
Di hari kedua, Tia dan bayinya sudah diperbolehkan pulang. Igan sangat bahagia karena sudah bisa berkumpul dengan anak istrinya di apartemen. Bayi yang terlihat bongsor dan berwajah tampan itu mereka beri nama Erland Ivander.
"Alhamdulillah kalian sudah di sini sekarang. Ayah udah enggak sabar pengin sering cium pipi kamu yang tembem ini, Cayang ...." ucap Igan, kemudian mendekatkan wajahnya ke pipi bayinya yang tampan, Erland.
"Cuma pengin cium bayinya aja nih ceritanya? Bundanya udah dilupain gitu aja? Oke ... jangan harap ada anak kedua dan seterusnya!" tukas Tia, bercanda.
Igan tertawa, ia pun langsung memeluk sang istri dengan mesra.
"Kalo sama bundanya sih enggak usah disebutin dong, Sayang ... Nanti ada yang denger, malu." sahut Igan kemudian mengecup lembut pipi dan kening sang istri.
Tia sontak tersenyum sumringah.
"Oh iya Mas, kita mau ngadain aqiqahnya kapan ya?"
Igan terdiam sejenak, ia tampak sedang berpikir.
"Apa setelah acara tahlilan Bunda aja ya, Yang? supaya enggak bentrok waktunya." saran Igan.
"Boleh-boleh, seminggu setelah tahlilan tujuh harinya Bunda aja ya, Mas?"
"Iya Sayang, nanti Mas rancang semuanya."
Tia mengangguk dan tersenyum bangga pada sang suami.
*
Tujuh hari sudah terlampaui. Hari-hari Bintang terasa hampa karena rumah besarnya hanya ia huni dengan ditemani beberapa asisten rumah tangga, satpam, dan seorang supir.
Ia merindukan kehangatan dan kebersamaan bersama anak dan istrinya seperti dulu, namun semua itu sudah jelas tak mungkin lagi.
Sang istri telah berpulang ke haribaan Ilahi, sedangkan putra tunggalnya yang sejak berumah tangga memilih tinggal di apartemen.
Selepas tahlilan tujuh hari sang istri, Bintang bicara empat mata dengan putranya.
"Nak, ayah merasa kesepian di rumah. Bagaimana kalau kamu dan anak istrimu tinggal sama ayah di sini? Rumah ini terlalu besar kalau ayah tinggali sendiri, Nak.
Pekerja di rumah kan bukan keluarga, walaupun kita sudah anggap mereka seperti keluarga. Ayah kangen dengan suasana dulu, waktu Bunda mu masih ada dan kamu masih tinggal di sini." ujar Bintang.
"Iya Yah, Igan dan Tia juga sempet mikir begitu. Kami tau, Ayah pasti kesepian di rumah. Tapi kami mau ada rencana menggelar tasyakuran aqiqah untuk Erland, minggu depan."
"Kalau gitu justru kebetulan, mending kalian langsung sekalian pindah ke sini. Jadi acara aqiqahnya Erland digelar di sini saja. Gimana? Coba kamu rundingkan sama Tia, mudah-mudahan dia setuju."
"Iya Yah, nanti Igan obrolin sama Tia. Igan pamit dulu ya, Yah? Udah jam sepuluh. Kasian Tia di apartemen. Assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikum salam, hati-hati ya, Nak!"
"Iya, Yah ...."
*
Dua hari menjelang tasyakuran aqiqah bayi Erland, Igan sudah memboyong anak dan istrinya itu ke rumah orang tuanya, sesuai permintaan sang ayah yang merasa kesepian di rumah.
"Alhamdulillah ... kalian datang akhirnya, buat nemenin ayah. Makasih ya, Tia? Kamu sudah mau tinggal di sini nemenin ayah." ucap Bintang.
Tia tersenyum, "Iya Yah, sama-sama ... lagi pula supaya Erland bisa lebih deket sama Kakek, ya Sayang?" Tia seolah bertanya pada sang anak yang masih dalam gendongannya.
Tak disangka, bayi Erland yang umurnya baru sepekan itu menatap sang bunda lalu tersenyum. Hal itu membuat sang kakek dan bahkan Tia sendiri merasa takjub.
"Kakek pengin gendong kamu Sayang, cucu kakek yang ganteng ...." ucap Bintang sambil mengarahkan tangannya seperti hendak menggendong Erland sambil tersenyum.
Lagi-lagi bayi tampan itu bertingkah lucu, membuat Bintang dan Tia merasa gemas. Ia menoleh ke arah sang kakek lalu kembali tersenyum.
"Uluh-uluuuh ... kamu kayak udah ngerti diajak ngomong sih, Nak? Pinternya anak bunda ...." ucap Tia sembari mengecup pipi Erland yang tembem dengan gemas.
