Penggoda King Mafia

Penggoda King Mafia
Cerita Mafia Lainnya


Judul : My Enemy My Love


Napen : Shim Chung


Pf : Fizzzzzzzoooo



BAB 1


Dor!


Dor!


Dor!


Tembakan demi tembakan terdengar di markas rahasia organisasi mafia The Blanco. Malam itu mereka mendapat serangan tak terduga dari musuh.


"Bos, kita kalah jumlah!" teriak salah satu anak buah Roby Carter, ketua mafia dari The Blanco.


Roby segera mendatangi istrinya bernama Lisa yang berada di kamar anak mereka. Lelaki itu ingin menyelamatkan istri dan putrinya dahulu sebelum dia ikut membantu para anak buahnya. Mereka diserang di tengah malam saat Roby dan para anak buahnya sedang beristirahat.


"Lisa!" panggil Roby saat membuka pintu kamar.


Saat itu Lisa dan putrinya bernama Jesslyn tengah bersiap dengan senjata mereka untuk membantu Roby.


"Kami sudah siap!" Lisa memegang pistol di kedua tangannya.


"Aku juga siap, Ayah." Jesslyn yang sudah berusia 20 tahun itu tanpa rasa takut ingin menghadapi musuh yang berani menyerang klan mafia ayahnya. Sebagai penerus dan calon Queen mafia, Jesslyn harus bisa mengalahkan kubu musuh.


Roby menggelengkan kepalanya. "Kalian harus pergi dan menyelamatkan diri!"


"Kenapa? Biarkan kami membantu, Ayah," protes Jesslyn.


Lisa yang bisa melihat wajah cemas suaminya segera mendekati Roby. "Ada apa?"


Tidak biasanya Roby tampak cemas seperti itu.


"Penyerangan ini pasti sudah direncanakan sebelumnya, Babe. Aku yakin ada banyak pengkhianat di markas jadi aku minta kau dan Jesslyn pergi!" jelas Roby kemudian.


Untuk kali ini, Lisa menuruti perintah suaminya. Lisa mencium Roby sejenak sebelum pergi dari markas.


Setelah itu, Lisa dan Jesslyn berlari melewati pintu rahasia untuk menyembunyikan diri. Tapi rupanya para pengkhianat sudah menempatkan beberapa orang di pintu rahasia itu.


"Sembunyilah, biar aku yang maju!" Lisa meminta putrinya untuk bersembunyi sementara dia yang akan mencari cara untuk keluar dari markas.


Jesslyn ingin protes tapi dia tidak bisa berbuat banyak selain menurut. Gadis itu bersembunyi supaya para musuh tidak ada yang melihatnya.


Dan malam itu, Jesslyn melihat kedua orang tuanya tertangkap. Roby dan Lisa bahkan saling bergandengan tangan saat kepala mereka di tembak.


Jesslyn mengintip semua itu dari celah tempat persembunyiannya.


"Ayah... Ibu..." Jesslyn hanya mampu berteriak dalam hatinya. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya menahan isak tangisnya supaya tidak terdengar.


Sampai Jesslyn mendengar salah satu anak buah dari pemimpin kelompok melapor pada bos mereka.


"Bos, sudah tidak ada lagi! The Blanco sepenuhnya runtuh!"


Pemimpin kelompok tertawa kemenangan. "Hahaha... ayo kita pergi! Kalau pun ada yang tersisa, mereka pasti akan lari terbirit-birit."


Jesslyn tidak bisa melihat wajah pemimpin kelompok itu tapi dia bisa melihat di pergelangan tangan lelaki itu ada gambar tatto kepala harimau.


"Siapa pun kau, aku pasti akan menuntut balas!" Jesslyn bertekad dalam hatinya.


*****


Jesslyn berada di pemakaman orang tuanya seorang diri. Hujan membasahi tubuh kurusnya tapi gadis itu bergeming dari tempatnya.


Setelah pembantaian di markasnya, ada sekelompok polisi yang datang dan mengevakuasi seluruh korban.


Jesslyn tetap bersembunyi karena dia tidak mau identitasnya sebagai putri mafia terbongkar.


"Ayah, Ibu. Aku akan membalas semuanya, lihatlah nanti aku pasti akan membuat The Blanco bangkit lagi dan aku akan menjadi Queen Mafia yang ditakuti."


Hari itu Jesslyn bersumpah pada dirinya sendiri.


Jesslyn menuju brankas dan melihat banyak uang dan juga senjata yang ada di dalam brankas.


"The Blanco pasti akan bangkit lagi!" Jesslyn mengambil satu pistol dan menembak sebuah patung yang ada di sana.


