Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Pamit


Prosesi pemakaman Bulan selesai sudah, para pelayat tampak satu persatu pamit pulang kepada pihak keluarga yang berduka. Namun Igan, Bintang, Pak Hendro, Darren dan papanya, Hendrawan masih mengelilingi gundukan tanah merah yang masih terlihat basah dan wangi dengan banyaknya taburan bunga.


"Bunda ... Bunda ...." Igan meratap lirih di atas pusara Bulan.


Bintang pun tampak begitu terpukul atas kepergian sang istri tercinta, walaupun Bulan meninggal akibat sakit yang sudah ia idap, dan belakangan dokter sudah bicara kepada pihak keluarga jika kondisi Bulan memang semakin serius.


Mata-mata sembab karena terlalu banyak mengeluarkan air mata tampak di wajah Igan dan Bintang, raut yang jelas menyiratkan duka mendalam.


Setelah cukup lama mereka berada di pusara Bulan untuk mengaji dan memanjatkan doa, akhirnya Hendrawan selaku sahabat baik Bintang mencoba untuk membujuk sang sahabat juga putranya untuk kembali ke rumah.


"Bin, mungkin sebaiknya kita pulang. Pelayat yang baru sempat datang juga pasti nunggu kalian di rumah. Ikhlaskan Mbak Bulan, Bin. Istrimu orang baik, insyaa allah dia mendapat tempat yang indah di sana." bujuk Hendrawan.


Bintang hanya mengangguk, lalu ia mengusap wajahnya dan menarik napas panjang.


"Ayo Nak, kita pulang? Kamu juga harus menunggui Tia dan bayi kalian di rumah sakit kan?" ajak Bintang sambil merangkul pundak sang putra yang masih berjongkok di sampingnya.


Igan tak menyahut, ia masih tetap pada posisinya semula.


"Ayo, Nak! Bunda pasti enggak suka liat kita meratap begini. Doakan saja Bunda, supaya diampuni segala dosanya." Bintang bangkit lalu kembali mengajak putranya untuk pulang.


Igan mengangguk, "Iya, Yah."


Mereka berlima pun beranjak meninggalkan area pemakaman. Pak Hendro sudah melangkah dan masuk lebih dulu ke dalam kabin kemudi mobil.


"Bin, Nak Igan, maaf kami harus langsung pulang. Ada hal penting yang harus kami urus. Sekali lagi, kami turut berduka cita. Kalian harus ikhlas dan tabah, ya?"


"Iya Hen, terima kasih banyak. Aku atas nama istriku minta maaf kalau dia ada salah ya? Maaf juga istriku enggak bisa bantu Danisha." sahut Bintang.


Hendrawan mengangguk dan tersenyum, lalu menepuk pundak sang sahabat.


"Iya Bin, enggak apa-apa. Aku juga minta maaf karena enggak tau kalau istrimu sedang sakit. Kalau begitu ... aku permisi dulu ya, Bin? Jaga kesehatanmu."


Bintang memeluk erat sang sahabat, "Makasih Hen, makasih. Mudah-mudahan Danisha juga cepet selesai urusannya."


"Aamiin ... aamiin ...."


"Pamit ya, Om?" ucap Darren sambil menjabat tangan Bintang.


"Iya, terima kasih ya Darren? Hati-hati di jalan."


"Baik, Om. Mas Igan, saya permisi dulu ya?"


Igan mengangguk dan berusaha menyunggingkan senyum, "Hati-hati, terima kasih Darren."


"Assalamu'alaikum." ucap Hendrawan dan Darren bersamaan sesaat sebelum beranjak dan masuk ke dalam mobil mereka.


"Wa'alaikum salam ...." sahut Igan dan Bintang.


*


Tia dan bayinya sudah dipindahkan ke ruang perawatan pasca bersalin. Samar-samar, ia melihat seseorang melangkah mendekatinya.


Semakin lama, semakin jelas. Orang tersebut sangat familiar bagi Tia, apalagi dengan senyumannya yang menawan seperti saat itu Tia lihat.


"Bunda?" ucap Tia saat melihat orang tersebut sudah berdiri di dekatnya.


Tia melihat sang ibu mertua datang sendiri ke dekatnya, dengan memakai pakaian putih bersih dan wajah yang berseri.


"Bunda sendirian?? Tadi Mas Igan ke ...." tanya Tia, ia tampak heran.


Bulan hanya mengangguk dan tersenyum lembut ke arah Tia, kemudian ia mengusap kepala sang cucu yang tertidur dalam box bayi di sebelah ranjang Tia.


