
Draco menatap Ellen yang jaraknya hanya berapa centi saja darinya, bahkan hembusan nafas perempuan itu menerpa wajahnya.
"Kau pernah mendengar Anoreksia?" tanya Draco kemudian.
"Anoreksia? bukankah itu gangguan makan?" tanggap Ellen.
Kerel sudah pernah menceritakan mengenai ibu Draco yang gila akan penampilan sampai menyiksa dirinya sendiri. Tapi, Ellen ingin mendengar dari mulut Draco sendiri.
Beberapa menit Ellen menunggu tapi Draco tak kunjung membuka suara lagi. Ellen tidak memaksa, mungkin memang butuh waktu apalagi itu adalah masa lalu yang sulit untuk Draco.
"Semuanya akan baik-baik saja, King," ucap Ellen seraya mengecup kening lelaki itu.
Draco memejamkan matanya merasakan kecupan hangat itu, bukan hanya kecupan, semua sentuhan Ellen memang terasa hangat bagi Draco. Karena alasan itu dia tidak mengusir Ellen dari pikirannya.
"King?" panggil Ellen.
"Hem?" Draco masih memejamkan matanya dengan wajah menempel di dada Ellen. Dia merasa nyaman dengan posisinya sekarang.
"Coba panggil namaku!" pinta Ellen. Dia ingin mendengar Draco memanggil namanya. "Kau tidak lupa namaku, 'kan?"
"Sebelumnya bukankah ada panggilan sayang untukku?"
Ellen ingin mengalihkan pikiran Draco dari ingatan masa lalunya. Jadi, dia meminta sesuatu yang pasti membuat Draco salah tingkah.
Dan benar saja, Draco mengalihkan pembicaraan karena ingin menghindari permintaan Ellen.
"Di punggungmu, kapan kau membuat tatto itu?" tanya Draco yang selalu ingin bertanya tatto burung di punggung Ellen.
"Aku membuatnya setelah kakekku meninggal," jawab Ellen seraya memeluk Draco. "Apa kau mengenal kakekku?"
"Tidak," jawab Draco seraya mengecup bahu Ellen. "Seandainya aku lebih peduli, apa semua akan berubah?"
"Tujuan besar Robert pasti akan tercapai!"
Yang dikatakan Ellen mungkin benar adanya tapi Draco tidak terima karena dia seolah menjadi laki-laki suka selingkuh.
"Aku tidak akan menidurimu kalau kau tidak memberiku semprotan sialan itu!" ketus Draco.
"Oh iya?" Ellen meraba punggung Draco dengan tangannya dan dia berbisik di telinga lelaki itu. "Kenapa kau selalu tidak mau mengakui kalau kau itu sudah tergoda!"
Ellen menggigit telinga Draco kemudian bibirnya turun ke leher dan Ellen menjilat leher besar itu yang mana membuat sesuatu di bawah menegang.
"Tubuhmu lebih jujur, Drac!"
Ellen menjauhkan diri mencoba menggoda. "Baiklah, kalau kau tidak tergoda denganku lebih baik aku keluar!"
Sial! Pertahanan Draco akhirnya runtuh juga, Ellen benar-benar penggoda sejati. Bagaimana mungkin saat dia sudah menegang seperti itu kemudian Ellen akan pergi, tujuan Ellen sangat terlihat jelas.
Draco menangkap Ellen kemudian membalik badan perempuan itu. Dan Ellen berteriak karena tanpa banyak kata, Draco langsung menusuknya dari belakang.
"Akh! Drac..." Ellen memejamkan matanya, rasanya selalu membuat Ellen gila apalagi mereka bermain di dalam air.
Satu jam berlalu, Ellen dan Draco berbaring di atas ranjang dengan Ellen yang menjadikan dada lelaki itu sebagai bantal.
Ellen masih mengingat percintaan panas mereka sebelumnya, dia mendongakkan kepala dan melihat Draco yang terpejam tapi dia tahu kalau lelaki itu tidak benar-benar tidur.
"Drac, kita harus melakukannya lebih panas lagi saat misi kita nanti," ucap Ellen yang membuat Draco mengeratkan gigi gerahamnya.
Draco sudah mendengar rencana apa yang akan dilakukan Ellen dan itu terdengar gila.