*****


Jesslyn mencoba mencari para anak buah The Blanco yang masih tersisa. Tapi semua itu tidak mudah karena mereka yang masih tersisa juga melakukan penyamaran.


Butuh waktu satu bulan, Jesslyn akhirnya bisa mengumpulkan beberapa anggota yang masih tersisa salah satunya adalah Mike.


"Jess..." Mike memeluk Jesslyn karena tahu jika gadis itu kehilangan kedua orang tuanya.


"Kita harus bisa membangun The Blanco kembali, Mike!" sahut Jesslyn supaya Mike dan anggota yang masih tersisa membantunya.


"Bos Roby sudah banyak membantuku, aku sudah sumpah setia dan sekarang aku akan setia kepadamu. Aku akan membantumu menjadi Queen Mafia." Mike menepuk pundak Jesslyn.


"Kita harus mencari petunjuk, siapa dalang dibalik penyerangan The Blanco. Mereka sangat licik," ucap Jesslyn mengepalkan kedua tangannya.


Mike sebenarnya sudah menyelidiki dan tahu siapa itu tapi untuk menyerang balik dan balas dendam, rasanya sangat sulit dilakukan untuk sekarang.


"Kau pernah mendengar Black Tiger?" tanya Mike kemudian.


"Organisasi mafia yang menguasai pasar gelap itu?" tanya Jesslyn balik, kelompok itu sudah mendunia tentu banyak yang tahu. "A... apa mereka?"


"Ya, mereka pelakunya tapi untuk motif utama, aku tidak tahu!" jawab Mike yang kembali menepuk pundak Jesslyn supaya tenang. "Felix Aldeguer, itu nama pimpinannya!"


"Cari informasi lagi mengenai mereka, Mike!" perintah Jesslyn tidak sabaran.


*****


Jesslyn terus berlatih, dia harus menjadi wanita tangguh untuk melawan musuh-musuhnya nanti.


"Berhentilah, Jess!" Mike yang menyusul ke ruang latihan mencoba meminta Jesslyn untuk berhenti, karena sudah hampir seharian Jesslyn menghabiskan waktunya di sana.


Dengan nafas terengah-engah Jesslyn menghampiri Mike dan meminum satu botol air putih hingga tandas.


"Setidaknya kau harus makan supaya seimbang," tegur Mike lagi.


"Apa sudah ada informasi lagi?" tanya Jesslyn yang justru mengalihkan pembicaraan.


Mike memasang wajah serius sekarang. "Felix mempunyai anak laki-laki yang akan menjadi penerusnya nanti, dia masih sekolah menengah di sekolah elite di kota."


"Aku mempunyai satu ide, semoga kau juga sependapat. Kau harus berusaha mendekati Max untuk mendapat informasi!"


"Max?" tanya Jesslyn dengan dahi yang mengerut dalam.


"Itu namanya, aku mati-matian mendapat informasi ini karena Max juga menyamar menjadi siswa biasa di sekolah itu," jelas Mike.


Jesslyn mengusap-ngusap dagunya. "Jadi, kau memintaku untuk menyamar menjadi siswi di sekolah itu?"


"Kau memang cerdas, Jess! aku akan mengurus identitas dan juga hal yang diperlukan untuk masuk sekolah itu!" sahut Mike yang sudah memikirkan semuanya.


"Hah!" Jesslyn mendesaah panjang. "Aku ingin tahu bagaimana rupa Max itu!"


Setidaknya Jesslyn harus tahu targetnya bagaimana jadi dia bisa memikirkan langkah selanjutnya.


Untuk itu, Jesslyn pergi ke tempat di mana Max biasanya melakukan balapan liar. Menurut informasi dari Mike jika Max suka melakukan balapan liar dan memasang taruhan yang tidak main-main.


Jesslyn mengamati dari kejauhan aksi Max saat melakukan balapan ternyata pemuda itu memang cukup terlatih.


Pertandingan dimenangkan oleh Max seperti biasa, saat Max membuka helmnya terlihat pria tampan dan gagah yang sebelumnya tersembunyi dibalik helm.


"Bravo!" seru Max dengan senyum kemenangan.


Tak lama ada seorang wanita seksi datang mendekati Max dan mencium bibir pemuda itu.


"Congratulation, Dear," ucap sang wanita setelah melepas ciumannya.


Jesslyn yang melihat itu memutar bola matanya jengah. "Cih, ternyata dia seorang playboy!"


BAB 2 langsung ke TKP ya sayang2ku...


Di sana bab nya panjang2 dan update tiap hari.