Bulan tampak tersenyum bahagia memandangi cucu pertamanya itu, sambil terus mengelusnya dengan lembut tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


Tia tertegun, ia merasa ada yang berbeda dengan sosok ibu mertua yang ada di hadapannya itu.


Kenapa Bunda keliatan beda ya? pikir Tia.


Bulan berhenti mengelus sang cucu tercinta, kemudian ia menoleh dan memandangi Tia. Senyum khas sang ibu mertua yang menyejukkan itu kembali tersungging untuk Tia.


Tia membuka mata, netranya sibuk menyapu seisi ruangan kamar perawatannya itu. Namun, tak ada siapapun selain ia dan bayinya karena Hendra sedang ke apotek untuk menebus obat.


"Bunda ...." gumam Tia dengan mata berkaca-kaca.


Ia ingin menghubungi suaminya untuk menanyakan apa yang terjadi pada sang ibu mertua, karena Igan sama sekali belum menghubunginya.


Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan Hendra menyembul dari balik pintu.


"Kak Hendra ...." panggil Tia.


Hendra menatap heran pada adiknya, lalu bergegas mendekat.


"Kenapa, Dek?"


"Mas Igan belum ke sini lagi? Dia telepon ke Kakak enggak?"


"Belum, dan ... enggak nelepon juga. Emang kenapa?"


"Tadi Bunda Bulan datang ke sini sendirian, Kak. Aku yakin, pasti ada sesuatu yang terjadi sama Bunda." tutur Tia.


Hendra menghela napas panjang, lalu duduk dan meletakkan obat di atas meja kecil di sisi ranjang pasien.


"Kamu mimpi kan, Dek?" tanya Hendra.


"Iya, aku emang mimpi tapi itu rasanya kayak nyata banget, Kak! Bunda kenapa ya? Aku telepon Mas Igan aja deh!"


Namun belum sampai Tia menelepon Igan, ponselnya sudah berdering lebih dulu. Ia bergegas menerima panggilan telepon dari suaminya itu.


"Assalamu'alaikum, Mas. Aku baru mau nelepon lho padahal. Ada kabar apa, Mas?? Kok baru nelepon?"


Igan tak menjawab, di seberang telepon ia masih berusaha menguatkan diri agar tak terus menangis.


"Mas??" tegur Tia.


"Iya Sayang, wa'alaikum salam." suara Igan terdengar sengau dan agak serak karena banyak menangis tadi.


"Kamu kenapa, Mas? Kok suaranya beda? Kayak ... habis nangis??"


"Sayang, kamu enggak apa-apa kan kalo di sana sama Mas Hendra dulu?"


"Ya ... enggak apa-apa sih, Mas. Tapi kenapa? Ada apa??"


"Maaf, Mas baru bisa bilang sekarang karena takut kamu sedih. Kondisi kamu kan baru aja melahirkan, jadi Mas enggak mau kamu banyak pikiran dan sedih."


"Mas, to the point aja ke aku, soalnya aku yakin Bunda kenapa-napa. Iya kan?? Aku barusan mimpi Bunda datang ke sini dan ngelus-elus anak kita, Bunda keliatan seneng banget."


Mendengar cerita istrinya, Igan tak dapat lagi menahan tangis. Ia terisak, dan berulang kali menyebut 'Bunda'.


Tia terhenyak, ia semakin yakin jika ada sesuatu yang menimpa sang ibu mertua. Ia diam beberapa saat, memberi kesempatan bagi suaminya untuk mengendalikan diri.


"Bunda, Bunda udah enggak ada Sayang! Bunda udah meninggal dan beberapa menit yang lalu baru dimakamkan."


Tia terperangah, kabar duka itu menyentak bak petir di siang bolong.


"Bu-Bunda ... meninggal??" gumamnya tak percaya.


"Iya Sayang, Mas dan Ayah juga sama sekali enggak nyangka, Bunda bakal pergi secepat itu. Padahal Mas pengin ngasih kabar bahagia ke Ayah sama Bunda, tapi ... kabar ini udah duluan sampai."


"Ya Allah, innalillahi wa innaailaihi rooji'uun ...."


Benak Tia menerawang dan memutar kembali kejadian dalam mimpinya barusan. Air matanya mengalir membasahi pipi, ia teringat segala kebaikan dan kasih sayang sang ibu mertua yang selalu memperlakukannya seperti anak sendiri.


Mimpi tadi bener-bener kayak nyata! Apa mungkin Bunda datang untuk pamitan? Bunda juga keliatan seneng banget waktu liat cucunya ini udah lahir. Ya Allah, terimalah Bunda di sisi-Mu dengan bekal amal ibadah yang sudah Bunda lakukan, dan ampuni segala dosa dan khilafnya. Aamiin ....


****