenyum lalu melangkah mendekat ke arah mobil putih yang sedang dilap oleh Pak Hendro, sang supir.


"Belum selesai Ndro?" Tanya Bintang.


"Oh, sudah kok Pak. Berangkat sekarang Pak?" Tanya Pak Hendro.


"Iya."


Pak Hendro bergegas membukakan pintu untuk kedua majikannya itu. Setelah keduanya duduk manis di dalam mobil, ia pun segera masuk ke dalam ruang kemudi dan mulai mengendarai mobil menuju kantor Bulan terlebih dahulu, baru kemudian mengantarkan Bintang ke kantor dan standby di sana.


Rumah megah itu kembali sepi saat hari kerja, hanya ada petugas keamanan yang berjaga dan para asisten rumah tangga yang disibukkan dengan tanggung jawab masing-masing.


Dulu sewaktu Igan masih bayi, rumah itu terasa lebih berwarna dan ceria. Tangis dan tawanya seakan menjadi alunan suara yang menjadikan suasana rumah menjadi lebih hidup.


Para asisten rumah pun bahu membahu membantu mengurus keperluan Igan kecil, namun sayang mereka tidak bisa terus bekerja di sana karena faktor usia. Satu per satu dari mereka mengundurkan diri karena sudah merasa tak sanggup secara tenaga.


Bulan dan Bintang meminta mereka merekomendasikan kerabat untuk melanjutkan pekerjaan mereka di sana, karena Bulan dan Bintang sudah merasa cocok dengan para asisten tersebut dan menganggap mereka seperti saudara.


***