Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Permintaan


Waktu terus berlalu, rutinitas Igan pun semakin padat. Selain syuting, ia juga selalu datang ke kantor ayahnya untuk langsung menimba ilmu mengenai seluk beluk perusahaan dan bagaimana menjadi pemimpin yang baik.


Bintang merasa sangat lega karena sang putra tunggal yang merupakan calon pewaris kerajaan bisnisnya sudah mau untuk belajar dunia bisnis, sesuai harapannya.


Igan yang cerdas dapat dengan cepat menyerap ilmu yang diajarkan oleh sang ayah. Bintang pun optimis jika sang putra mampu mempertahankan kejayaan perusahaannya, bahkan mungkin bisa lebih maju.


"Yah, Igan mau mulai magang ya?" celetuk Igan pada sang ayah, saat makan siang bersama di ruang kerja sang ayah.


Bintang berhenti mengunyah, kedua alisnya terangkat berbarengan dengan mata yang membelalak.


"Kenapa magang?" tanya Bintang, lalu kembali mengunyah.


"Ya ... kan Igan harus mulai dari awal, Yah."


"Ya tapi enggak harus dari awal juga, Nak. Kamu kan anak ayah, pewaris tunggal. Masa magang di perusahaan sendiri?"


"Tapi Igan mau ngerasain kerja jadi staf kantor dulu Yah ... supaya Igan tau, gimana jadi seorang pemimpin yang baik dan bijak. Igan harus ngerasain dulu posisi di bawah tu kayak apa ...."


Bintang terdiam, ia menghela napas dalam-dalam kemudian tersenyum.


"Tapi personil divisi di sini udah lengkap semua, Nak. Kamu mau masuk jadi staf di bagian apa coba??"


Igan terdiam sejenak, sebetulnya Igan ingin mengutarakan kalau ia tertarik berada di divisi promosi karena basic Igan yang seorang public figure, sering menjadi andalan sponsor untuk mempromosikan produk-produk endorsement. Namun ia takut dikira, keinginannya itu semata-mata karena di divisi itu ada Tia.


Bintang terdiam sejenak, kemudian dengan bergegas ia memanggil Pak Irwan, kepala divisi HRD.


"Pak Irwan, tolong segera ke ruangan saya." pinta Bintang via telepon.


"Baik, Pak." sahut Pak Irwan.


Tak sampai lima menit, Pak Irwan sudah berada di ambang pintu lalu mengetuk sebelum masuk.


"Selamat siang, Pak. Ada apa Pak Bintang memanggil saya?" tanya Pak Irwan ketika sudah duduk berhadapan dengan Bintang.


"Begini, saya minta tolong cek data karyawan di kantor ini. Saya mau tau, apakah tiap divisinya sudah lengkap dan cukup personilnya?" titah sang CEO dengan gayanya yang kharismatik.


"Hmmm ... seingat saya, cuma divisi promosi yang masih kurang satu personil, setelah Pak Rey resign waktu itu." sahut Pak Irwan.


Bintang langsung menjentikkan jari dan tampak bersemangat.


"Ah, itu dia! Saya baru ingat! Untung saya belum membuka lowongan kerja baru untuk divisi itu, karena saya pikir ... divisi itu tetap bisa lancar walau kurang satu personil." ujar Bintang.


"Maaf Pak, kalau boleh tau ... memang untuk apa Bapak tanyakan soal itu?" tanya Pak Irwan.


"Untuk Dirgantara, putra saya." sahut Bintang dengan bangganya melirik ke arah sang putra yang duduk menyimak di sofa.


Pak Irwan lantas menoleh ke arah Igan namun tatapannya penuh tanda tanya.


"Buat Mas Igan, Pak? Maksudnya Mas Igan mau menggantikan posisi Jeni, jadi Kadiv promosi?" tanya Pak Irwan, bingung.


"No! Bukan ... bukan. Justru Igan mau saya masukkan sebagai staf di sana. Jeni tetap jadi Kadiv, dan Teguh wakilnya. Bagaimana??" ujar Bintang, bersemangat.


Alis Pak Irwan terangkat, ia masih tak percaya dengan apa yang Bintang sampaikan.


"Mas Igan jadi staf, Pak? Enggak salah??" celetuk Pak Irwan.


"Memangnya kenapa Pak kalau saya jadi staf di sini? Enggak boleh ya?" sahut Igan sambil tersenyum.


"Bu-bukan gitu, Mas. Tapi kok aneh aja saya dengernya. Anak pemilik perusahaan malah jadi staf biasa di kantor papanya?!"


"Saya yang mau kok, Pak. Sebelum jadi seorang atasan, saya harus ngerasain jadi bawahan supaya nanti kalau memimpin enggak jumawa." tegas Igan.


Bintang tersenyum bangga mendengar penjelasan sang putra, "Tuh, sudah tau kan alasannya?"


Pak Irwan mengangguk kemudian tersenyu.m.


