
"Malam Tante, udah nunggu lama ya?" ucap Siska pada perempuan yang menyambut di depan pintu.
"Enggak juga kok, ayo masuk?" sahut perempuan yang dipanggil tante Vio itu sembari matanya melirik dan tersenyum pada Danisha.
Tante Vio sudah melangkah masuk terlebih dahulu, ketika Siska juga akan melangkah masuk mendadak tangan Danisha menahannya.
"Sis, gue balik aja deh!" ujarnya.
Siska melotot, "Jangan macem-macem deh! Kita udah jauh-jauh sampe sini, masuk aja belom terus lu mau langsung balik?? Udah, ayo masuk!" paksa Siska.
"Lagian mau ngapain sih?? Gue enggak nyaman tau!"
"Ngobrol-ngobrol doang kok, lu mau gue kenalin sama Tante Vio."
"Lama enggak??"
"Enggak ... udah yuk, bawel!"
Siska menggandeng tangan Danisha dan memaksanya melangkah masuk.
"Ayo duduk sini. Jangan malu-malu ya?" Tante Vio kembali mempersilakan mereka.
Gue bukan malu, tapi takut! Ini enggak nyaman! batin Danisha memberontak.
Di meja sudah terhidang macam-macam makanan dan minuman segar.
"Ayo diminum dulu, kalian pasti haus kan?" Tante Vio kembali mempersilakan dengan ramah.
Siska langsung mengambil dua gelas minuman dengan kedua tangannya. Ia menyodorkan gelas di tangan kirinya kepada Danisha.
"Nih diminum." ujarnya.
Danisha tampak ragu untuk menerima, tapi tatapan Tante Vio yang terus tertuju padanya membuat ia merasa tak enak jika menolak.
Danisha menerima minuman itu dari Siska, namun masih ia pegang. Sedangkan Siska langsung meminumnya sampai habis setengah gelas.
"Ah, seger banget jus buahnya! Dan, ayo diminum! Enak tau!" ujar Siska sambil menoleh ke arah Danisha.
"Gue belom haus." tegas Danisha seraya meletakkan gelas itu kembali di atas meja.
Tante Vio tersenyum penuh arti melihat sikap Danisha.
"Oh iya Tan, dia ini yang namanya Danisha. Anak emasnya agensi Brigitta's Charming Model." ujar Siska.
Tante Vio mengangguk-angguk sambil menatap Danisha, lagi-lagi dengan senyumnya yang seakan penuh arti.
"Kamu cantik sekali, Danisha." puji tante Vio.
Danisha mengulas senyum, namun terkesan kikuk.
"Makasih." ucap Danisha, singkat.
"Kamu suka modelling?" tanya tante Vio.
"Ya."
"Kenapa?"
"Karena ini passion saya."
Tante Vio kembali mengangguk-angguk, lalu tersenyum sembari menatap Danisha dengan lekat.
"Gadis secantik kamu, pasti sudah punya pacar ya?" lanjut tante Vio.
Danisha terdiam sejenak, ia berpikir.
Ini orang nanya-nanya terus sih? Kayak lagi interogasi gue!
Siska menyikut lengan Danisha, lalu berbisik "Tante Vio nanyain tuh!"
Danisha terkesiap, "Euh ... kenapa Tante?"
Tante Vio tersenyum.
"Nih diminum dulu deh biar enggak blank kalo diajak ngomong." Siska kembali menyodorkan gelas minuman yang tadi ia berikan untuk Danisha.
"Tap-tapi gue ...." Danisha kembali berusaha menolak.
"Udah minum ... rejeki jangan ditolak!" paksa Siska seraya mencoba mencekoki Danisha.
Danisha meronta lalu memegang sendiri gelasnya.
"Gue bisa sendiri!" omel Danisha, kemudian meneguknya.
"Nah ... dari tadi kek!" seloroh Siska sambil tersenyum.
Danisha minum beberapa teguk, lalu kembali menaruh gelas itu di atas meja.
"Gimana, enak kan jusnya?" ledek Siska.
Danisha tersenyum tipis, ia menyeka mulutnya dengan tisu.
Obrolan kembali berlangsung dengan suasana yang dibuat lebih bersemangat oleh Siska, hingga tak terasa malam sudah semakin larut. Danisha tak mendengar suara apa-apa lagi, semua menjadi gelap dalam pandangannya.
