Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Salah Sangka


Setelah membeli martabak, tak lupa juga Igan mampir ke sebuah depot buah-buahan segar dan membeli beberapa jenis buah untuk dibawa ke rumah sakit.


Beberapa lama kemudian setelah semuanya sudah dibeli, mobil Igan tampak memasuki area parkir rumah sakit. Ia bergegas turun dan melangkah menuju lantai dua, dimana ruang rawat inap Hendra berada.


Pintu ruangan Hendra terdengar diketuk, Tia dengan sumringah bergegas membukakan pintu.


"Hai Tia."


Tia terperangah ketika melihat orang yang berdiri di hadapan dan menyapanya itu.


Kok Pak Rey sih yang dateng?? Batin Tia, heran.


"Kenapa, kok bengong?" Tegur Rey.


"Oh, enggak apa-apa kok Pak. Si-silakan masuk Pak Rey." Ucap Tia, gelagapan.


Rey melangkah masuk dengan percaya diri sambil membawa sekotak piza di tangan kanannya.


"Ini buat kamu, Tia." Ujar Rey seraya menyodorkan kotak piza itu.


"Kok repot-repot segala Pak?" Ucap Tia, tak enak hati.


"Saya khawatir kamu telat makan, jadi saya bawain piza. Kamu belum makan kan?"


Tia menggeleng.


"Ya sudah, ayo dimakan piza nya mumpung masih hangat loh."


"Maaf Pak Rey, tapi Tia tidak suka piza." Celetuk Hendra yang sedari tadi hanya memperhatikan.


Rey tampak kaget, ia tak menyangka kalau makanan yang ia favoritkan dan ingin ia makan bersama gadis pujaannya itu, justru bukanlah makanan yang Tia suka.


"Ka-kamu ... enggak suka piza, Ti?" Tanya Rey, coba menegaskan.


Tia tersenyum lalu menjawab, "Iya Pak, saya enggak suka."


"Wah, saya salah dong! Padahal ini makanan favorit saya loh, Ti. Terus kamu sukanya apa?" Tanya Rey.


Belum sempat Tia menjawab, tiba-tiba pintu ruangan kembali diketuk.


"Sebentar Pak, saya buka pintu dulu." Ucap Tia lalu bergegas membukakan pintu.


"Mas Igan?" Ucap Tia yang terdengar bahagia ketika melihat siapa yang datang.


"Hai, teman baru." Sapa Igan dengan senyum menawannya yang membuat Tia tersipu.


"Ayo masuk, Mas." Ajak Tia.


Baru saja Igan melangkah kan kaki, matanya sontak tertuju pada Rey yang sudah berdiri di dekat ranjang Hendra.


"Ketemu lagi kita!" Sapa Igan sambil tersenyum penuh arti pada Rey.


Rey tersenyum sinis tanpa menanggapi sapaan Igan.


"Ti, kamu mau saya beliin apa? Kamu kan enggak doyan piza." Tanya Rey, mengalihkan perhatian Tia dari Igan.


Tia terdiam, ia bingung karena tak enak hati jika harus meminta.


"Kalau piza kamu enggak doyan, tapi martabak keju doyan kan?" Tanya Igan sambil mengangkat bungkusan berisi dua kotak martabak keju di tangan kanannya.


Mata Tia sontak berbinar, dan senyuman pun kembali terukir di wajah cantiknya.


"Mas Hendra juga suka kan martabak keju?" Tanya Igan pada Hendra.


Hendra tersenyum dan mengangguk.


"Ya udah yuk makan bareng-bareng?" Ajak Igan.


Rey bak mati kutu, ia bingung. Namun ia segera bertanya pada Hendra untuk mengurangi rasa kikuknya.


"Hen, kamu ... doyan piza kan?" Tanya Rey.


"Doyan Pak, tapi sayang sekarang saya belum boleh makan begituan. Martabak keju juga belum boleh, padahal wanginya bikin pengin." Sahut Hendra.


"Ya udah, buat Mas Hendra buah-buah segar ini aja biar cepat sehat." Timpal Igan seraya menunjukkan parsel buah yang tadi ia bawa.


Rey mendengus, ia jelas tampak kesal karena piza yang ia bawa tidak mendapat tempat, terlebih karena kehadiran Igan yang dianggapnya merusak suasana.


"Bung, pizanya nganggur? Sini buka aja, saya doyan kok! Nanti saya ikut bantu ngabisin, tapi kalo boleh." Celetuk Igan sambil tersenyum lebar hingga menampakkan barisan giginya yang putih dan rapi.


Ya udah lah, karena Tia yang ngomong. Kalo bukan karena Tia sih ogah banget! Mendingan gue bawa balik aja pizanya! Gerutu Rey dalam hati.