Tia kemudian memberikan Erland ke gendongan sang ayah mertua, "Erland sama Kakek dulu ya? Kakek kangen ...." ucap Tia pada sang putra.
Untuk kesekian kalinya bayi Erland merespon ucapan sang bunda dengan senyuman.
"Maasyaa Allah, Tia. Erland ini pinter sekali, seperti sudah mengerti diajak komunikasi. Sehat-sehat terus ya Sayangnya kakek ...." ujar Bintang kepada menantunya lalu bicara kepada sang cucu, kemudian mengecup pipi dan kening bayi Erland.
"Alhamdulillah, Yah. Semoga Erland jadi anak yang cerdas dan sholeh, aamiin ...." sahut Tia.
"Aamiin ... Oh iya, Igan kemana?"
"Mas Igan tadi sama Pak Hendro langsung keluar cari keperluan buat acara aqiqah nanti, Yah. Kata Mas Igan ada yang masih kurang." sahut Tia.
"Oh ... Ya sudah kamu barangkali mau istirahat, biar Erland sama ayah dulu."
"Iya, Yah. Tia ke kamar dulu ya, Yah? Mau beresin baju-baju."
Bintang mengangguk dan tersenyum pada menantunya, kemudian kembali larut dalam sukacita bersama sang cucu tercinta. Namun, tiba-tiba ia teringat Bulan.
Bun, andaikan kamu masih di sini ... kamu juga pasti akan senang melihat cucu kita ini. Semoga kamu bahagia di sana, istriku ....
Air mata Bintang kembali menggenangi pelupuk mata kala teringat mendiang istri tercinta.
Bayi Erland terlihat terpaku menatap wajah sang kakek yang menggendongnya, seperti ikut merasakan kesedihan. Tak lama kemudian, bayi Erland menangis.
Tia yang baru berjalan beberapa langkah langsung terkejut dan menoleh, lalu ia kembali mendekat ke arah Erland yang masih digendong ayah mertuanya.
"Lho ... kok nangis sih, Nak?" tanya Tia santai sambil berjalan mendekat.
Bintang buru-buru menyeka air matanya, tapi Tia sudah terlanjur melihat.
"Ayah? Ayah nangis?" tanya Tia dengan perlahan.
Bintang agak salah tingkah, sebetulnya ia malu tapi ia tak sanggup menahan kerinduan pada mendiang sang istri.
"Maaf Tia, ayah teringat bunda. Bunda kan pengin cepet punya cucu, tapi ... justru dia pergi saat cucunya baru lahir." ucap Bintang, tersedu.
"Yang kuat ya, Yah ... Ayah harus ikhlas, supaya Bunda di sana juga tenang ninggalin kita. Allah lebih sayang sama Bunda, Yah ... Ini Erland juga ikut nangis pas liat kakeknya nangis, ya kan Nak?" hibur Tia.
Bintang mengangguk, "Iya, maafin kakek ya Nak? Kakek malah nangis pas gendong kamu." ucapnya pada sang cucu.
"Cup, cup, cup ... diem ya, Sayang ... Erland hibur Kakek ya biar enggak sedih lagi?" Tia kembali mengajak bayinya bicara.
Sontak bayi Erland berhenti menangis lalu memandangi sang kakek.
"Ya Allah ... pinternya cucu kakek! Ayo kita jalan-jalan keliling rumah, kalau nanti Erland sudah bisa lari-lari pasti seneng, karena bisa lari kesana-kemari. Tia, ayah ajak Erland keliling rumah dulu ya?" ujar Bintang.
"Iya, Yah."
Bintang pun beranjak sambil menggendong sang cucu untuk mengajaknya berkeliling rumah megahnya. Karena atas izin Tuhan, bayi Erland lah yang kelak akan menjadi pewaris selanjutnya kerajaan bisnis Erlangga.
Dua hari kemudian acara tasyakuran aqiqah bayi Erland digelar, semua bersuka cita melihat bayi tampan yang ceria itu.
Di sela-sela acara, Tia melihat sang ibu mertua hadir di tengah-tengah keramaian. Mendiang mertuanya itu berdiri menatap ke arahnya, Erland, Igan dan sang suami tentunya.
Bulan menyunggingkan senyum ke arah Tia, begitu pun Tia walaupun ia sempat tertegun sejenak menyaksikan apa yang tak disaksikan orang lain.
"Kamu senyum sama siapa, Sayang?" tegur Igan, heran.
"Ah, enggak kok Mas. Aku seneng aja, acaranya berjalan lancar." sahut Tia, menutupi.
Ternyata tak hanya Tia yang melihat, tapi juga Erland. Bayi tampan itu tersenyum ceria menatap lurus ke arah mendiang neneknya, sampai sosok sang nenek yang terlihat cantik itu menghilang dan tak pernah lagi kembali ....
