
Keesokan paginya, Ellen terbangun dengan menggeliatkan tubuhnya. Dia membalik badan dan mendapati Draco yang memicingkan mata ke arahnya.
"Kau tidak tidur, Drac?" tanya Ellen.
Draco mengeratkan gigi gerahamnya menahan emosi karena Ellen memasang wajah tidak bersalah sama sekali, lelaki itu kemudian turun dari ranjang untuk membersihkan diri di kamar mandi.
"Ada apa dengannya? Seharusnya yang marah itu aku?" kesal Ellen seraya menggulingkan badannya.
Sampai dia teringat kalau saat ini tengah berbadan dua.
"Astaga, apa aku menyakiti bayiku? Aku harus lebih hati-hati sekarang," gumam Ellen sambil mencari ponsel Draco yang berada di atas nakas.
Setelah mendapat ponsel itu, Ellen mencoba menghubungi Kerel untuk meminta dibelikan alat tes kehamilan.
"Kau hamil?" balas Kerel.
"Aku ingin memastikan jadi rahasiakan dulu dari King," jawab Ellen.
"Baiklah, aku menunggumu di markas Wolf Shadow," tulis Kerel lagi. "Oh iya, aku sudah menikahi Rara!"
Mata Ellen terbelalak membaca pesan dari Kerel itu, dia tidak menyangka Kerel akan seserius itu pada Rara. Sementara Draco?
"Aaaaa..." Ellen berteriak tertahan karena dia menutup wajahnya dengan guling.
Bersamaan dengan itu, Draco keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakan handuk yang melilit pinggangnya.
Ellen menatap tubuh Draco dengan seksama kemudian naik ke wajahnya. "Apa aku benar mengandung anak dari laki-laki itu? Bagaimana anak kami nanti?"
Memikirkan itu membuat kepala Ellen pusing sendiri. Yang jelas anaknya harus mempunyai status sah sebagai pewaris De Servant.
"Drac..." panggil Ellen. "Kerel menikah dengan Rara!"
Draco menatap Ellen dengan melipat kedua tangannya. "Lalu?"
"Itu..." Ellen memainkan dua jari telunjuknya karena bingung cara mengatakannya pada Draco. "Kita akan menikah, 'kan?"
Draco mengangguk. "Tentu saja, kita akan menikah jika sudah kembali ke De Servant!"
Mendengar itu, Ellen bernafas lega, masalahnya sekarang adalah anak yang dikandungnya. Apa Draco mau menerimanya?
"Aku harus melakukan tes terlebih dahulu," batin Ellen sebelum memberitahu Draco mengenai kehamilannya.
Ellen kemudian membersihkan dirinya dan segera pergi ke markas Wolf Shadow.
Di perjalanan, Ellen meminta Draco untuk berhenti di kedai sandwich karena dia ingin membeli sarapan. Porsi double untuk Ellen dan porsi single untuk Draco.
"Kau takut aku jadi gendut?" tanya Ellen dengan mulut penuh dengan sandwich.
"Bukan begitu..." Draco terus fokus menyetir dan sesekali menerima suapan dari Ellen. "Tadi malam, apa yang membuatmu menangis?"
Draco akhirnya bertanya karena dia merasa karena hal itu Ellen jadi tidak mau menggodanya lagi.
"Aku merasa sedih karena kematian orang tua dan kakekku memang telah direncanakan oleh Robert dan Enzo. Tapi, semua itu sudah sedikit terobati karena rencana kita berhasil," jawab Ellen.
Draco mendengus kasar karena begitu tidak peka, dia masih belajar memahami wanita jadi lain kali dia akan berusaha lebih peka terhadap Ellen.
"Jangan menangis lagi karena aku bingung harus berbuat apa," pinta Draco kemudian.
"Aku tidak bisa janji untuk hal itu," balas Ellen yang kembali memakan sandwich nya.
Setelah perjalanan cukup jauh, mereka akhirnya sampai di markas Wolf Shadow berada. Ellen dengan cepat turun dari mobil untuk mencari Kerel.
Di dalam markas semua sudah berkumpul untuk membicarakan strategi selanjutnya. Saat melihat Draco datang, semua berdiri dan menunduk hormat.
Dari sini Draco sadar menjadi King tidak harus duduk di singgasananya untuk dihormati. Setelah ini Draco pasti akan melakukan revolusi besar-besaran di kingdom De Servant.
Selama ini dia selalu sibuk dengan urusan luar dan mempercayakan semua pada Dante. Hal seperti itu tidak akan terulang lagi.
"Kerel..." Ellen mendekati lelaki itu dan berbisik karena meminta alat tes kehamilan.
"Kau bisa minta pada Rara!" balas Kerel.
Ellen tidak ikut rapat, dia memilih mencari Rara yang berada di dapur bersama Freya.
"Kalian sedang membuat apa?" tegur Ellen seraya duduk di meja pantry.
"Membuat sarapan yang kesiangan," jawab Freya asal.
Ellen kemudian menatap Rara dengan seutas senyuman. "Selamat atas pernikahanmu Rara!"
Rara tersenyum malu-malu sampai dia mengingat alat tes kehamilan yang dibeli Kerel sebelumnya.
"Ini pesanan anda, Nona," ucap Rara seraya memberikan alat tes kehamilan itu.
Jantung Ellen tiba-tiba berdesir hebat jika dia memang hamil berarti bayinya sangat kuat di rahimnya. Dia mengingat sebelumnya sudah ditendang Dante beberapa kali ditambah harus melakukan hal ekstrim lainnya.
"Aku akan memastikannya dulu!" Ellen bergegas pergi ke toilet yang ada di dapur.