Penggoda King Mafia

Penggoda King Mafia
PKM BAB 25 - Ramuan Halusinasi


Di sisi lain, Ellen dan Ruzel berada di markas rahasia yang berada di perpustakaan. Mereka memasang headphone di telinga mereka dan mendengarkan musik.


Mereka tengah berbaring berdua sambil menatap langit-langit perpustakaan.


"Rencana ini akan membahayakan posisimu, apa kau yakin?" tanya Ruzel seraya membuka headphone Ellen.


Ellen menghela nafasnya. "Aku juga merasa sedikit takut apalagi Eros dan king Draco masih belum sepenuhnya memihak kita!"


"Mengenai itu, aku sempat memancing ayahku untuk berbicara mengenai Dante," sambung Ruzel.


"Lantas apa tanggapan ayahmu?" tanya Ellen.


"Dia tidak mau membahas masalah Dante tapi aku yakin ayahku akan memikirkan perkataanku," balas Ruzel. Dia kembali memasang headphone yang sudah dia lepas sebelumnya.


Ellen membalik badannya menjadi menyamping supaya bisa menatap Ruzel, dia mengambil headphone bocah itu dan membuangnya karena ingin bertanya sesuatu. "Apa di istana ini anak-anak tidak diperbolehkan sekolah?"


"Bukannya aku mau menyombongkan diri tapi IQ-ku di atas rata-rata jadi kata ayahku, aku tidak perlu sekolah," jelas Ruzel.


"Jadi, kau tidak mempunyai teman?" tanya Ellen lagi.


Untuk itu, Ruzel tidak bisa menjawabnya, dia memang terkurung di istana De Servant. Di istana mafia itu juga tidak ada anak-anak kecuali dirinya.


"Diam mu sudah menunjukkan apa jawabanmu," ucap Ellen dengan helaan nafas. "Kau tahu, sekolah itu bukan hanya sebatas menuntut ilmu tapi kita bisa belajar untuk bersoalisasi dan berteman, kita juga belajar yang namanya sopan santun dan sejenisnya!"


"Aku tidak butuh itu semua," ketus Ruzel.


Ellen hanya tersenyum, dia tidak mungkin bisa mengubah cara pandang seseorang sekejap mata. "Lain kali, kita pergi ke kota, aku akan menunjukkan mu bagaimana anak-anak normal itu seharusnya!"


...***...


Saat ini keduanya berada di tempat rahasia mereka.


Draco tidak bisa menyangkal untuk hal itu, dia terlalu acuh sampai bisa tidak tahu beberapa kejanggalan yang terjadi.


"Belum terlambat untuk memperbaiki," balas Draco seraya menyesap rokoknya.


"Tapi, kali ini kau akan melawan Dante dan si tua itu pasti akan memanipulasi pikiranmu mengenai pembunuhan ayahmu, aku harap kau bisa mengontrol rasa trauma itu, Drac," ucap Kerel gusar.


"Kali ini, aku akan tetap seolah-olah mengikuti permainan Dante. Biarlah dia menganggapku bonekanya sampai aku mencari tahu sendiri tujuan Dante sebenarnya. Kalau untuk masalah posisi rasanya Dante sudah mendapatkannya," jelas Draco yang pikirannya sama dengan Ellen.


"Itu yang jadi pertanyaan besar," sahut Kerel yang sekarang ikut duduk di samping Draco. "Dan mengenai selingkuhanmu..."


"Aku akan mengatasinya," sela Draco yang tidak ingin Kerel melanjutkan kalimatnya karena dia punya rencana sendiri.


Draco berdiri kemudian menuju rak ramuan obat-obatan yang berada di ruang rahasia itu. Dulu sebelum ada insiden yang membuat Draco trauma, lelaki itu memang ahli membuat ramuan obat dan racun.


Setelah insiden itu, Draco yang harus menduduki posisi King karena terpaksa dihadapkan dengan setumpuk tanggung jawab. Karena psikisnya belum sepenuhnya sembuh, saat melihat tulisan dia merasa terbalik hurufnya. Jadi, semenjak itu Draco menunjuk Kerel untuk membantunya membaca. Hal itu, membuat mereka menjadi dekat sampai sekarang.


Karena tidak bisa membaca, Draco hanya bisa mengandalkan indera penciumannya untuk membuat ramuan yang dia buat.


"Apa itu?" tanya Kerel.


"Ini supaya Freya berhalusinasi tinggi," jawab Draco.


Kerel memikirkan jawaban Draco itu kemudian tergelak setelah mengerti apa maksudnya, mereka mengenal dari kecil dan berlatih sama-sama jadi tanpa perlu penjelasan panjang lebar, mereka akan mengerti satu sama lain.


"Jadi, kau akan membuat istrimu seolah-olah bercinta denganmu?" tanya Kerel memastikan.