Rey meletakkan kotak piza itu berjejer dengan kotak-kotak martabak yang Igan bawa.


Igan dan Tia tampak memakan martabak itu dengan lahap, sedangkan Rey hanya terdiam dengan tatapan kesal.


"Ayo Bung, makan sini!" Ajak Igan.


"Martabaknya enak loh, Pak." Imbuh Tia.


Rey semakin panas mendengarnya, namun ia tak bisa berbuat apa-apa selain ikut makan bersama mereka.


Rey hanya mengambil piza yang tadi ia bawa, walaupun ia juga suka dengan martabak. Saat sedang makan, mata Rey sontak tertuju ke leher Tia.


"Ti, kalung dari saya mana? Kok dilepas?" Tanya Rey.


Tia dan Igan sontak terhenyak, Tia memandang Rey sedangkan Igan menatap penuh tanya ke arah Tia. Hendra yang sedang berbaring pun tak pelak bertanya-tanya, karena ia sama sekali belum mengetahui soal kalung itu.


"Hmmm ... anu Pak, tadi kurang benar kaitannya jadi lepas." Sahut Tia, asal.


"Terus kalungnya di mana?" Tanya Rey.


"Ada di tas."


"Bener? Enggak kamu buang kan?"


"Enggak Pak, ada kok." -Tia mengambil tas cangklongnya lalu mengambil kalung bermata biru pemberian dari Rey- "Ini, saya simpan kok Pak."


"Sini saya pakaikan biar enggak lepas lagi." Ujar Rey sambil berusaha mengambil kalung itu dari tangan Tia.


Namun Tia berhasil mengelak hingga Rey tak dapat merebutnya.


"Nanti biar saya pakai lagi sendiri, Pak." Tegas Tia.


"Hmmm ... ya sudah. pakainya sekarang aja biar saya bisa lihat." Desak Rey.


Igan melirik Rey dengan cemburu, ia yakin memang Rey sedang mencoba membuatnya merasa begitu.


Tia tak ada pilihan, ia pun kembali memasangkan kalung indah itu di lehernya.


Rey tersenyum puas melihatnya, ia pun melirik ke arah Igan yang tampak sangat tak nyaman dengan semua itu.


"Tia, jangan kamu lepasin lagi ya?" Pinta Rey dengan lembut kepada Tia.


Tia dan Rey ternyata udah ada keseriusan, buktinya Rey udah kasih Tia kalung sebagus itu. Pikir Igan.


Raut wajah Igan sontak berubah sendu, ia tak lagi bersemangat seperti saat ia datang.


"Mas Hendra gimana, udah baikan?" Tanya Igan, mengalihkan tema obrolan.


"Alhamdulillah Mas, mudah-mudahan bisa cepat sehat lagi. Walaupun baru sehari tapi rasanya enggak betah di sini." Sahut Hendra.


"Iya Mas, enggak ada enaknya kalau lagi sakit. Saya doakan Mas Hendra cepat sehat ya?" Ucap Igan.


"Makasih Mas." Sahut Hendra.


"Hmmm ... ngomong-ngomong, Mas Igan kok jadi sering nemuin Tia sih? Nanti partner duetnya itu cemburu loh! Lagian, jadi lelaki itu harus setia Mas. Jangan serong kanan-kiri, udah dekat sama penyanyi itu, eh deketin Tia juga." Tanya Rey, sinis.


"Pak Rey, tolong jangan mancing keributan di sini. Kasihan Kak Hendra nanti enggak bisa istirahat." Pinta Tia.


Rey hanya tersenyum sebab ia sudah mengutarakan kata-kata pedasnya untuk Igan, sedangkan Igan berusaha sebisa mungkin untuk meredam amarahnya. Setidaknya sampai ia dan Rey sudah berada di luar rumah sakit.


"Pak, mulai besok saya ijin tidak masuk dulu ya? paling tidak sampai tiga hari, buat nemenin Kak Hendra.


" Iya, enggak apa-apa. Nanti kamu juga kabari Pak Irwan ya selaku kepala Divisi Personalia."


"Baik Pak."


"Eh, maaf Tia ada cokelat di bawah bibir kamu." Celetuk Rey seraya dengan cepat mengusap bibir bawah Tia dengan ibu jarinya.


Tia terkejut namun tersipu. Igan yang melihat hal tersebut merasa sangat kesal, dalam hatinya terasa sakit bak disayat sembilu.


Mendingan gue balik daripada jadi penonton doang di sini! Gerutu Igan, kesal.


Igan benar-benar merasa kecewa, bukan pada Tia melainkan pada dirinya sendiri karena datang terlambat. Ia merasa bahwa ia hanya sebagai figuran atau bahkan sekadar jadi penonton di antara hubungan Tia dan Rey.


***