Penggoda King Mafia

Penggoda King Mafia
PKM BAB 64 - Perlawanan


Ellen menunggu hasil dari alat tes kehamilan dengan jantung berdebar. Dia duduk di atas closet sementara satu tangannya memegang alat tes itu serta kakinya yang tidak bisa diam.


"Garis dua!?" pekiknya.


Ellen bernafas lega karena dia memang benar-benar hamil. Sekarang dia bingung bagaimana caranya berbicara pada Draco.


Sudah dipastikan Draco akan menolaknya karena kehadiran bayi mereka bukan pada waktu yang tepat.


"Ellen... Ellen..." panggil Freya seraya mengetuk pintu toilet di mana Ellen berada. "Apa kau baik-baik saja?"


Tak lama pintu dibuka oleh Ellen dengan memperlihatkan hasil tes kehamilannya.


"Aku positif hamil," ucap Ellen dengan lesu.


Freya mengerutkan keningnya dalam karena melihat ekspresi Ellen yang tampak tidak senang. "Kau tidak menginginkan bayimu?"


"Bukan aku tapi kakakmu, aku bingung bagaimana cara memberitahunya, apalagi sekarang waktunya tidak tepat," balas Ellen seraya berjalan ke arah dapur dan duduk di meja makan.


Di meja makan itu sudah tersaji beberapa menu makanan.


"Bagaimana pun tanggapan kakak ku mengenai kehamilanmu, kau harus tetap memberitahunya, aku akan membantumu," ucap Freya yang menyusul Ellen dan duduk di sampingnya.


Rara yang merasa makanan sudah siap bergegas memanggil Kerel dan yang lainnya. Gadis itu tidak ingin ikut campur masalah pribadi Ellen walaupun hatinya menjadi gundah karena takut Kerel yang juga tidak menginginkan anak.


Tangan kurus Rara mengetuk pintu di mana ruang yang digunakan untuk rapat berada.


Saat pintu terbuka, Rara kelihatan kaget karena Patrick yang membukanya.


"I-- itu makanannya sudah siap," ucap Rara tertunduk.


Melihat ada Rara, Kerel bergegas berdiri dan mendorong tubuh Patrick yang masih berdiri di ambang pintu.


"Jangan menakuti istriku!" ucap Kerel.


"Aku tidak melakukan apapun, kau terlalu sensitif, Bro!" Patrick memundurkan badannya dan keluar untuk menuju dapur.


"Jangan bertindak berlebihan seperti itu," ucap Rara yang tidak enak hati, dia merasa menjadi perempuan lemah yang tidak bisa apa-apa selain melakukan pekerjaan rumah tangga.


"Aku hanya ingin menjaga istriku," balas Kerel seraya mengusap pipi Rara.


Entah kenapa karena tidak biasa melihat Kerel yang seperti itu membuat Draco ingin muntah.


"Ayo kita ke dapur King!" ajak Eros yang membuat atensi Draco teralihkan.


Draco sebenarnya tidak lapar tapi karena dia yakin ada Ellen di dapur jadi dia menerima saja tawaran Eros.


Di meja makan dapur yang tak seberapa besar itu, sudah berkumpul tim inti De Servant. Mereka makan apa yang ada di meja tapi tidak dengan Ellen yang hanya diam saja.


"Kau kenapa?" tanya Ruzel yang duduk di samping Ellen.


"Hanya butuh udara segar, setelah ini temani aku, okay," sahut Ellen.


Mendengar itu, Freya menendang kaki Ellen karena sesuai pembicaraan mereka tadi, Ellen harus segera memberitahu kehamilannya pada Draco.


"Aku belum siap," bisik Ellen.


"Lantas siapnya kapan?" tanya Freya tidak sabar.


Karena tidak mau mengulur waktu akhirnya Freya sendiri yang memberi pengumuman penting itu.


"Ehem! Dengarkan semuanya, sekarang Ellen tengah mengandung calon pewaris De Servant jadi aku harap kalian semua bisa bekerja sama untuk menjaga kandungan Ellen," ucap Freya yang membuat semua orang yang ada di meja makan tidak percaya termasuk Draco.


Draco hanya memberi respon dengan matanya yang melebar dan hal itu membuat Freya jengah. Saat menjadi istrinya dulu dia sudah sering diabaikan oleh lelaki itu, jangan sampai Draco memperlakukan keponakannya begitu juga.


"Dengarkan aku, Brother!" Freya mengambil pistol yang dia sembunyikan di pahanya kemudian mengarahkan pistol itu ke kepala Draco. "Jika kau berani menolak kehamilan Ellen, itu artinya kau berhadapan denganku!"


Eros yang melihat tindakan Freya hanya bisa memijit pelipisnya. "Setelah ini, aku harus memeriksakan mataku, kenapa semua tindakan Freya di mataku begitu seksi!"