
Waktu berlalu, Danisha sudah bisa mengambil sebuah keputusan atas pernyataan Hendra padanya hari itu.
"Pa, aku sudah buat keputusan." ucapnya pada sang papa di ruang makan ketika mereka sarapan.
Hendrawan berhenti mengunyah, ia tampak antusias ingin mendengar keputusan putrinya.
"Apa, Sayang?"
"Aku mau terima Hendra. Aku juga sebenarnya ... suka sama dia, tapi perkenalan kami masih terlalu singkat, jadi aku enggak berani."
Hendrawan tersenyum lebar.
"Papa juga simpatik sama dia, tapi ... ada segelintir kesombongan di diri papa waktu tau dia cuma seorang sekuriti. Papa sempet enggak setuju kalau kalian saling jatuh cinta, tapi rupanya ... dia itu memang lelaki yang baik."
"Sekarang, apa Papa setuju?"
Hendrawan mengangguk, "Ya, asalkan anak papa bahagia dengan pilihannya." sahutnya yakin.
"Ya udah kalo gitu, nanti biar Hendra aku panggil ke sini. Biar kita bicarain sama-sama kelanjutannya." saran Darren.
"Ya, begitu lebih baik." timpal Hendrawan.
*
Hendra menerima undangan dari keluarga Danisha untuk datang ke rumahnya via telepon dari Darren, dan sepulang kerja Hendra pun datang bersama Tia, adiknya.
Pembicaraan serius namun hangat terjadi dan sudah diraih kesepakatan bersama bahwa Hendra akan melamar Danisha terlebih dahulu untuk menjamin keseriusan Hendra, sedangkan akad pernikahan baru akan digelar jika bayi dalam kandungan Danisha sudah lahir.
Satu bulan kemudian pihak Hendra didampingi sang adik, dan keluarga Erlangga mewakili orang tua Hendra pun datang untuk menyematkan cincin pertunangan di jari manis Danisha.
Proses yang digelar penuh kekeluargaan itu pun berlangsung lancar. Semua pihak tampak berbahagia, terlebih bagi Danisha dan Hendra.
Hendra mampu meyakinkan gadis blasteran nan cantik itu untuk tetap mempertahankan bayi dalam kandungannya, walaupun dalam prosesnya itu sama sekali bukan kemauan Danisha.
Setelah prosesi lamaran selesai, mereka semua duduk berbincang santai sambil makan-makan di ruang keluarga kediaman Hendrawan.
Danisha yang lincah sudah mulai terlihat ceria kembali, tak lagi murung dan depresi seperti sebelumnya.
Mereka saling membicarakan tentang keluarga masing-masing. Hendra dan Tia bercerita tentang mendiang orang tua mereka, sedangkan Hendrawan bercerita tentang mendiang istrinya.
Dengan penuh inisiatif, diam-diam Danisha pergi ke dalam kamar lalu mengambil sebuah bangku untuk menopangnya.
Ia ingin mengambil album foto keluarga yang ia simpan di sebuah lemari besar bagian atas. Nahas, ketika Danisha sudah naik ke atas bangku dan mengambil album foto yang ia cari, matanya mendadak berkunang-kunang dan tak dapat menjaga keseimbangan tubuhnya.
Gubrak
Suara itu terdengar keras, bahkan sampai ke ruang keluarga. Darren dan Hendrawan saling tatap beberapa detik, kemudian semua langsung berlari mencari sumber suara ketika menyadari Danisha tidak ada di ruang keluarga.
"Danisha!!" pekik Hendrawan ketika mendapati tubuh putrinya terbaring di lantai.
"Pa, ada darah Pa!" seru Darren sembari menunjuk ke arah kaki Danisha.
Hendrawan panik, lalu segera membopong Danisha keluar kamar menuju mobil.
Keluarga Erlangga bersama Tia dan Hendra pun panik melihat kejadian itu. Mereka lantas membawa Danisha ke rumah sakit terdekat.
Setibanya di rumah sakit, Danisha langsung mendapat penanganan dari para petugas medis. Pihak keluarga termasuk Tia, Hendra dan keluarga Erlangga hanya bisa menunggu di luar ruangan.
Beberapa saat kemudian, seorang perawat keluar menemui keluarga Danisha.
"Dengan keluarga pasien atas nama Danisha?"
"Iya Sus, saya papanya. Ada apa, bagaimana kondisi anak saya??" sahut Hendrawan dengan panik.
"Silakan masuk dulu Pak, nanti dokter yang akan menjelaskan."
Hendrawan mengangguk lalu bergegas memasuki ruangan, mengikuti langkah perawat itu.
"Selamat sore, Dok. Saya papanya Danisha."
"Ya, silakan duduk Pak." ujar dokter muda itu sembari meletakkan stetoskopnya di atas meja.
"Begini Pak, setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata pasien mengalami keguguran. Tapi karena usia kandungannya dibawah 3 bulan, jadi saya tidak melakukan tindakan kuretasi. Saya hanya akan memberikan resep obat yang harus diminum oleh pasien." imbuh dokter itu.
Hendrawan terkejut saat menerima berita itu. Entah rasa apa yang tepat mewakili perasaannya, antara sedih sekaligus senang.
Ternyata anak itu juga enggak mau bikin kamu sedih dan trauma kalau ingat kejadian itu, Sayang. Terima kasih Tuhan, aku yakin ini adalah yang terbaik untuk Danisha dan Hendra. batin Hendrawan.
"Bagaimana Pak, apa penjelasan saya bisa diterima?" tegur dokter itu dengan ramah.
Hendrawan terkesiap, ia mengangguk.