*
Dua tahun berselang, suasana meriah tampak di sebuah gedung. Dilihat dari pernak-pernik yang terpajang, jelas kalau sedang digelar sebuah resepsi pernikahan di sana.
"Selamat ya, Hen! Akhirnya nikah juga lu." ujar bang Jack saat bersalaman dengan pengantin pria di pelaminan.
Nuansa dalam gedung yang didekorasi secara apik dan elegan dengan dihias bunga warna-warni, menambah semarak dan aura kebahagiaan si empunya hajat.
"Iya, makasih Bang." sahut Hendra, si mempelai pria.
"Pinter lu nyari bini, ada lagi enggak yang kayak begitu?" bisik bang Jack sambil melirik mempelai wanita di samping Hendra.
Hendra mengerutkan alis, "Buat siapa?"
"Bakal jadi bini kedua gue!" sahut bang Jack sambil tertawa.
"Ah, maruk lu Bang! Kagak deh, kasian ceweknya!" sahut Hendra sambil meninju pelan lengan Bang Jack yang tebal.
Tamu berjalan silih berganti naik ke atas pelaminan, untuk mengucapkan selamat dan doa bagi kedua mempelai.
Tiba seorang gadis berjalan mendekat ke arah pasangan pengantin itu.
Hendra terkejut melihat gadis itu, matanya nyaris tak berkedip.
"Selamat ya, Mas? Semoga rumah tangganya langgeng dan bahagia selalu." ucap gadis itu sambil menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada, memberi isyarat salam pada Hendra.
"Danisha?" gumam Hendra.
Danisha tersenyum, lalu bergeser ke arah mempelai wanita. Doa dan ucapan yang sama ia ucapkan pada istri Hendra. Wajahnya menyunggingkan senyuman tulus melihat kebahagiaan Hendra yang sudah bersanding dengan wanita lain.
Danisha merasa wanita itu cocok untuk Hendra, dilihat dari penampilannya yang syar'i dan pembawaan yang santun dan lembut.
Ketika Danisha sudah menuruni tangga pelaminan, Tia lantas mendekatinya dan mereka saling berpelukan layaknya sahabat dekat.
"Aku pulang duluan ya, Ti?" pamit Danisha.
"Kok pulang? Baru aja dateng! Ngobrol-ngobrol dulu yuk? Om Hendrawan sama Darren juga lagi ngobrol sama Ayah dan Mas Igan tuh." cegah Tia.
"Enggak usah, aku enggak bisa lama-lama di sini. Walaupun aku yang ngelepasin Mas Hendra, tapi ngeliat dia bersanding sama wanita lain ... bikin hatiku hancur, Ti. Bener kata Papa, hatiku pasti terluka liat mereka, soalnya Papa tau kalau sebenernya aku masih cinta sama Mas Hendra." sahut Danisha, sedih.
Tia kembali memeluk Danisha, "Kenapa waktu kamu baru bebas enggak langsung temuin aku dan Kak Hendra, Dan? Kemungkinan kalian bisa sama-sama lagi kan masih ada." ucap Tia, sambil memeluk Danisha.
Danisha melepaskan pelukan Tia, ia tersenyum lalu menggeleng.
"Enggak Ti, pantang buatku menjilat ludah sendiri. Sekarang aku udah tenang karena Mas Hendra udah dapat pendamping yang baik, cantik dan insyaa Allah sholehah."
Tia menghela napas dalam-dalam, lalu tersenyum hangat pada Danisha.
"Ya udah, aku doain kamu secepatnya dapat jodoh juga, jodoh yang terbaik buat kamu dari Allah. Jangan sedih-sedih lagi ya?" ujar Tia.
Danisha mengangguk dan tersenyum, "Makasih, Tia. Aku pamit dulu ya? Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam ...."
Danisha melangkah mendekati papa dan kakaknya untuk pamit pulang terlebih dahulu. Namun Hendrawan dan Darren juga ikut pamit, karena tak tega melihat putri dan adiknya itu nelangsa sendiri.
Hendra menatap Danisha dan keluarganya berjalan keluar dari ruang resepsi. Ia merasa iba pada Danisha, tapi tak ada yang bisa ia lakukan selain mendoakan mantan tunangannya itu agar segera mendapat kebahagiaan juga seperti dirinya.
T A M A T
--------------------------------------------------------------------
Saya ucapkan terima kasih untuk yang sudah setia membaca kisah ini.
Semoga ada hal baik yang bisa dipetik dari karya saya, dan mohon maaf untuk segala kekurangan yang tentu masih ada di sana-sini, karena saya masih dalam tahap berlatih dan belajar.
Mohon dukungannya agar saya makin semangat dalam berkarya.🙏 🤗
Salam hangat dari author,
❤ Reen Ragil ❤