
Eros menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ellen padahal sebelumnya perempuan itu seperti serigala betina yang siap melahap mangsanya.
"Apa dia mempunyai kepribadian ganda?" gumam Eros.
"Ellen itu sudah terpesona dengan kakakku makanya dia seperti itu," timpal Freya yang mendengar gumaman Eros. Mereka saat ini tengah mempersiapkan senjata yang akan mereka bawa.
"Kau seperti membicarakan dirimu sendiri," sindir Eros.
"Aku akui, aku memang sempat tertarik dengan Draco. Semakin dia mengabaikan aku, aku semakin ingin mengejarnya," sahut Freya jujur.
"Jadi, kau suka laki-laki seperti itu?" tanya Eros seraya mendekati Freya. Dia meraih pinggang ramping gadis itu sampai badan Freya membentur dadanya. "Bagaimana kalau kau mengubah tipemu?"
"Mengubah yang seperti apa?" tanya Freya menantang.
"Seperti ini..." Eros menjatuhkan wajahnya di leher Freya kemudian menghisap leher putih itu sampai tercipta tanda merah.
"Ugh, kau memang selalu curang, Komandan," ucap Freya seraya memundurkan badannya. Dia memilih pergi dari lelaki agresif itu.
Tapi, saat membalik badannya Freya tersenyum kecil dan menyentuh lehernya yang telah diberi tanda dari Eros.
Di sisi lain, Kerel menemui Rara dan Ruzel yang berada di dapur. Di sana Rara menyiapkan bekal untuk dibawa tim, dia tidak tahu hal itu membantu atau tidak, setidaknya dia ingin sedikit berguna.
"Rara..." panggil Kerel yang mengalihkan atensi gadis itu.
Rara tersenyum melihat suaminya yang sudah kembali, dia segera mengambil minum dan memberikannya pada Kerel.
"Apa kau lapar?" tanya Rara perhatian.
"Aku sudah makan bersama Draco saat perjalanan kemari," jawab Kerel seraya menerima minum dari Rara dan meminumnya. Dia kemudian membimbing istrinya untuk duduk. "Dengarkan aku, ada tugas yang harus kau lakukan jadi kau akan menyusup bersama Ruzel di misi ini!"
"Apa itu?" tanya Rara penasaran. Akhirnya dia akan berguna.
"Kau harus bisa menyelamatkan para pelayan istana, bimbing mereka untuk keluar dari istana melewati pintu rahasia," jelas Kerel.
Kerel bergantian menatap Ruzel yang sedari tadi hanya sebagai penonton suami istri itu.
"Kau pasti tahu jalan rahasia itu, 'kan?" tanya Kerel pada Ruzel.
Ruzel mengangguk. "Aku tahu semua seluk beluk istana!"
"Bagus, setelah ini berbaikanlah dengan ayahmu!" Kerel mengacak rambut Ruzel lalu meraih tangan Rara.
Rara mencium tangan Kerel dengan memejamkan matanya. "Berjanjilah untuk selamat tanpa kurang suatu apapun!"
"Tentu saja, aku kan belum mengajarimu pelajaran sulit itu," balas Kerel dengan kerlingan mata. Dia berusaha membuat istrinya untuk tidak khawatir.
Ruzel yang melihat semua interaksi tim yang mulai dimabuk cinta hanya bisa mengelus dadanya. "Untung aku bukan anak kecil jadi mentalku kuat!"
Tak lama suara Eros terdengar menggema karena lelaki itu memanggil semua tim untuk berkumpul.
Saat semua tim sudah berkumpul, Eros membagi tugas mereka masing-masing. Mereka semua berharap Loyd dan Patrick juga sudah bersiap.
Draco melihat satu persatu orang yang mendukungnya dan bersedia berjuang untuk merebut tahtanya kembali.
Kemudian dia melirik ke arah sampingnya di mana ada Ellen yang selalu setia walaupun Draco menolaknya berulang kali.
Draco menggenggam tangan Ellen tanpa memandang perempuan itu.
"Astaga, King..." Ellen tersenyum kesenangan mendapat perhatian kecil seperti itu. Saat ini Ellen sedang labil, kadang dia bisa marah, sedih dan senang dalam waktu bersamaan.
Sebelum masuk ke mobil van yang akan membawa mereka ke wilayah De Servant, Draco menahan Ellen sebentar.
Ellen kira Draco akan menciumnya dengan panas. Tapi, ternyata lelaki itu memberinya sebuah tugas.
"Tugasmu adalah ke stadion dan masuk ke ruang ganti di mana baju besi serta peralatan gladiator berada, ambilkan tombak yang berada di tempat kaca untukku," ucap Draco.
"Baiklah," sahut Ellen tanpa mau membantah dan memberi pertanyaan yang tidak dia mengerti.
Karena Ellen menunggu Draco menciumnya, Ellen menutup mata dan memajukan bibirnya tapi beberapa detik berlalu dia tak kunjung mendapat ciuman yang dia inginkan.
Justru Draco meninggalkan Ellen begitu saja.
"Ish, awas kau King! Lihat saja aku akan jual mahal!" teriaknya.
"Bukankah aku pernah mengatakannya?"
Ellen mengacak rambutnya sendiri. "Aku selalu tidak tahan dengan ketampanannya! Aaaa... Tunggu aku, King!"
_
Dasar labilš¤£