"Iya, Dok. Tapi ... apa anak saya bisa langsung pulang?"
"Sebaiknya tunggu sampai besok pagi. Karena tadi anak Bapak juga tekanan darahnya cukup rendah, jadi demi kebaikannya lebih baik biar pasien dirawat inap dulu malam ini." saran dokter itu.
"Oh, baik kalau begitu Dok. Terima kasih." ucap Hendrawan seraya bangkit lalu pamit keluar ruangan.
"Gimana, Pa?" Darren langsung menyerbu papanya.
"Danisha ... keguguran. Tapi dia enggak perlu dikuret karena kandungannya masih dibawah 3 bulan." sahut Hendrawan.
"Apa Danisha sudah boleh pulang, Om?" tanya Hendra.
Hendrawan menggeleng, "Belum, Nak. Kata dokter, tekanan darahnya rendah jadi malam ini disarankan rawat inap dulu."
"Biar saya yang jaga Danisha, Om." ujar Hendra.
"Iya, aku juga." imbuh Darren.
Hendrawan tersenyum, "Ya sudah. Tapi kamu ikut papa pulang dulu ambil baju adikmu."
*
Di ruang perawatan, pukul 7 malam Danisha membuka mata. Kepalanya masih terasa agak berat.
Ia melihat sekeliling, lalu menoleh ke arah sisi kanannya. Tampak Hendra sedang duduk bersandar di kursi dekat ranjang pasien sambil memejamkan mata.
Danisha memandangi wajah ganteng lelaki yang baru berstatus sebagai tunangannya itu. Senyum Danisha mengembang, ia bahagia sekali bisa mendapatkan perhatian dan cinta tulus dari lelaki baik seperti Hendra.
Makasih ya Hen, kamu udah mau ....
Ucap batin Danisha terhenti saat mendengar suara pintu ruangan berderit, tampak Darren muncul dari balik pintu sambil menenteng tas plastik. Wajahnya tersenyum saat melihat sang adik sudah sadar.
"Udah sadar, Dan?" sapa Darren seraya melangkah masuk.
"Dari mana?" tanya Danisha.
"Dari warung nasi Padang, beli makanan buat gue sama Hendra."
"Cuma dua??"
"Iya, emang lu mau?"
"Iya lah."
"Emang boleh?"
"Enggak tau. Tapi gue laper, Darren!"
"Ya udah entar gue beliin bubur ayam di depan aja deh."
Mendengar suara obrolan di dekatnya membuat Hendra terbangun. Ia mengerjapkan mata beberapa kali.
"Danisha, kamu sudah sadar rupanya? Maaf, aku ketiduran." ujar Hendra, merasa tak enak.
"Udah Hen, dari tadi dia ngeliatin kamu terus." celetuk Darren, meledek sang adik.
Hendra mengangkat alis, lalu menatap Danisha dengan tatapan teduh.
Danisha salah tingkah, lalu memalingkan wajahnya.
"Kok enggak ngeliatin lagi? Beraninya cuma pas aku lagi tidur ya?" ledek Hendra.
Danisha mengulum senyum, wajahnya tampak memerah.
"Hen, ini dimakan dulu." ujar Darren, menyodorkan sebungkus nasi Padang dan sebotol air mineral.
"Makasih, Kak." ucap Hendra.
Darren terkejut, "Kak? Kamu panggil aku 'Kak'?"
"Iya, emang harusnya apa? Abang, *B*rother, atau ... Mas?"
"No, kakak aja udah bagus. Makasih ya calon adek iparku. Cuma kamu yang udah panggil aku kakak, calon istri kamu itu malah enggak sopan." ledek Darren sambil memonyongkan bibirnya ke arah Danisha.
Danisha melirik sang kakak, "Ish!!" cibirnya kemudian menjulurkan lidah.
Hendra tertawa kecil melihat tingkah kakak beradik itu. Ia tak menyangka jika mereka akan menjadi satu keluarga, karena pertemuan mereka yang awalnya singkat dan tak disengaja.
"Oh iya, kata dokter ... aku kenapa, Mas?" tanya Danisha pada Hendra.
Hendra yang sedang meneguk air di botol hampir tersedak mendengar Danisha memanggilnya 'Mas'.
Matanya menatap gadis cantik itu dengan lekat.
"Kenapa?" tanya Danisha, heran.
"Ah, enggak apa-apa kok. Hmmm ... kata dokter, kamu itu tekanan darahnya rendah makanya dirawat dulu malam ini." sahut Hendra.
"Terus janin lu itu keguguran, Dan." celetuk Darren, santai.
Danisha terkejut mendengar ucapan Darren.
"Hah, serius lu Kak?" seru Danisha, tak percaya.
Darren melongo mendengarnya, lalu tersenyum usil.
"Iya, Adikku ...." sahutnya dengan nada meledek.
"Ish!! Gue serius, Darren!" omel Danisha.
"Tuh kan enggak sopan lagi??" protes Darren.
"Kak Darren ...??" Danisha tampak kesal. Jika ia tidak sedang terbaring lemah, pasti mereka berdua sudah saling kejar seperti kucing dan tikus.
Darren tertawa puas karena bisa meledek adiknya tanpa harus ada balasan.
"Iya-iya ... gue serius! Tanya aja Hendra, ya kan Hen?" sahut Darren.
Hendra hanya mengangguk.
"Kamu jangan sedih ya, Dan? Rencana Tuhan pasti yang terbaik buat kita." hibur Hendra.
Danisha tersenyum.
Aku enggak sedih kok, Hen. Justru aku lega. batin Danisha.
****