
Pagi harinya, Bintang tengah duduk membaca koran di teras rumah.
"Ada berita apa, Yah?" sapa Igan yang muncul dari dalam kemudian duduk di sebelah sang ayah.
"Oh, ini ... biasa lah, tentang politik, ekonomi, pendidikan." sahut Bintang.
"Yang berita hiburannya enggak dibaca, Yah?"
"Hmmm ... belum sih. Memangnya kenapa, apa ada berita tentang kamu, Nak?"
Igan terdiam, ia bingung harus menjawab apa. Bintang melirik putranya dengan penuh selidik, ia membuka halaman surat kabar itu untuk membaca berita di dunia hiburan.
Alis matanya berkerut seketika saat merunut kalimat demi kalimat yang tertera di lembar halaman surat kabar tersebut.
"Kamu sudah enggak gabung di label rekamannya Bono lagi, Nak? " tanya Bintang.
Igan mengangguk, "Iya, Yah." sahutnya singkat.
"Kenapa? Keliatannya ada masalah?" Bintang bertanya sembari menatap putranya dengan serius.
Igan menunduk sejenak lalu menghela napas, ia menoleh ke arah ayahnya dengan tatapan sendu.
"Masalah Igan sama Lona, Yah. Om Bono enggak terima Igan bilang enggak ada niatan buat tunangan sama Lona." papar Igan.
"Berarti sekarang ... kamu gimana?"
"Ya ... enggak gimana-gimana sih, Yah. Kemarin Igan baru selesai proyek iklan. Kalo manggung off air otomatis berhenti Yah, soalnya Igan yang masih banyak kontrak itu yang duet sama Lona."
"Tapi ... ayah seneng malah kamu enggak lagi bergabung di labelnya Bono, jadi kamu enggak sering ketemu lagi sama gadis itu."
Igan tersenyum tipis, "Igan juga lega sih, Yah. Cuma ... Igan khawatir kalo nama baik Igan makin tenggelam gara-gara sabotase dari pihak Ilona dan Om Bono."
"Hei ... kamu lupa kalau kamu punya Tuhan, Nak? Kalau Tuhan enggak ijinkan siapapun menjegal langkah kamu, enggak bakal ada yang mampu, Nak! Tapi kalau memang ada yang berhasil meredupkan karir kamu di bidang hiburan, masih ada perusahaan ayah yang nunggu kamu untuk bergabung di dalamnya." Bintang menasehati sang putra sekaligus membesarkan hatinya.
Igan kembali tersenyum, lalu memeluk sang ayah dengan erat.
"Makasih ya Yah, udah selalu dukung Igan." ucapnya.
Bintang pun merengkuh putranya itu dengan penuh kasih, ia menepuk-nepuk dengan lembut punggung Igan.
"Ayah yakin kamu kuat dan bisa lewati ini semua." ucap Bintang.
Tiba-tiba Wati, salah satu asisten rumah tangga menghampiri Bintang dan Igan di teras sambil membawa ponsel milik sang tuan muda.
"Maaf, dari tadi HP Mas Igan bunyi terus di kamar waktu saya lagi beres-beres kamar. Ini saya bawakan HP-nya, Mas." ujar Wati sembari menyodorkan ponsel milik Igan.
"Oh, iya-iya. Makasih Mbak Wati." ucap Igan.
Ia segera mengecek panggilan tak terjawab yang terbaru.
"Jio? Ada apa ya pagi-pagi telepon?" gumam Igan, tampak cemas.
"Siapa, Nak?" tanya Bintang.
"Jio, Yah. Igan mau telepon dia dulu ya, Yah?" pamit Igan seraya menjauh dari sang ayah.
Pandangan mata Bintang mengekor tubuh sang putra yang menjauh darinya, memilih untuk menelepon di taman.
"Halo, Kenapa Bro pagi-pagi telepon gue beberapa kali?" Igan langsung bertanya ketika panggilan teleponnya dijawab oleh Jio.
"Semalem gue ditelepon para penyelenggara acara yang udah minta lo sama Lona manggung di event mereka, terus mereka minta ganti rugi Bro gara-gara lo mangkir dari kontrak!" ujar Jio.
"Loh, kenapa minta ganti ruginya cuma ke gue? Kan kalo gue enggak bisa, berarti Lona juga enggak bisa dong?!"
"Mereka bilang Lona bisa manggung di acara mereka, tapi dia enggak mau duet sama lu. Pihaknya Lona bilang kita yang udah mutusin kontrak duluan sama mereka."