*
Danisha membuka matanya perlahan, kepalanya terasa berat. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali sambil memegangi kepalanya yang pusing.
Namun ia merasa ada yang aneh saat mulai membuka matanya lebar-lebar.
"Dimana nih?" gumamnya.
Ia coba bangkit dari posisinya berbaring, dan ia jauh lebih terkejut. Ia melihat pakaiannya berserakan di mana-mana.
"****! Apa-apaan sih?? Kenapa gue begini??" rutuknya.
Ia membelitkan selimut ke tubuhnya lalu memunguti pakaiannya satu persatu. Ia masih tak ingat apa-apa. Tapi ia yakin kalau tak pergi ke tempat yang ia pastikan itu sebuah kamar hotel.
Dengan degup jantung yang tak menentu, ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan memakai pakaiannya.
Ia teringat Siska, "Siska kemana?? Kenapa gue sendirian di sini??" gumamnya.
Ia bergegas keluar kamar itu lalu pergi ke resepsionis.
"Selamat pagi, Mbak. Ada yang bisa dibantu?" sapa sang resepsionis.
"Siapa yang bawa saya ke sini? Kapan saya dibawa? Bagaimana ciri-ciri orangnya??" Danisha tanpa basa-basi langsung memberondongkan pertanyaan pada petugas di lobi itu.
"Maaf Mbak, tapi saya tidak tahu. Saya baru bertugas pagi ini." sahutnya.
"Coba dicek di daftar tamu dong!" bentak Danisha, ia mulai kalut karena sudah menyadari apa yang menimpa dirinya.
"Maaf Mbak, saya ...."
"Mana daftarnya?? Biar saya liat!" desak Danisha.
"Maaf, tapi tamu tidak diperkenankan Mbak."
"Kalo gitu CCTV, mana rekaman CCTV semalam??"
"Ini Pak, Mbaknya maksa mau liat daftar tamu sama rekaman CCTV." sahut resepsionis.
"Maaf Mbak, hanya petugas berwenang dan hanya untuk tujuan penyelidikan yang bisa meminta data seperti itu dari kami." tegas satpam itu.
"****!" lagi-lagi Danisha merutuk sambil memukul meja resepsionis.
Matanya langsung menatap sekeliling lobi itu. Ia melihat sebuah tulisan di dinding lobi, Kharisma Hotel.
"Saya minta alamat hotel ini." pinta Danisha.
Petugas resepsionis langsung menyebutkan alamat hotel itu, Danisha pun langsung memasukkannya dalam catatan di ponsel.
Ia membaca papan nama di seragam para petugas yang ada di depannya itu, lalu ia ketik dalam catatan ponsel.
"Makasih." Danisha langsung pamit dan mengorder taksi online.
Sepanjang perjalanan ia menangis, ia tak tahu harus bagaimana menjelaskannya pada papa dan kakaknya.
Ia coba menelepon Siska, namun tak ada respon. Ia yakin kalau Siska ada dibalik semua kejadian yang menimpanya.
Memasuki kawasan Dahlia Residence, seorang satpam menanyakan keperluannya.
"Selamat pagi, maaf boleh saya tahu tujuannya Mbak?"
"Saya mau ke rumah Tante Vio, blok C nomor 7."
"Baik, ditunggu sebentar ya Mbak?"
Satpam itu masuk ke dalam pos lalu seperti semalam, ia tampak menelepon si empunya rumah yang akan Danisha tuju.
"Gimana, Pak? Bisa kan??" Danisha langsung bertanya saat satpam itu baru keluar dari pos.
"Maaf Mbak, tapi kata yang jaga rumah Bu Vio nya lagi pergi sejak semalam." sahut satpam itu.
Danisha berdecak kesal, "Apaan lagi ini?? Tapi semalam kami masih ngobrol-ngobrol kok, sama temen saya juga. Emang dia perginya jam berapa??"
"Waduh, kalo soal itu saya kurang tau Mbak. Saya baru tugas tadi pagi, gantian shift sama temen saya."
"Nah, temen Bapak yang semalem jaga namanya siapa??" tanya Danisha dengan cepat.
"Ada dua orang kan Mbak, yang mana?"
"Yang agak gemuk, terus sipit."
