
Draco selalu membuat kejutan baru bagi Ellen, bagaimana mungkin laki-laki itu melamarnya dalam posisi bercinta?
Tapi, lagi-lagi Ellen harus mencoba mengerti, tidak mudah bagi Draco untuk melakukan hal itu. Pasti dia sudah berusaha keras. Sepertinya dia harus bertanya pada Patrick atau Kerel nanti.
"Dari pada tidak dilamar sama sekali," batin Ellen seraya mengalungkan kedua tangannya di leher Draco.
"Aku menerimamu, Drac," ucap Ellen kemudian.
Draco tersenyum miring kemudian dia kembali menggerakkan tubuhnya. Bahkan Draco menurunkan tubuh Ellen perlahan kemudian membaliknya karena dia akan menyuntik perempuan itu dari belakang.
Saat Draco mendorong tubuhnya, Ellen hanya bisa memejamkan matanya lalu dia membuka mata dan melihat percintaan mereka dari cermin.
Suara erangan terus terdengar di kamar mandi itu, Ellen sampai tidak ingat berapa kali bercinta dengan Draco semalam.
Karena saat Ellen terbangun keesokan paginya, tubuhnya didekap oleh Draco. Mereka tidur dalam posisi miring di mana Ellen membelakangi Draco.
"Badanku sakit semua," keluh Ellen.
Ellen ingin minum karena haus tapi ternyata milik Draco masih menyatu dengan tubuhnya.
"Astaga, bahkan saat dia tidur itunya masih tegak berdiri dan menantang," ucap Ellen berusaha melepas secara perlahan.
Tapi, rupanya Draco justru mendorongnya lebih dalam lagi.
"Akh! Apa dia benar-benar tidur?" Ellen jadi bingung sendiri. Ternyata Draco dalam mode jatuh cinta sangat mengerikan, Draco benar-benar tidak mau melepas wanitanya.
Akhirnya Ellen berusaha membangunkan lelaki itu, tangan Ellen terulur dan menyentuh lengan kekar Draco.
"Drac, aku haus! Lepaskan aku!" pinta Ellen.
Draco membuka matanya perlahan, dia masih tidak mau melepas Ellen, justru Draco mengangkat tubuh perempuan itu dan berjalan ke luar kamar menuju dapur.
Draco mengambil botol minum saat sampai di dapur dan memberikan botol minum itu pada Ellen.
"Buka mulutmu!" perintahnya seraya menyuapi Ellen minum.
Ellen membuka mulut dengan badan bergetar, air membasahi kerongkongannya. Ellen sudah tidak haus lagi tapi dia harus kembali berteriak karena Draco merapatkannya ke dinding dapur dan mulai mendorongnya lagi.
"Ugh, Drac..." Ellen mencoba berbicara pada lelaki itu. "Kita harus berhenti, bayinya nanti kepanasan karena terus kau siram!"
Seketika Draco langsung tersadar dengan kehamilan Ellen, walapun dia bermain lembut tapi kalau durasinya lama pasti sama saja membahayakan bayinya.
"Akan aku selesaikan," ucap Draco seraya menggendong Ellen ke arah meja makan dalam posisi menyatu. Ellen dibaringkan di sana dan Draco menyelesaikan apa yang seharusnya.
Ellen terengah-engah dan merasa lega karena semua sudah selesai. Dia mungkin akan berhenti menggoda untuk sementara waktu.
"Aku akan menghubungi Patrick untuk mengantar makanan dan juga membelikan baju untukmu," ucap Draco yang hanya Ellen balas dengan anggukan.
Draco sekarang benar-benar melepas Ellen dan membersihkan tubuh perempuan itu lalu memakaikan kaos besarnya untuk sementara.
"Aku akan memberitahu Freya untuk mempersiapkan pernikahan kita, aku ingin cepat menikahimu supaya anakku mempunyai status yang sah dan jelas," ucap Draco dengan tegas.
Ellen hanya bisa mengangkat jempol tangannya. "Aku pasrah, King! Dan anggap ini adalah curi start bulan madu kita!"
"Kenapa?" tanya Draco dengan mengerutkan keningnya. "Aku berencana membawamu ke villa yang berada di pulau terpencil!"
Ellen menelan ludah mendengar itu, dia tidak sanggup membayangkan tubuhnya akan remuk mengingat tenaga Draco yang tidak ada habisnya.
"Baru kali ini aku benar-benar tidak mau menggodanya lagi," batin Ellen.