"Ya sudah, sekarang saya minta Pak Irwan buatkan surat tugas resmi untuk Dirgantara bergabung di divisi promosi." titah sang CEO.


"Baik Pak, segera saya buatkan. Kalau begitu ... saya permisi."


Baru saja Pak Irwan berdiri dan hendak beranjak, namun Igan memanggilnya kembali.


"Hmmm ... Pak, tunggu dulu!" cegah Igan.


Pak Irwan menoleh, "Ada apa, Mas? Ada lagi yang harus saya kerjakan?"


"Enggak ... saya cuma minta tolong, jangan bilang-bilang dulu ke staf. Saya enggak mau jadi geger, oke?" pinta Igan.


"Hmmm ... kayaknya itu aja sih, Pak. Terima kasih ya?"


"Baik kalau begitu, saya permisi kembali ke ruangan sekarang ya Pak, Mas?"


Bintang dan Igan kompak mengangguk dan menebar senyum, mengiringi Pak Irwan beranjak keluar dari ruangan tersebut.


"Makasih ya, Yah?" ucap Igan, sumringah.


"Iya ... Tapi kamu harus janji sama ayah, kerja yang giat dan jangan sering bolos. Kalo enggak ... nanti gajinya ayah potong!" pesan Bintang sembari berkelakar.


Mendengar ucapan ayahnya membuat Igan tergelak, "Nah ... kebiasaan potong gaji itu masih harus diterapkan enggak, Yah?" tanya Igan.


"Iya dong, tapi khusus staf yang bandel. Tapi syukur alhamdulillah, semua staf ayah di sini enggak ada yang bandel." sahut Bintang kemudian terkekeh.


"Terus mulai kapan nih Yah Igan bisa masuk jadi staf promosi? Udah enggak sabar nih!"


"Ya nanti dong Nak ... tunggu surat dari Pak Irwan. Dia juga paling baru duduk di kursinya."


Igan senyum-senyum, hal itu memancing rasa ingim tahu ayahnya.


"Kamu kok keliatan seneng banget gitu sampe senyum-senyum sendiri?"


Igan terhenyak, ia tak menyangka jika sang ayah memperhatikan.


"Enggak apa-apa kok, Yah. Igan seneng aja bisa gabung di perusahaan ayah, di bagian promosi lagi."


"Kenapa, karena ada Tia ya?" goda Bintang.


Wajah Igan sontak merona, ia tak dapat menyembunyikan rasa malu di hadapan sang ayah.


"Apaan sih Yah? Bidang itu enggak asing buat Igan, kan Igan juga sering promosiin produk endorse-an." sahut Igan, mengelak.


"Oh ... begitu ...?"


Lagi-lagi Bintang menatap mata sang putra, coba menelisik perasaannya. Ia dapat menangkap dengan jelas aura bahagia dari anaknya ketika ada nama Tia terucap.


"Nak, jujur sama ayah. Kamu sebetulnya ada rasa atau enggak sama Tia?" tanya Bintang yang mendadak serius.


"Kok ayah tanya begitu?"


"Ayah cuma mau memastikan. Yang ayah liat, kamu itu kayak ada ketertarikan sama gadis itu, apa ayah salah?"


"Hmmm ... enggak sih, ayah memang bener. Igan memang tertarik sama Tia dari awal ketemu, Yah."


"Kok bisa??"


"Iya, Igan kagum aja. Awal ketemu memang enggak di situasi yang enak, tapi Igan tau alasan dia sampe harus buru-buru nyetir motornya."


"Gimana ceritanya?"


"Ya ... jadi waktu itu, Tia naik motornya agak ngebut gitu Yah. Akhirnya nyenggol mobil Igan, terus dia jatuh. Ternyata, dia habis dari apotik beli obat buat ayahnya yang lagi sakit."


Berarti kamu ketemu Tia sebelum Taufan, sahabat ayah itu meninggal, Nak. batin Bintang.


"Ya ... dia itu kan anaknya sahabat ayah. Waktu ayahnya Tia meninggal, ayah juga datang melayat. Tapi ayah enggak tau kalau kamu ternyata sudah ketemu Tia."


"Memangnya ... kalau ayah sudah tau, ayah mau ajak Igan juga ke rumahnya?" ledek Igan.


"Ya mestinya begitu."


"Artinya ... ayah beneran setuju kan kalau Igan deket sama Tia?"


Bintang tersenyum dan memberi isyarat lewat kedua alisnya yang naik turun dua kali.


"Yess!! Makasih ayah ...." seru Igan, senang.


"Eits, nanti dulu! Kamu harus buktikan ke ayah kalau kamu sudah mampu jadi penerus perusahaan ayah. Baru kamu boleh lanjut ke tahap yang lebih serius."


"Oke-oke, Igan bakal berusaha maksimal, Yah!"


Bintang tersenyum dan menatap sang putra yang tampak sumringah itu.


Senyum bahagia kamu itu adalah harta paling berharga, Nak. batin Bintang.


****