Satpam itu tampak berpikir sejenak, lalu menjawab "Oh, kalo yang gemuk sipit itu namanya Nasir, tapi panggilannya Aceng, Mbak. Kalo yang satunya lagi Danu." paparnya.
"Tapi saya tetep harus ke rumah Tante Vio itu, Pak. Ada yang mau saya tanyakan." desak Danisha.
"Maaf, enggak boleh Mbak. Tadi yang jaga rumah juga udah dipesenin sama majikannya, katanya jangan nerima tamu."
Danisha tampak semakin kesal. Si pengemudi taksi online yang ia tumpangi melihat Danisha dari spion tengah.
"Maaf Mbak, jadinya gimana?" tanya pengemudi itu.
Danisha bingung, ia takut bercampur marah. Tapi ia tak tahu harus apa, akhirnya tangis pun pecah.
Pengemudi taksi itu panik melihat penumpangnya menangis. Ia pun pamit pada satpam, lalu menjauh dari pos jaga perumahan itu dan menepi.
"Maaf Mbak, kalau boleh saya tau ... Mbak ada masalah apa?" tanya pengemudi itu dengan hati-hati.
Dengan suara terisak pilu, Danisha menjawab.
"Saya dijebak, Pak! Sahabat saya semalam ajak saya ke rumah di komplek itu jam 9 malam, tapi pagi tadi saya bangun ternyata ada di kamar hotel!"
"Astagfirullahal adzim ... tega banget sahabatnya?! Terus temen Mbak itu gimana?"
"Dia enggak mau angkat telepon dari saya."
"Mending Mbak samperin aja ke rumahnya."
"Iya, Bapak bisa anter saya ke sana?"
"Bisa. Sebentar, aplikasinya saya matiin dulu ya?"
"Makasih Pak, nanti saya kasih lebih kok bayarnya."
"Iya Mbak, santai aja. Saya juga pengin niat nolongin kok. Oh iya, alamat rumah temennya dimana?"
"Di jalan Pemuda, Pak."
"Oh, oke-oke. Kita langsung ke sana aja ya?"
Danisha mengangguk lalu menyeka air matanya. Beruntung si pengemudi taksi online itu mau berbaik hati membantu.
Sesampainya di depan rumah Siska, Danisha tampak menggebrak-gebrak gerbang rumah itu, sambil terus memanggil-manggil nama Siska. Taksi yang ia tumpangi tetap menunggunya agak jauh.
"Mbak, cari siapa?? Kok bikin ribut sih?" tegur seorang ibu saat melihat Danisha yang seperti mengamuk.
"Siska, Bu. Dia ada di dalem kan??"
"Siska yang lagi hamil itu?? Dia udah diusir sama Pak RT di sini."
"Diusir?? Kenapa, Bu??"
"Ya itu, dia cewek enggak bener! Masa belom nikah tau-tau hamil?? Mana suka bawa cowok nginep juga di sini! Sering juga pulang jam 1 apa jam 2 pagi gitu, terus muntah-muntah di depan sini."
"Hamil??"
"Iya, orang dia pernah ngoceh sendiri waktu pulang-pulang mabok, terus ditegur sama warga. Akhirnya warga lapor ke RT, minta supaya dia diusir dari sini. Bikin resah soalnya!"
Danisha makin kalut, ia panik karena tak menemukan satu pun orang yang dianggap sebagai dalang dari kejadian di hotel itu.
Ia melangkah gontai masuk kembali ke dalam taksi yang setia menunggunya.
"Gimana, Mbak?" tanya si pengemudi.
"Temen saya udah diusir dari rumah itu Pak, gara-gara meresahkan lingkungan." sahut Danisha, tak bersemangat.
"Mending Mbak lapor polisi aja." saran pengemudi itu.
"Tapi saya takut, Pak."
"Takut kenapa, Mbak?"
"Pasti keluarga dan teman-teman saya jadi tau."
"Maaf Mbak, kalau soal itu cepat atau lambat juga pasti mereka semua tau. Apalagi kalau Mbak sampai ...."
"Hamil??" tukas Danisha.
Pengemudi itu mengangguk pelan, ia tak tega melihat Danisha.
Danisha menarik napas dalam-dalam, sebelum akhirnya mengambil keputusan.
****