
Ponsel Tia berbunyi satu kali karena adanya notifikasi update berita dari salah satu kanal berita online di ponselnya. Tia melirik ponsel sembari mengunyah makanannya di kantin kantor.
Artis pendatang baru bernama Yongki digaet sebagai penyanyi di label musik milik Subono, menggantikan Dirgantara?? batin Tia membaca headline berita yang terpampang di layar ponselnya, alisnya berkerut dan wajahnya tampak sangat serius membaca berita itu. Ia lantas membuka kanal berita tersebut.
Matanya fokus membaca tiap larik tulisan yang terpampang hingga tuntas, sampai-sampai ritual makan siang di jam istirahatnya itu harus tertunda sejenak.
"Hei, ngapain sih Ti serius banget mukanya? Emang ada berita apa?" tanya Teguh yang baru datang.
Tia sontak menoleh, ia terkejut.
"Eh, Mas Teguh? Ini, ada beritanya Mas Igan. Katanya posisinya digantiin sama penyanyi pendatang baru yang namanya Yongki." sahut Tia.
"Oh ...." timpal Teguh, cuek sembari duduk di sebelah Tia. Ia memang tak tertarik pada berita mengenai artis-artis, walaupun Igan adalah putra tunggal pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
Tia kembali melihat layar ponselnya untuk lanjut membaca di baris terakhir. Tak lama kemudian, kembali muncul sebuah notifikasi dari kanal berita serupa namun dengan judul berita duka.
Tak pikir panjang, Tia langsung membuka kanal berita itu. Matanya membelalak, jantungnya berdegup lebih cepat ketika membacanya.
Kabar duka datang dari seorang artis pendatang baru, Yongki Fernandez. Ibunda tercinta, Maya Puspita berpulang karena serangan jantung dini hari tadi. Yongki didampingi Subono selaku pemilik label tempat Yongki baru saja bergabung, memberi keterangan bahwa mendiang akan dikebumikan sore nanti.
"Berarti, mimpi gue semalam ...??" gumam Tia.
Teguh menoleh ke arah Tia, "Kenapa, Ti?" tanya Teguh, heran.
"I-ini, Mas. Berita ini ...." sahut Tia, tergagap sembari menunjukkan berita yang masih terpampang di layar ponselnya.
Teguh memegang ponsel Tia dan membaca berita tersebut. Tatapannya fokus menelaah kalimat demi kalimat yang tertera sampai selesai.
Teguh mengembalikan ponsel Tia, lalu ia menatap rekannya itu dengan penasaran.
"Emangnya ... kamu kenal sama mereka, Ti? Kok kamu keliatan shock banget gitu?" tanya Teguh.
"Aku kemarin malam ketemu mereka dan sempet ngobrol, Mas." sahut Tia dengan suara agak bergetar.
"Ketemu mereka? Maksudnya ... si artis itu sama ibunya?"
Tia mengangguk, "Iya, ketemu Yongki sama Bu Maya, maminya." sahut Tia dengan tatapan menerawang, seperti sedang terbayang pertemuan itu.
"Kalian ... ada hubungan sodara?"
Tia menggeleng, ia coba menahan diri agar tak membahas masa lalu keluarganya yang sempat kacau akibat ulah Maya.
"Cuma kebetulan kok aku sempet kenal sama beliau." ucap Tia.
"Oh, ya udah lah ngapain dipikirin banget? Mending kamu habisin aja tuh makan siangnya, entar keburu waktu istirahatnya bablas lho!" tegur Teguh.
"Euh, iya. Lha Mas Teguh juga, kok baru mau makan?"
"Iya ... tadi kan waktu mau keluar makan siang diajakin Jeni ke ruangan HRD."
Tia membulatkan mata, "Ngapain?"
Teguh hanya tersenyum penuh arti.
"Ih ... Mas Teguh, ditanyain kok nyengir doang? Ngapain ke HRD tadi?"
"Udah ... jangan kepo, nanti juga kamu tau. Makan yuk? Tuh makananku juga dateng."
Tia cemberut, namun tetap melanjutkan makannya. Teguh melirik rekannya itu kemudian tersenyum.
Sepulang kerja ...
"Kak, udah tau belum kalo Bu Maya meninggal?" celetuk Tia pada sang kakak yang sedang menyeruput kopi, sebagai bekalnya tugas malam.
Hendra nyaris tersedak mendengar ucapan Tia, ia menoleh ke arah sang adik dengan tatapan kesal.