"Kita harus cepet ngadain jumpa pers buat klarifikasi keadaan biar enggak terus dipojokin, Bro!"
"Iya-iya, gue setuju!"
Setelah didapat kesepakatan mengenai waktu untuk diadakannya jumpa pers, Igan dan Jio mengakhiri percakapan mereka di telepon.
"Siapa yang minta ganti rugi, Nak?" Bintang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Igan sembari menatapnya dengan teduh.
Igan terperanjat, ia langsung berbalik badan.
"A-ayah? Kok tau-tau udah di sini?" tanya Igan.
"Ayah penasaran, jadi diam-diam ikutin kamu kemari. Coba cerita ke ayah, ada masalah apa lagi?"
Igan tertegun, "Igan sebenernya enggak mau Ayah sama Bunda tau, takut nanti kepikiran. Lagian ... ini bukan salah Igan kok, Yah."
Bintang menepuk pundak Igan lalu tersenyum.
"Ayah tau, makanya kamu cerita sedetil-detilnya. Siapa tau ada yang bisa ayah bantu?"
Igan pun bercerita semua permasalahannya kepada sang ayah, namun ia tak berharap bantuan materi dari orang tuanya walaupun pasti mereka sanggup.
"Berapa nominal yang harus kamu bayar untuk ganti rugi itu? Biar ayah yang urus."
"Enggak usah, Yah. Igan enggak mau keluarin uang buat sesuatu yang jelas-jelas bukan salahnya Igan! Jio udah mau siapin buat konferensi pers, jadi Igan bisa klarifikasi semuanya di depan wartawan." tolak Igan dengan tegas.
Bintang menatap putranya dengan lekat, ia seperti sedang berhadapan dengan dirinya sendiri di waktu muda.
Sikapmu persis ayah, Nak! batin Bintang.
"Ya sudah. Tapi kalau kamu butuh bantuan dari ayah, jangan ragu untuk bilang. Ayah tau kamu enggak salah, makanya ayah akan terus back up kamu." ujar Bintang.
"Makasih banyak ya, Yah? Sejauh ini, Igan cuma butuh doa dari Ayah sama Bunda."
Bintang mengangguk, "Kalau itu, kamu enggak perlu minta pun pasti ayah dan bunda doakan, Nak." ucap Bintang dengan suara berwibawa namun menenangkan bagi putranya.
Hari pun berselang, tiba waktunya mengadakan jumpa pers bagi Igan. Banyak pewarta yang hadir memenuhi undangan dari manajemen Igan. Jio mulai membuka acara tersebut, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab antara wartawan yang hadir dengan Igan didampingi Jio.
Igan membeberkan detil permasalahan yang terjadi sejak awal hingga muncul bermacam berita yang menyudutkan dirinya. Bahkan Igan menantang pihak Ilona dan Om Bono agar memberikan bukti kalau memang Igan yang sudah mangkir dari kontrak kerja.
Acara klarifikasi itu berlangsung sekitar satu jam, tak lama kemudian ditayangkan di televisi dalam berbagai judul acara infotainment hari itu juga.
Om Bono dan Yongki menyaksikan tayangan tersebut dengan geram karena jelas mereka tak memiliki bukti apapun terkait hal yang dituduhkan pada Igan.
"Sialan!! Ternyata kamu berani juga ngelawan saya!" umpat Om Bono dengan tatapan penuh kebencian pada Igan yang muncul di televisi.
"Tenang aja, Pak. Kita pasti masih punya cara buat jatuhin namanya." ujar Yongki.
Yongki pun mengambil ponsel pintarnya, lalu mulai sibuk menggeser-geser layar sentuh sembari manik matanya yang tampak fokus mencari sesuatu.
Hingga akhirnya, jarinya berhenti berselancar di atas layar kemudian senyuman licik mulai tersungging membingkai wajah.
"Pak, apa ini bisa buat modal kita selanjutnya biar bikin hidup Igan enggak tenang?" tanya Yongki pada Om Bono.
Om Bono memicingkan mata menatap layar ponsel Yongki yang menampilkan sebuah foto.
"Kamu dapet darimana, Ki?" tanya Om Bono.
"Waktu itu diem-diem saya yang fotoin sendiri dari dalam mobil,"
"Hmmm ... sebetulnya enggak terlalu ngefek mungkin, tapi ... bolehlah kalo cuma buat meresahkan hidupnya dia." sahut Om Bono sambil ikut tersenyum licik.
****