Penggoda King Mafia

Penggoda King Mafia
PKM BAB 41 - Saling Menerima


Ellen mengelus luka Draco yang baru diperbannya, dia mendekatkan bibirnya ke telinga lelaki itu dan bertanya. "Apa rasanya sakit?"


"Celanamu jadi panjang sebelah, bagaimana kalau kau melepasnya saja?"


Karena Draco hanya diam saja, Ellen berinisiatif melepas celana itu sendiri.


"Lagi pula celananya juga banyak darahnya." Ellen membuka ikat pinggang Draco tapi tangannya di tahan oleh lelaki itu.


"Pergilah!" akhirnya Draco bersuara. Dia meminta Ellen untuk pergi.


Awalnya memang Draco ingin menerima Ellen setelah tahu jika perempuan itu pengantin aslinya, sekarang dia kembali goyah menerima kenyataan mengenai orang tuanya. Semua terjadi karena pernikahan tradisi itu.


Draco jadi menganggap jika cincin Yvone adalah cincin terkutuk.


"Hei, apa yang sedang kau pikirkan!" Ellen tidak mau pergi walaupun Draco menolaknya justru dia meraup wajah tampan itu supaya menghadap padanya. "Jangan berpaling dariku, berbagilah rasa denganku!"


"Kau tahu penyakit mentalmu bisa melemahkan fisikmu,"


"Kau sudah tahu, siapa aku, 'kan? Aku kira setelah kau tahu jika aku adalah pengantinmu, kau akan memperjuangkan aku tapi kau tetap menolakku,"


"Aku kecewa, King Mafia,"


Draco mulai merespon, dia membalas tatapan Ellen padanya. "Jika kau terus bersamaku, kau akan semakin kecewa!"


"Tidak!" Ellen menggelengkan kepalanya yakin. "Aku tidak akan kecewa karena ini keputusanku, jangan berpikir aku seperti ibumu! Aku tidak akan pernah merubah keputusanku, itulah jalanku menjadi Queen!"


Ellen menyatukan keningnya dengan Draco. "Jadi, kita hadapi semuanya bersama!"


Keduanya memejamkan mata bersama kemudian mereka membuka mata dan saling berciuman. Awalnya ciuman begitu lembut tapi lama kelamaan ciuman penuh gairah yang menggebu-gebu.


Tangan Ellen meneruskan membuka ikat pinggang Draco, setelah terlepas Ellen membuka celana penuh darah itu.


Draco juga tidak mau diam, dia membuka baju seksi Ellen sampai terlihat dua bukit kembar yang menjulang. Tanpa mau membuang kesempatan, Draco menyesapnya sampai Ellen mengerang hebat.


Keduanya bertatapan lalu berciuman kembali sampai Ellen mencari sesuatu yang sudah tegak, sesuatu yang siap untuk masuk.


"Eugh!" Ellen memeluk Draco saat sesuatu itu berhasil masuk. Seperti biasa rasanya sangat dalam.


"Drac, katakan kau menginginkan aku," pinta Ellen sebelum bergerak.


Draco diam merasakan bagian tubuh bawahnya yang sudah masuk, dia menatap wajah Ellen dan mencium bibir perempuan itu lagi dan lagi.


"Aku menginginkanmu!" Draco akhirnya mengatakan kalimat itu.


"Tenanglah, aku akan bergerak pelan-pelan. Kau tidak bisa menolakku lagi, aku berjanji kau akan menemukan kebahagiaan jika hidup bersamaku," ucap Ellen yang ingin membuat Draco percaya padanya.


Draco mengelus pipi Ellen, dia tidak tahu harus berkata apa, perempuan itu begitu gigih.


"Apa kau sendiri juga akan bahagia jika hidup bersamaku?" tanya Draco kemudian.


"Of course, karena kau tujuan hidupku sekarang," jawab Ellen bersungguh-sungguh.


"Kalau begitu, aku akan berusaha membalasnya," ucap Draco yang ingin mencoba mempercayai Ellen.


"Kau tidak akan menyesal, King!" Ellen perlahan mulai menggerakkan tubuhnya. Kedua tangannya mengalung di leher Draco dan matanya terus menatap wajah Draco yang jaraknya hanya beberapa centi saja.


Tak lama Ellen mempercepat laju tubuhnya sampai terdengar tepukan daging yang memenuhi ruangan di mana mereka berada.


Suara Ellen yang menikmati percintaannya bersama Draco juga semakin terdengar jelas dan nyaring.


Mereka benar-benar dibuat gila sampai lupa ada siapa saja di ruangan rahasia itu.


"Aku tahu kalau kau bukan anak kecil tapi suara itu tidak bagus untuk kesehatan jantungmu!" Eros menutup telinga Ruzel dengan kedua tangannya.


Ruzel kali ini menurut. "Ku pikir juga begitu!"