Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Sang Pahlawan Hati


"Kamu ... gimana, apa udah baikan?" Tanya Igan saat dalam perjalanan mengantar Tia pulang.


"Sudah mendingan kok, Mas." Sahut Tia, canggung.


"Memangnya tadi kamu kenapa?"


"Enggak tahu, saya juga bingung. Soalnya ... semua mendadak berubah dan akhirnya terasa gelap, kepala saya juga pusing."


"Mungkin kamu kecapekan, kurang istirahat atau ... lagi banyak pikiran?" Tebak Igan.


Tia terdiam, ia jengah dengan semua perkiraan itu. Ia tahu benar bahwa ia tidak sedang stres, kelelahan, bahkan ia tidur cukup. Soal makanan pun ia selalu jaga dengan porsi seimbang.


"Oh iya, saya enggak nyangka loh bisa ketemu kamu lagi. Bagusnya lagi, kita ketemu di kantor. Kamu dari divisi promosi ya?" Tanya Igan, antusias.


Tia tersenyum lalu mengangguk.


"Mas Igan kenapa masih sibuk di dunia artis? Biasanya kan calon pewaris perusahaan besar bakal mulai ikut terjun ke dunia bisnis supaya lebih paham." Tanya Tia.


Igan menoleh ke arah Tia lalu tersenyum. Tia pun hanya terdiam menatap Igan, namun ketika ia menatap Igan tiba-tiba ia melihat sebuah 'vision' tentang apa yang akan menimpa Igan kelak.


Cukup lama Tia menatap Igan, lebih tepatnya karena ia sedang melihat peristiwa yang akan Igan alami.


"Kamu kenapa ngeliatin saya begitu? Ada yang salah di muka saya?" Tegur Igan saat menyadari Tia yang terus menatapnya.


"Enggak, bukan. Tapi ...." Sahut Tia dengan tetap menatap Igan tanpa berkedip.


"Tapi kenapa?" Tanya Igan dengan heran, karena ia melihat Tia menatapnya dengan tatapan yang terasa beda.


Hmmm ... kayaknya gue enggak usah cerita deh ke Mas Igan, takut dia enggak percaya hal-hal begituan. Nanti malah gue dicap halu atau bahkan gila, kayak jaman sekolah dulu. Batin Tia.


"Euh ... enggak apa-apa kok Mas, saya cuma bengong aja tadi. Maaf." Elak Tia seraya mengalihkan pandangannya dari Igan.


"Jangan suka bengong, nanti kesambet loh." Ledek Igan.


"Loh, emang Mas Igan percaya soal begituan?" Tanya Tia.


"Percaya, kan hal-hal gaib memang ada."


"Kalau ... tentang kemampuan orang yang bisa melihat masa depan, gimana?"


Igan sontak menoleh ke arah Tia lalu menatapnya dan bertanya, "Maksud kamu peramal?"


"Hmmm ... mungkin sering disebut begitu."


"Jujur, kalau saya pribadi sih enggak percaya peramal." Sahut Igan dengan cuek.


"Oh." Timpal Tia, singkat.


"Ngomong-ngomong, di depan itu belok ke mana?" Tanya Igan mulai bertanya arah menuju rumah Tia.


"Ke kanan Mas." Sahut Tia.


Mereka pun berbincang santai sepanjang jalan hingga tak terasa mereka akhirnya sudah tiba di rumah Tia.


Mobil Igan berhenti tepat di depan rumah Tia.


"Terima kasih ya Mas Igan, sudah anterin saya." Ucap Tia.


"Rumah kamu kok di sini sih?" Tanya Igan dengan wajah lesu.


"Euh? Ya ... memang rumah orang tua saya ada di sini Mas. Kenapa, jelek ya karena enggak di lingkungan elit?"


"Eh-eh, bukan gitu maksudnya. Saya penginnya rumah kamu agak jauh lagi."


"Kok gitu? Bukannya seneng ya karena Mas jadi enggak capek anterin saya terlalu jauh?"


"Justru saya seneng anterin kamu kalau lebih jauh lagi, jadi bisa ngobrol lebih lama." Sahut Igan sambil tersenyum menatap Tia.


