
Jadwal cek kandungan tiba, Ellen dan Draco pergi ke kota untuk menemui dokter Luna yang selama ini memeriksa kandungan Ellen.
Memang di istana ada seorang dokter tapi hanya dokter umum saja, Draco tetap mempercayakan kandungan Ellen pada dokter Luna.
Saat pemeriksaan Ellen tak jemu melihat perkembangan bayinya di layar monitor USG dan cicitnya terus menanyakan setiap detail perkembangan janin itu.
Dokter Luna seperti biasa dengan sabar menjelaskan pada Ellen bagaimana keadaan kandungan pasiennya itu.
Sementara Draco sendiri hanya diam dan tidak bertanya apapun karena semua yang ada di kepalanya sudah terjawab dari pertanyaan istrinya.
Tapi, sebelum pergi Draco menyempatkan diri untuk berbicara empat mata dengan dokter Luna.
"Aku ingin bayiku lahir di istana De Servant jadi aku harap kau bersedia membantu kelahiran istriku nanti," ucap Draco yang berbicara tidak formal pada dokter Luna.
"Saya akan usahakan, Tuan," balas dokter Luna dengan seutas senyuman.
Namun, dokter wanita itu justru mendapat tatapan tajam dari Draco.
"I--iya, saya pasti akan membantu nyonya Ellen," ucap dokter Luna takut, dia kali ini menjawab secara pasti.
"Bagus." Draco langsung berdiri untuk mendatangi Ellen yang sudah menunggunya di luar.
Saat melihat Draco keluar, Ellen langsung menggandeng tangan suaminya.
"Kita jadi kencan, 'kan?" tanya Ellen.
"Hm. Aku tidak berpengalaman jadi aku tidak tahu harus berbuat apa," jawab Draco jujur.
"Serahkan semua padaku." Ellen semakin mempercepat langkahnya karena tidak sabar. Jarang-jarang dia bisa mengajak Draco berkencan dan lelaki itu suka rela menerimanya.
Bukan taman hiburan seperti sebelumnya menjadi tujuan Ellen tapi perempuan itu membawa Draco ke sebuah panti asuhan.
"Buat apa kita kemari?" tanya Draco.
Ellen tidak menjawab tapi dia membawa Draco masuk ke dalam panti asuhan itu. Ellen memberikan sumbangan kemudian meminta izin untuk meminjam bayi yang ada di sana.
"Kau harus belajar menggendong bayi, King," ucap Ellen yang tengah menimang bayi berusia satu bulan.
Draco menelan ludahnya melihat manusia sekecil itu.
"Tidak apa-apa, sebentar lagi kita akan mempunyai yang seperti ini." Ellen perlahan memberikan bayi itu di tangan Draco.
Draco yang gugup menerima bayi itu dengan kaku, saat bayi sudah berada di tangannya dia jadi panik. "Dia bergerak!" serunya.
"Kalau tidak bergerak justru akan aneh," ucap Ellen dengan kekehan.
"Sepertinya dia tidak nyaman," ungkap Draco karena bayinya yang terus bergerak.
"Coba kau rileks pasti bayinya juga ikut rileks." Ellen terus membimbing calon ayah itu. Dia ingin saat bayi mereka lahir nanti, Draco sudah siap sepenuhnya secara mental.
Trauma itu harus sepenuhnya hilang dari diri Draco karena Ellen tahu sampai sekarang suaminya masih kesulitan membaca.
Draco mencoba mengikuti instruksi Ellen, dia mulai merilekskan dirinya dan menimang perlahan bayi yang ada di gendongannya seperti yang suster lakukan di panti itu. Karena sedari tadi Draco menjadi pusat perhatian di sana.
"Kau berhasil, King," bisik Ellen supaya bayi itu tidak terbangun.
Draco tersenyum tipis, walaupun keringat dingin bercucuran di pelipisnya.
"It's okay." Ellen kembali meraih bayi itu dan mengembalikan pada suster di sana.
Setelah selesai, Ellen mengelap peluh suaminya.
"Apa sudah lebih baik?" tanya Ellen.
"Ya, aku hanya membayangkan bayi itu adalah Freya yang diambil Robert," sahut Draco yang jadi memikirkan adiknya yang malang.
"Kenapa Freya belum kembali?"
Draco mencoba menghubungi Freya tapi dicegah oleh Ellen yang tahu hubungannya gadis itu dengan Eros.
"Drac, biarkan Freya. Aku yakin dia aman bersama Eros," cegah Ellen.
"Aku tidak yakin, bagaimana kalau Eros memanfaatkan adikku," ucap Draco yang masih ingin tahu kabar Freya.
"Jangan salah, justru Freya yang memanfaatkan tubuh Eros," ungkap Ellen.
"Apa?"
"Sepertinya di De Servant akan ada pesta pernikahan lagi."
_
Rekomendasi Author
Sambil nunggu up lagi, baca juga karya baru temen othor, ya.
Judul : Disaat Menikah Karena Perjodohan
Napen : HaruMini
Blurb
Follow IG: harumini_12
“Percuma shalat, mainnya saja ke klub malam,” cibir Meri pada sang suami yang belum ada sehari menikahinya.
“Dari pada kamu, shalat tidak, ke klub malam iya,” celetuk Oza, seorang pria tampan, pemilik beberapa hotel bintang lima didalam dan juga luar negeri. Yang terpaksa menerima perjodohan yang dilakukan oleh sang mommy, dengan gadis yang ditemuinya di klub malam saat dia sedang menghadiri acara pesta ulang tahun rekan kerjanya.
mengingat keduanya bertemu pertama kali di sebuah klub malam, membuat keduanya salah paham, tanpa tahu yang sebenarnya terjadi. Mengingat lagi pertemuan keduanya di klub malam, mereka sama- sama menghadiri pesta ulang tahun.
Bagaimana keduanya menjalani rumah tangga yang bagaikan kucing dan anjing, akankah ada cinta yang tumbuh diantara keduanya dengan berjalannya waktu, atau sebaliknya ketika mereka sama-sama memiliki pujaan hati.