
Setelah keluar dari kamar pribadi Robert, Loyd semakin membulatkan tekadnya. Dia kemudian mencari Enzo yang berada di kastil dewan.
"Akhirnya kau datang, kau melewatkan sesuatu yang penting," ucap Enzo saat melihat Loyd datang.
"Aku justru kemari membawa sesuatu yang penting," balas Loyd yang enggan duduk di kursinya.
Loyd memilih tetap berdiri dan berkata pada Enzo. "Kita harus segera mencari buronan, aku melihat Ellen sudah menampakkan diri!"
Mendengar itu, Enzo langsung membubarkan rapat, dia ingin berbicara empat mata pada Loyd.
"Di mana dia?" tanya Enzo saat ruangan dewan sudah sepi.
"Di sebuah club, aku tidak tahu apa yang dia lakukan di sana," jelas Loyd tampak santai. "King Robert sudah memberi perintah untuk menangkap buronan!"
"King ingin Draco dan Freya dibawa hidup-hidup, sisanya bisa kita habisi sesuka hati," sambung Loyd.
"Bukankah ada anakmu di sana?" tanya Enzo seraya menepuk pundak Loyd bersahabat. "Bagaimana kalau kita menyelamatkan mereka?"
"Apa maksudmu?" tanya Loyd pura-pura tidak mengerti.
"Kau bisa menyelamatkan putramu dan aku akan menyelamatkan Ellen," jelas Enzo.
"Bukankah itu artinya kita menyelamatkan pengkhianat?" tanya Loyd lagi.
"Kita melakukannya di belakang king Robert dan ini akan menjadi rahasia kita," balas Enzo yang terobsesi dengan Ellen.
Loyd setuju saja, ada tidaknya kesepakatan dengan Enzo, dia pasti akan menyelamatkan Ruzel apapun yang terjadi.
Mereka pun pergi ke club di mana Ellen berada, Loyd dan Enzo masuk ke dalam club hanya berdua karena ingin melihat situasi. Tapi, di luar para anggota menunggu mereka, mereka hanya perlu memberi kode saja saat membutuhkan bantuan.
"Di mana Ellen?" gumam Enzo yang mencari perempuan itu.
"Lihatlah ke arah panggung," ucap Loyd seraya menegak cocktail yang baru saja dia pesan.
"Apa yang dia lakukan?" Enzo semakin tertarik, dia mengamati seksama tubuh Ellen yang seksi dan begitu menggoda.
Rupanya Ellen akan menari striptis di atas panggung, Enzo menyukai itu. Matanya tidak berkedip melihat tubuh Ellen yang meliuk-liuk dan memutar di tiang pole dance.
Enzo menelan ludahnya beberapa kali, dia ingin Ellen menjadi miliknya.
Saat musik berhenti, Ellen juga berhenti, dia ingin kembali ke belakang panggung di mana ruang ganti berada.
"Aku akan mengikuti Ellen," ucap Enzo seraya melangkahkan kakinya menjauhi Loyd.
Loyd tidak menanggapi karena dia ingin memanfaatkan kelengahan Enzo untuk mencari Ruzel.
"Kalau ada Ellen pasti ada king Draco dan Kerel," gumam Loyd yang ingin mencari salah satu orang yang dia sebutkan.
Sementara Enzo yang mengikuti Ellen berhenti di salah satu ruang ganti. Di sana Enzo mendengar Ellen yang tampak berkelahi dengan seseorang. Dan seseorang itu adalah Draco yang marah pada Ellen.
"Kau menjual tubuhmu pada pria-pria hidung belang, dasar jalaang!" bentak Draco pada Ellen seraya menjambak rambut perempuan itu.
"Ini karena kau yang selalu menahanku untuk pergi, aku tidak mau hidup denganmu, Drac," ucap Ellen dengan menangis terisak.
"Pergi kau bilang, jangan harap kau bisa pergi dariku!" Draco memaksa Ellen untuk membuka kedua kakinya kemudian dengan kasar lelaki itu melakukan penyatuan dengan membelakangi pintu.
"Sakit, Drac! Hentikan!" teriak Ellen.
Enzo yang melihat itu dari celah pintu yang terbuka jadi terangsang. Dia selalu terangsang pada perempuan yang disentuh oleh lelaki lain seperti itu apalagi Draco bermain dengan kasar.
"Berteriaklah terus, Ellen!" batin Enzo seraya bermain dengan miliknya sendiri.
Kerel yang mengamati gerak gerik Enzo sedari tadi merasa jijik dengan apa yang dilakukan oleh Enzo tersebut.
"Sepertinya sudah cukup, Drac!" lapor Kerel melalui chip yang mereka pakai. Dia ingin Draco dan Ellen berhenti melakukan akting panas mereka.