
"Kita harus cepat pergi sebelum Loyd menemukan kita!" ajak Eros yang sudah bersiap.
Ruzel mengambil ransel yang dia bawa sebelumnya. Dia mengeluarkan beberapa drone untuk dia terbangkan nanti.
"Ini untuk mengelabui ayahku, saat drone ini terbang dia akan mengira itu adalah kita," jelas Ruzel.
Eros mengusap rambut Ruzel dengan tersenyum. "Kerja bagus berarti drone harus diterbangkan berlawanan arah dengan kita!"
Bersamaan dengan itu, Draco keluar dari ruangannya. Di tangannya sudah ada pistol, dia mengisi peluru dan peredam suara.
"Jangan buang waktu lagi!" Draco mulai memerintah.
Kerel menunjukkan jalan rahasia yang harus mereka lewati. "Jalanan ini akan tembus ke hutan jadi apapun yang terjadi jaga suara kita!"
"Aku jalan duluan!" Kerel membawa senter yang dia taruh di kepalanya sebagai pencahayaan.
Kerel berjalan dan membuka pintu untuk keluar, jalan yang begitu sempit dan gelap.
"Ini seperti pipa pembuangan," komentar Ellen, dia jadi memikirkan keadaan paha Draco.
Sebelum Ellen masuk mengikuti Kerel, dia menyempatkan mencium bibir Draco.
"Supaya mengurangi rasa sakitmu," ucap Ellen.
Draco berdehem, dia memalingkan wajah. Ellen selalu saja menyerangnya tanpa peringatan. Tapi, entah kenapa dia menyukainya.
"Ayo cepat!" teriak Eros karena mereka sudah banyak membuang waktu.
Ellen mengajak Rara untuk segera pergi dan di belakang mereka ada Freya yang mengikuti.
Mata Freya sempat bertatapan dengan Draco tapi mereka saling membuang wajah, mereka belum yakin kalau mereka adalah saudara sebelum melakukan tes DNA.
Drone sudah Ruzel terbangkan, dia yakin saat ini Loyd tengah melacak mereka. Ruzel menerbangkan drone itu berlawanan arah kemudian menjatuhkannya karena dia harus cepat berlari menyusul yang lainnya.
"Kerja bagus, Kid!" tegur Ellen yang sengaja menunggu Ruzel.
Ruzel hanya menaikkan kedua bahunya, sebenarnya dia sedih harus bermusuhan dengan ayahnya.
"Hei, aku masih ingat kampanyeku padamu," bujuk Ellen supaya Ruzel tidak bersedih. "Ayahmu tidak akan dihukum menjadi pengkhianat!"
Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya mereka semua bisa keluar dari istana walaupun harus melewati hutan.
"Benar kata Drac, udaranya sangat dingin," ucap Ellen.
Ellen kemudian menoleh ke belakang untuk melihat Freya yang tidak memakai baju tebal.
"Apa dia tidak apa-apa?" gumam Ellen yang mencemaskan keadaan Freya. Entah kenapa rasa bencinya bisa tersapu dengan mudah, sekarang dia justru merasa iba.
Kerel menghentikan langkahnya, dia kebingungan menentukan arah untuk keluar dari hutan.
"Aku tidak yakin dengan jalannya, Drac. Aku khawatir kita akan tersesat," ucap Kerel kemudian.
"Lebih baik kita istirahat dulu dan menunggu pagi tapi aku juga khawatir dengan anjing pelacak yang ada di istana," sahut Draco.
Eros memikirkan sesuatu, padahal tinggal beberapa jam lagi sudah pagi.
"Terpaksa kita harus melepas baju tebal kita dan kita harus membuangnya terpencar supaya anjing pelacak tidak bisa melacak dengan benar," ucap Eros.
"Aku rasa itu ide bagus!" Kerel bergegas membuka baju tebal dan membuangnya jauh-jauh.
Begitu juga dengan yang lain, sekarang mereka harus menahan dingin sampai pagi hari tiba.
"Drac..." Ellen mendekat ke arah Draco dan memeluk lelaki itu. "Aku ingin menempel dengan tubuhmu yang tebal!"
Hal sama dilakukan oleh Kerel, dia mendekati Rara kemudian memeluknya. "Gunakan tubuhku untuk menghangatkan tubuhmu!"
Tertinggal Eros dan Freya, lelaki itu ingin mendekap Freya tapi ditolak mentah-mentah oleh perempuan itu.
"Aku tidak butuh tubuhmu!" tolak Freya.
Ruzel merasa kasihan, dia mendekati Eros kemudian memeluknya. "Biarkan aku yang menghangatkan tubuhmu, Paman!"
_
Sorry baru up gaes🤧