"Kamu tuh, Dek! Kakak hampir keselek tau." omel Hendra.
Tia meringis, "Sori ... sori ...!!" ucap Tia, cengengesan.
"Hmmm ... kamu kata siapa kalo dia meninggal?" tanya Hendra.
Dahi Hendra mengerut, "Masuk ke berita segala? Emang dia siapa?" tanya Hendra, mencibir.
"Ish, Kak Hendra nih nyinyir amat sih? Orangnya udah meninggal lho, Kak!" tegur Tia.
Hendra cuek saja sambil mengangkat gelas, lalu kembali menyeruput kopinya yang masih panas.
"Yongki kan udah jadi artis, apalagi sekarang dia digaet sama perusahaan rekaman buat gantiin Mas Igan." tutur Tia.
"Kata siapa?" tanya Hendra, cuek.
"Kata berita. Aku baca beritanya di kanal online juga tadi siang."
"Ah, kamu tuh kebanyakan baca berita selebritis. Bisa aja itu hoax, cuma buat ngangkat nama anaknya si Maya itu." tukas Hendra.
"Ya ... aku sih enggak tau tujuannya apa, cuma ... kalo beneran, aku kasian sama Mas Igan."
Hendra menatap sang adik yang tampak masih termenung, karena Igan digantikan oleh Yongki di perusahaan rekaman bonafide yang sudah membesarkan namanya.
"Kamu ... naksir sama Mas Igan ya, Dek?" tanya Hendra, meledek.
Wajah Tia sontak merona, ia tak dapat menyembunyikan rasa malu yang menyergap.
"Hayo ... bener kan kamu suka sama Mas Igan?" Hendra makin gencar meledek adiknya itu.
"Hmmm ... aku ngefans Kak sama Mas Igan, wajar kan?" sahut Tia dengan tersipu.
Hendra tertawa, "Tapi kalo kakak liat sih, kamu bukan sekedar ngefans Dek. Kamu itu ...." ujar Hendra.
"Ssstt ... udah ah, Kak. Kenapa jadi ngeledekin aku sih?" protes Tia, merajuk.
Hendra tertawa puas melihat adiknya memajukan bibirnya, cemberut.
Sementara itu, di kediaman Erlangga tampak Igan tengah berbincang serius dengan Jio sang manajer, melalui sambungan telepon.
"Gan, berita tentang keputusan Om Bono ngeluarin lu dari labelnya tuh beneran?" tanya Jio.
"Gue yakin sih beneran, dia bilang sendiri ke gue waktu itu. Dia bilang mau putusin kontrak kerja sama gue." sahut Igan.
"Tapi enggak bisa seenaknya gitu dong!"
"Buat orang berduit semua bisa aja, Bro! Apalagi gue baru inget, di kontrak itu ada pernyataan kalo pihak label bisa aja mutusin kontrak sepihak kalo ngerasa dari pihak gue ngerugiin mereka." papar Igan.
"Lha emang lu ngerugiin apa buat mereka?"
Igan menghela napas dalam-dalam, lalu dihembuskan perlahan. Ia coba menjaga kewarasannya agar tak terpancing emosi mengingat apa yang sedang menimpanya.
"Bro, lu masih dengerin gue kan?" tegur Jio.
"Euh, iya-iya gue masih dengerin. Hmmm ... gue sih ngerasa enggak ngerugiin siapa-siapa, tapi mungkin gara-gara hubungan gue sama Ilona enggak baik, jadi Om Bono enggak terima dan berusaha bikin karir gue ancur."
"Enggak bener sih kalo gitu caranya, dia enggak bisa dong campur aduk masalah pribadi sama profesionalitas!"
"Udah lah Bro ... santai aja. Gue yakin karir gue masih bisa jalan kok walaupun harus hengkang dari labelnya Om Bono."
"Tapi nama baik lu taruhannya, Gan!"
"Iya, gue tau. Tapi apa iya pemilik label lainnya sebodoh itu cuma menilai gue dari satu pihak aja? Enggak lah, Bro!"
"Ah, ngeyel nih anak! Gue rasa kita harus bikin klarifikasi depan media deh, biar semuanya jelas."
"Ya gue sih oke-oke aja!"
"Oke, nanti kita atur waktunya ya?"
"Siap!"
Panggilan telepon diakhiri. Igan duduk memeluk lutut di balkon kamarnya sembari menatap langit yang tampak sendu tanpa kehadiran kerlip gemintang.
****