
Kerel memesan dua kamar hotel untuk tempat istirahat malam ini. Untuk sementara waktu, mereka akan berpindah-pindah tempat terlebih dahulu.
"Ki-- kita satu kamar, Tuan?" tanya Rara kikuk.
"Kenapa?" Kerel justru bertanya balik.
"Um...." Rara bingung harus bagaimana, dia hanya seorang pelayan jadi dia tidak ikut andil dalam misi. Rara merasa menjadi beban jika terus ikut dengan Kerel dan lainnya. "Kata nona Ellen, saya boleh memilih apapun karena saya bukan budak lagi!"
Memang Ellen sebelumnya sudah memberi penawaran pada Rara.
"Lantas kau memilih apa?" tanya Kerel penasaran.
"Saya ingin mengabdikan diri di kuil," jawab Rara yang sudah memikirkan semuanya.
Kerel memejamkan matanya, kesabarannya sudah habis. Pertama Rara mengabaikan pelajaran ciumannya, kedua jelas-jelas dia sudah bilang akan melindungi gadis itu dan sekarang Rara akan meninggalkannya?
"Kuil mana?" tanya Kerel kemudian.
"Itu..." Rara tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena bibirnya kembali dibungkam oleh Kerel. Bahkan tubuhnya di dorong sampai terjatuh di atas ranjang.
"Kau tidak akan bisa mengabdi di kuil, Rara," ucap Kerel seraya mencumbu leher gadis itu. "Karena kau harus mengabdi padaku!"
"Selama ini aku sudah sabar tapi ternyata kau tidak peka juga, sepertinya aku harus menggunakan cara lain!"
Kerel menggigit bahu Rara kemudian menghisapnya sampai kulit putih itu menjadi memerah.
"A--apa yang Tuan lakukan?" tanya Rara ketakutan.
"Memberi tanda pada tubuhmu, kau tidak akan bisa pergi kemana-mana Rara," balas Kerel seraya beralih mencumbu leher gadis itu.
Badan Rara bergetar hebat yang membuat Kerel terkekeh karena respon tubuh gadis itu, berbeda sekali saat di rumah hantu.
"Apa aku lebih menakutkan dari pada hantu-hantu yang pernah kau lihat?" tanya Kerel.
Rara mengangguk. "I--iya."
"Wah, kau selalu memberiku kejutan!" ungkap Kerel. Dia semakin tidak mau melepas Rara.
...***...
Di kamar lain, Ellen tengah sibuk mencampur berbagai aroma terapi di bath up kamar mandi hotel yang dia tempati.
Setelah dirasa cukup, Ellen keluar dari kamar mandi dan mencari Draco yang berdiri di depan jendela sambil menyesap rokoknya.
Ellen mendekat dan mengambil rokok dari tangan Draco kemudian ikut menyesapnya.
"Mau menyesap sesuatu yang lain, King?" tawar Ellen dengan mengeluarkan asap rokok dari mulutnya.
Ellen membuka jubah mandinya lalu menuntun Draco ke kamar mandi.
"Masuklah!" ajak Ellen yang sudah masuk bath up duluan.
Draco masih berdiri menatap Ellen, bayangan Ellen bersama Ruzel di taman bermain masih terbayang di kepalanya.
Pelukan itu mengingatkan Draco kembali pada ibunya.
Apa ibu jelek?
Katakan, apa kau malu mempunyai ibu sepertiku?
Amelia selalu bertanya pada Draco seperti itu dengan tatapan kosong penuh keputusasaan.
"Drac..." panggil Ellen karena melihat perubahan wajah Draco. Dia lalu menarik tangan Draco supaya lelaki itu masuk ke dalam bath up.
Ellen membuka baju yang dikenakan Draco kemudian dia naik ke perut lelaki itu dengan membuka kedua kakinya. Sekarang mereka saling berhadapan dengan tubuh tanpa sehelai benang pun.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Ellen seraya mengalungkan kedua tangannya di leher Draco.
Draco menggeleng. "Bukan apa-apa!"
"Kenapa kau selalu tidak mau berbagi denganku kalau kau mau membaginya pasti rasa sakitnya akan berkurang," ucap Ellen yang terus berusaha membuat Draco terbuka padanya.
_
Pokoknya kalo part King sama Queen itu pasti mengandung hareudang ya gaes😅 misi mereka nanti juga vanas.
Dan Draco itu sebenarnya udah cinta sama Ellen tapi dia itu tsundere jadi kaku kaya kanebo kering gitu. Apalagi ini lagi prosesnya dia melawan trauma jadi gak bisa sweet kaya BangkeeðŸ¤
Vote nya, jangan lupa ya😅