
Di sisi lain, Enzo yang sudah pulih memimpin pencarian Draco. Dia menemukan drone Ruzel yang dibuat untuk mengalihkan pencarian.
"Aku pasti menemukan kalian!" Enzo meremas drone di tangannya sampai hancur.
Enzo jadi mendapatkan ide supaya Draco datang sendiri padanya.
"Panggil Loyd!" perintah Enzo kemudian.
Pada saat itu, Loyd baru kembali dari kawasan hutan bersama para anjing pelacak. Loyd segera menemui Enzo setelah tahu lelaki itu memanggilnya.
"Bukankah ini buatan anakmu?" tanya Enzo memperlihatkan drone Ruzel yang sudah dia hancurkan.
"Dia memang berbakat, aku bahkan tidak bisa melacaknya karena Ruzel menutup semua akses dan mengirimkan bug ke komputerku," jawab Loyd.
Loyd mulai curiga jika Enzo akan memanfaatkan dirinya. Dia mengeluarkan pistolnya dan mengarahkan ke kepala Enzo.
"Jangan harap kau bisa memanfaatkan aku, isi kepalamu aku bisa membacanya," ucap Loyd penuh penekanan.
Enzo terkekeh karena niatnya sudah ketahuan. "Kau memang susah ditebak, kau mengkhianati Draco, siapa tahu kau akan mengkhianati kami juga!"
"Aku bahkan tidak tahu bekerja dengan siapa," balas Loyd seraya menurunkan pistolnya.
Loyd membalik badan dan pergi begitu saja, dia lebih mencemaskan keadaan Ruzel dari pada urusan istana. Dia menyalahkan Dante atas semuanya.
...***...
Di markas Wolf Shadow
Ellen membersihkan dirinya setelah sampai di markas rahasia tersebut. Ellen mengguyur tubuh telanjang di pancuran shower.
Sekarang tujuannya berubah total, bukan untuk membunuh Robert saja tapi dia harus mencari tahu pasti kematian kedua orang tua dan kakeknya.
Dan Enzo pasti tahu semuanya.
"Arghhh!" Ellen berteriak karena merasa dikhianati berkali-kali lipat.
Setelah selesai mandi, Ellen memakai baju seadanya. Dia kemudian ikut bergabung dengan yang lainnya di meja makan.
"Dia butuh waktu sendiri, aku tidak mau mengganggunya," jawab Kerel.
Ellen duduk di antara Kerel dan Eros, dia mengambil roti dan memakannya. "Jadi, apa rencana kita untuk melawan Robert?"
Setelah selesai makan, mereka semua berkumpul di ruangan yang biasanya digunakan untuk rapat misi.
Eros berdiri di depan papan dengan tangannya yang memegang spidol. Eros menggambar struktur istana De Servant dengan seksama di papan itu.
"Bukankah Robert ingin duduk di kursi king? Bagaimana kalau kita memberikannya," ucap Eros saat selesai menggambar.
"Maksudmu kita akan menyerah?" Kerel tampak tidak setuju.
"Bukan menyerah tapi...." Eros melingkari kursi dewan istana. "King membutuhkan anggota dewan untuk mengurus istana, dia tidak akan bisa berdiri sendiri!"
"Robert pasti akan membentuk anggota dewan baru untuk mendukungnya!"
Ellen sepertinya mulai paham apa yang dimaksud Eros. "Jadi kita akan membuat kandidat dewan itu ada dipihak kita?"
"Ya, benar sekali. Biarkan Robert duduk di kursinya dan kita ambil semua anggotanya, dia tidak akan bisa berbuat apa-apa jika sendirian!" balas Eros.
Kerel berseringai. "Ini saatnya menunjukkan kekuatan De Servant bukan?"
"Anggota di istana adalah anak buah kita yang dilatih oleh king Draco sendiri, mereka hanya kehilangan arah termasuk Loyd," ucap Eros seraya melirik Ruzel.
Ruzel tersenyum akhirnya ayahnya ada harapan untuk selamat.
"Untuk melancarkan aksi kita, kita butuh kekompakan penuh dan fokus," tambah Eros.
"Ini perfect mission," gumam Ellen.
Ellen menatap Freya di sana, dia mengepalkan satu tangannya di depan perempuan itu. "Jadi, sekarang kita satu tim?"
"Satu tim!" Freya membalas dengan kepalan tangan.