
Setelah kepergian Loyd, Draco ingin menyusul Ellen karena khawatir dengan keadaan pengantinnya.
"Aku akan menemui pengantinku sendiri, kau bisa bergabung dengan Eros untuk melakukan misi selanjutnya," ucap Draco seraya mengambil kunci mobil yang ada di tangan Kerel.
"Baiklah, lebih baik kau nanti juga menyusul karena kita akan membuat antidote," balas Kerel.
Akhirnya keduanya berpisah, sebelum bergabung dengan Eros, Kerel menjemput Rara yang dia tinggal di hotel. Dia kesal jika mengingat Rara menyamakan miliknya dengan gulungan roti.
"Gadis itu memang harus banyak-banyak diberi pelajaran," gerutunya.
Saat sampai di kamar hotel, Rara baru selesai mandi jadi gadis itu masih memakai bathrobe. Baju bersihnya sudah habis jadi dia berencana memakai baju Kerel yang ada.
Pada saat itu, Rara meraih sebuah kemeja Kerel dan menciumnya. Rara menyukai aroma Kerel, memikirkan apa yang telah Kerel ajarkan padanya membuatnya malu.
"Sebenarnya hubungan apa yang aku jalani dengan tuan Kerel," gumam Rara jadi bertanya-tanya.
Kerel bilang ingin melindunginya tapi nyatanya hubungan mereka tidaklah jelas.
"Lebih baik aku cepat memakai baju," sambung Rara.
Bersamaan dengan itu, pintu kamar hotel terbuka karena Kerel mempunyai passcard cadangan yang dia minta dari petugas hotel.
Kerel bisa melihat tubuh polos Rara yang ingin mengenakan baju.
"Kyaaaa..." Rara langsung meloncatkan diri ke atas ranjang dan menutupi tubuhnya dengan bedcover. "Tu... tuan, kau sudah kembali?"
"Ehem!" Kerel berdehem dan mencoba bersikap santai. "Apa kau sudah siap? Kita akan pergi menemui Eros!"
"Saya tidak punya baju ganti," jawab Rara.
"Kau bisa memakai bajuku sementara, di perjalanan nanti kita beli beberapa baju untukmu," ucap Kerel seraya mendudukkan diri di sofa. Dia ingin istirahat sejenak.
Perlahan Rara turun dari ranjang dengan membungkus dirinya memakai bedcover. Gadis itu mencari baju Kerel yang telah dia lempar sebelumnya untuk dia pakai.
Dan hal itu menjadi pemandangan lucu bagi Kerel, di luar sana banyak wanita yang bersedia membuka baju terang-terangan di depan matanya tapi Rara jauh berbeda dengan mereka.
Di sisi lain, Draco sudah sampai di markas rahasia di mana Ellen berada. Berbekal GPS yang terpasang pada alat yang dibawa Ellen, memudahkan Draco untuk mencari pengantinnya.
"Masuklah, Drac!" ucap Ellen.
Draco menelisik tempat itu dengan seksama kemudian atensinya mengarah pada meja yang penuh dengan makanan.
Tanpa banyak kata, Draco langsung membuang semua makanan itu.
"Apa yang kau lakukan, Drac!" protes Ellen yang kelaparan.
"Aku akan membelikan makanan baru," sahut Draco yang tidak mau Ellen menyantap makanan pembelian dari Enzo.
Tidak mau berdebat, Ellen mendudukkan diri di sofa dan Draco menyerahkan ponselnya pada Ellen.
"Pesanlah makanan dari ponselku," ucapnya.
"Kau tahu ini akan membutuhkan waktu yang lama untuk menunggu," ketus Ellen seraya mengambil ponsel Draco.
Ponsel itu tampak tidak pernah tersentuh dan seperti baru dari pabrik jadi tidak ada aplikasi pesan antar makanan.
"Lebih baik aku makan seadanya saja," ucap Ellen berdiri dan memeriksa isi kulkas. Beruntung ada beberapa bahan untuk membuat omelet.
Ellen segera memasak karena dia dan bayinya harus makan.
"Aku harus memeriksanya supaya lebih yakin tapi masalahnya..." Ellen menatap Draco yang duduk santai sambil memejamkan matanya.
"Ck! Dia bahkan tidak peduli padaku seharusnya kau memeluk dan mengkhawatirkan keadaanku!" decak Ellen sebal.
Setelah mendengar dari Enzo kalau kematian orang tua dan kakeknya memang direncanakan membuat Ellen terguncang. Apalagi sekarang ada kehidupan baru di tubuhnya jika ayah bayinya saja tidak peduli bagaimana nasib anaknya kelak.
Ellen kembali dilanda rasa mual, perempuan itu berlari ke kamar mandi dan muntah-muntah. Badan Ellen mulai lemas dan dia menangis tersedu-sedu di sana. Mungkin karena hormon kehamilan membuat Ellen jadi emosional.
"Apa yang terjadi?" Draco yang menyusul ikut berjongkok dan dia terkejut karena melihat Ellen yang menangis. Baru pertama kali dia melihat perempuan itu menangis, Draco jadi bingung harus berbuat apa.
Draco mengulurkan tangannya karena ingin mengusap air mata Ellen tapi dia dibuat semakin terkejut karena tangannya ditampik begitu saja oleh pengantinnya.
"Jangan sentuh aku!" ucap Ellen dengan memalingkan wajahnya.