Tia mendadak salah tingkah dan tersipu, namun ia berusaha sebisa mungkin untuk menahan gejolak rasanya. Tanpa kata-kata, ia pun membuka pintu mobil dan melangkahkan kakinya untuk turun dari mobil.


"Kamu enggak suruh saya mampir?" Tegur Igan yang membuat Tia urung melangkah.


"Kan Mas Igan bilang mau ada acara di tempat lain?" Tia balik bertanya.


"Berarti kalau saya enggak ada acara, saya boleh mampir kan?"


Lagi-lagi Tia terbawa perasaan, ia berusaha sebisa mungkin menahan gejolak rasa di dadanya.


"Saya ... pulang dulu ya Mas?" Pungkas Tia mengakhiri percakapan.


"Hmmm ... tadi katanya kakak kamu lagi sakit ya? Saya boleh jenguk?"


Tia terdiam beberapa saat, kemudian ia mengangguk. Mereka turun dari mobil lalu melangkah memasuki halaman rumah bercat biru itu.


Tia mengetuk pintu sambil memanggil-manggil nama kakaknya. Cukup lama mereka menunggu dan membuat Tia mengetuk pintu hingga beberapa kali.


"Kok enggak ada jawaban ya? Apa Kak Hendra tidur?" Tia bertanya-tanya sendiri.


"Coba kamu telepon, siapa tahu Kakak kamu enggak dengar suara ketukan pintu." Saran Igan.


Tia menurut, ia segera menghubungi Hendra via telepon dan setelah dering kesekian kalinya akhirnya Hendra menjawab teleponnya.


Suara Hendra yang lemah membuat Tia sangat khawatir, terlebih Hendra meminta Tia untuk masuk saja lewat jendela karena ia tak sanggup untuk bangkit dari tempat tidur dan membukakannya pintu.


Tia bergegas ke samping rumah lalu menarik daun jendela agar terbuka lebih lebar. Ketika hendak melangkahkan kaki untuk melompat masuk lewat jendela, Igan sontak melarangnya.


"Saya harus masuk lewat sini Mas, Kak Hendra enggak bisa bangun katanya. Maaf, Mas Igan mendingan pulang aja ya?" Sahut Tia.


"Oh, saya juga mau ikut masuk ya? Siapa tahu kalian butuh bantuan." Pinta Igan.


Tia hanya mengangguk lalu ikut masuk melalui jendela besar yang ada di samping rumah tersebut.


Tia dengan cepat menghambur masuk menemui kakaknya di dalam kamar. Benar saja, Hendra memang tengah terbaring lemah. Tubuhnya menggigil lalu wajahnya pucat.


"Kak, kenapa Kak?" Tanya Tia histeris seraya memeluk sang kakak.


Igan berjalan menyusulnya ke dalam.


"Badan Kakak panas banget, Kak!" Ujar Tia panik saat menyentuh dahi kakaknya.


"Tia, kita bawa aja kakak kamu ke rumah sakit." Saran Igan.


"Iya Mas, tolong bantuin saya memapah Kak Hendra ya Mas?"


"Ayo, saya bantu. Langsung ke mobil saya aja, nanti saya antar ke rumah sakit."


Tia dan Igan saling membahu memapah tubuh Hendra yang lemah itu menuju ke mobil Igan, untuk selanjutnya dibawa ke rumah sakit.


Di dalam mobil Tia terus menangis dan menguatkan sang kakak yang hanya bisa terpejam.


"Kamu yang tenang ya Tia, sebentar lagi kita sampai kok." Ucap Igan, menenangkan.


"Saya takut Kak Hendra kenapa-napa, Mas. Saya cuma punya Kak Hendra sekarang, enggak ada lagi keluarga yang lain." Timpal Tia sambil terisak.


"Iya ... tapi kamu yang tenang dulu ya? Insyaallah kakak kamu bisa sehat sehat lagi."


Igan terus fokus membawa mobilnya melaju ke salah satu rumah sakit terdekat. Sesampainya di sana, Igan segera mendapat penanganan dari para petugas medis yang bertugas di ruang IGD.


Tia selalu ingin berada di dekat Hendra dan terus menangis. Igan merasa tak tega melihatnya, ia pun membujuk Tia untuk duduk di kursi tunggu seraya menunggu dokter yang tengah memeriksa Hendra.


Mereka duduk berdampingan hingga menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sana. Tak heran memang, mengingat Igan adalah seorang public figure.


Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya dokter memanggil Tia sebagai pihak keluarga pasien. Igan pun tak mau ketinggalan untuk ikut mengetahui kondisi Hendra, walaupun ia belum begitu mengenal kakak-beradik itu.


Dokter menyatakan bahwa Hendra terserang tifus dan harus menjalani rawat inap di sana. Tia langsung menyetujui saran dokter mengenai rawat inap untuk Hendra.


Setelah sepakat mengenai rawat inap, Tia pun harus menemui bagian administrasi untuk urusan administratif pasien, pilih kamar, biaya, dan lain-lain.


Untungnya Hendra dan Tia bekerja di perusahaan bonafid yang memikirkan kesejahteraan karyawan. Ia tak perlu gusar memikirkan biaya kesehatan, karena dari perusahaan menyediakan jaminan kesehatan bagi setiap karyawannya.


Tia dan Igan mengantar Hendra ke ruang rawat inap. Mereka berdua menunggui Hendra yang terbaring lemah.


"Makasih ya Dek?" Ucap Hendra, lirih.


"Iya Kak, Kak Hendra cepet sehat lagi ya? Untung tadi Tia dianter sama Mas Igan, jadi ditolongin sekalian bawa Kakak ke sini." Sahut Tia.


Hendra menoleh ke arah Igan yang tengah berdiri di samping Tia, lalu melemparkan senyum.


"Terima kasih Mas, sudah repot-repot ... bawa saya ... ke sini." Ucap Hendra kepada Igan.


"Santai aja Mas Hendra, saya kebetulan lagi sama Tia jadi bisa sekalian. Semoga Mas Hendra cepat sembuh ya?" Ujar Igan sembari tersenyum tulus.


Hendra mengangguk, dia menatap sang adik dan Igan secara bergantian kemudian tersenyum.


Sesaat kemudian, dering ponsel Igan terdengar. Igan segera menerima panggilan telepon itu. Ia tampak menepuk dahi saat mulai berbincang dengan si penelepon.


"Sori, gue lupa! Gue ... gue enggak jadi ikut deh, sori banget. Ada sodara gue lagi sakit. Udah ya? Next time aja kalo ada waktu lagi." Ucap Igan di telepon.


Panggilan telepon pun berakhir. Igan tampak terhenyak saat melihat Hendra dan Tia sedang menatapnya.


"Ke-kenapa?? Tadi ... berisik ya teleponnya?" Tanya Igan, salah tingkah.


Tia tak merespon, ia justru pamit untuk keluar membeli beberapa kebutuhan. Igan dengan sigap menawarkan diri untuk membelikannya.


"Kak, aku keluar dulu ya? Ada yang harus aku beli." Pamit Tia pada Hendra.


"Eh, mau kemana? Mau beli apa? sini biar saya aja yang beliin." Ujar Igan.


"Nggak usah Mas, apa kata Pak Bos kalo tahu anaknya disuruh-suruh." Timpal Tia.


"Ya udah, saya anterin aja." Bujuk Igan, pantang menyerah.


"Enggak usah Mas, mending Mas Igan pulang aja. Kan ada janji, jangan dibatalin loh!"


"Ah kalo yang tadi itu sih cuma nongkrong-nongkrong sama temen, bukan hal penting kok. Udah yuk saya anter?" Bujuk Igan, lagi.


Tia menatap Hendra seolah meminta izin, ternyata Hendra mengangguk pelan yang artinya ia setuju dengan usulan Igan.


Mereka berdua pun pergi bersama menuju ke sebuah toko serba ada di dekat kawasan rumah sakit itu. Tia tampak mulai sibuk memilih barang yang ia butuhkan ketika sudah berada di dalam toko.


Igan pun memilih beberapa barang di sana hingga tanpa disadari, ada salah seorang pengunjung yang mengambil foto Igan dan Tia menggunakan kamera ponsel, ia sengaja mengambil gambar ketika Igan dan Tia tengah berdampingan memilih barang.


Igan dan Tia yang tak menyadari hal itu santai saja, mereka tetap memilih barang sambil sesekali berbincang akrab.


Namun, semua itu bukan sekadar mengambil foto tanpa izin tetapi juga akan menjadi awal sebuah kekisruhan.


***