Penggoda King Mafia

Penggoda King Mafia
PKM BAB 65 - Strong Woman


Ellen langsung menarik tangan Freya karena perempuan itu sudah berani menodongkan senjata pada Draco.


"Apa yang kau lakukan?" bisik Ellen.


Sementara Draco sendiri tampak santai, lelaki itu menatap Ellen sebentar kemudian berdiri dan berjalan meninggalkan meja makan.


Ellen yang melihat respon Draco yang seperti itu tentu saja kecewa bukan main.


"Biar aku yang berbicara padanya," ucap Kerel yang ingin mengikuti Draco.


Freya mendengus kasar, dia mengambil potongan daging dan memberikannya pada Ellen. "Jangan terlalu dipikirkan, mungkin kakak ku butuh waktu, kau tahu kan keluarga kami rumit, setidaknya beri makan keponakanku dulu!"


"Sebaiknya jangan mencampurkan urusan pribadi dengan misi yang akan kita jalankan," timpal Eros.


"Oh iya?" Freya meraba kaki Eros menggunakan kakinya di bawah meja. "Kau bertindak seperti seorang komandan sungguhan!"


Eros berusaha bersikap santai walaupun tubuhnya menegang karena pahanya kini diraba oleh kaki Freya.


"Awas saja kau, Freya!" batinnya mulai memindai sasaran selanjutnya.


Sementara Kerel yang menyusul Draco sebelumnya, sekarang duduk di samping lelaki itu yang berada di atap markas. Kerel mengeluarkan kotak rokoknya kemudian membukanya untuk dia berikan pada Draco.


Draco mengambil satu batang rokok dan menyalakannya. Keduanya terdiam sejenak karena masih menikmati benda bernikotin itu dengan pikiran mereka masing-masing.


"Jadi, kau akan menjadi seorang ayah," ucap Kerel membuka suaranya.


Draco enggan menanggapi karena pikirannya sedang kalut. Dia sama sekali tidak pernah memikirkan masalah anak jadi menerima kehamilan Ellen adalah sesuatu yang tidak mudah.


"Kau tahu semenjak ada Ellen, kau berubah banyak, Drac. Sepertinya kau tidak akan membutuhkan aku lagi," sambung Kerel.


"Apa maksudmu?" tanya Draco yang melirik ke arah Kerel. Dia tidak suka dengan kalimat Kerel itu.


"Kita sudah bersama sejak kecil, aku tahu bagaimana penderitaanmu selama ini karena aku ikut merasakannya tapi kau sekarang sudah menemukan keluargamu kembali, kau punya tanggung jawab pada mereka, Drac. Dan aku ingin bertanggung jawab dengan keluarga baruku," tambah Kerel.


Draco seperti kehabisan kata-kata, memang selama ini Kerel selalu hidup dalam bayang-bayang dirinya. Dia akan melepas Kerel dan membiarkan sahabatnya itu pergi mengejar kebahagiaannya sendiri.


"Aku yakin kau bisa memimpin De Servant jauh lebih baik dan melampaui ayahmu," ucap Kerel seraya menepuk pundak Draco.


Draco membalas dengan merangkul Kerel, dia sudah melewati banyak hal dengan Kerel selama ini, bahkan mereka tahu baik buruknya diri mereka masing-masing.


"Aku akan merindukan kebersamaan kita," ucap Draco kemudian.


"Hah?" Kerel menghela nafasnya. "Ayo kita lakukan misi terakhir kita!"


"Aku menemukan Lab yang cocok untuk membuat antidote!"


"Mari kita akhiri semua ini," balas Draco yang sudah tidak sabar mencincang tubuh Robert.


Draco dan Kerel kemudian pergi ke Lab yang akan mereka gunakan untuk membuat antidote.


Sementara Eros dan Ruzel berusaha terhubung dengan Loyd untuk mengetahui perkembangan istana dan berapa persen yang ada di pihak mereka.


"Sekarang masih 80 persen, sebagian masih tergiur akan posisi yang Robert janjikan," lapor Loyd.


"Itu sudah lebih dari cukup," balas Eros. "Sekarang hanya perlu menyusun strategi untuk menyerang istana!"


Setelah pembicaraan mereka selesai, Eros bergegas mengatur strateginya bersama tim yang masih tersisa.


"Kau tidak perlu ikut dalam misi ini," tegur Eros saat melihat Ellen yang ikut bergabung. Dia tidak mau terjadi apa-apa pada kandungan Ellen.


"Aku baik-baik saja, aku adalah salah satu orang yang sangat ingin menghancurkan Robert," sahut Ellen penuh tekad. Dia akan membuktikan pada Draco kalau dia bukan wanita yang lemah. "Aku akan menunjukkan pada Draco betapa berharganya diriku sampai dia bertekuk lutut di bawah kakiku!"