Penggoda King Mafia

Penggoda King Mafia
PKM BAB 76 - Pelukan Ayah


Eros memeriksa setiap anggota dan memastikan luka mereka segera ditangani. Sementara yang masih bertahan diperintahkan untuk membawa para hewan kembali ke kandang mereka.


"Biar aku membantu memindahkan para hewan itu," ucap Patrick yang akan menggunakan helicopter supaya mengurangi pekerjaan.


"Kita harus memastikan antidote itu bekerja atau tidak, jadi kita harus mengikat para hewan itu," jelas Eros.


"Serahkan semua pada Wolf Shadow. Kau hanya perlu memikirkan tempat ini bersih dari darah," balas Patrick.


Eros menghela nafasnya karena memang benar kata Patrick, dia harus membereskan darah dan daging yang berceceran di mana-mana.


"Sepertinya kita akan membuat lubang yang cukup besar untuk mengubur mereka semua," gumam Eros.


Sementara Kerel yang sedari tadi mengobati Loyd mulai memeriksa keadaan di luar, ternyata pertempuran benar-benar berakhir. Dia harus menjemput Rara yang sedang bersembunyi dengan para pelayan.


Saat dia akan pergi rupanya Loyd sudah sadar.


"Kau sudah sadar?" tanya Kerel.


"Di mana Ruzel?" Loyd langsung menanyakan keadaan putranya.


Belum sempat Kerel menjawab, bocah itu sudah muncul. Sebenarnya dari tadi Ruzel mengintip bagaimana keadaan Loyd, saat ayahnya sudah sadar dia memberanikan diri untuk muncul.


Kerel tersenyum melihat Ruzel, dia mendekat dan menepuk pundak anak laki-laki itu. "Sepertinya semua sudah mencapai tujuan mereka, sekarang giliranmu menyelesaikan masalah dengan ayahmu!"


Setelah berkata seperti itu, Kerel pergi meninggalkan Ruzel dan Loyd. Dia akan memberikan ruang pada ayah dan anak itu untuk menyelesaikan masalah mereka.


"Kau selama ini selalu penasaran dengan ibumu, bukan? Kau harus tahu jika dia adalah wanita yang kuat sama sepertimu,"


Ruzel mendekat dan duduk di samping Loyd karena ingin mendengar lebih banyak mengenai ibunya.


"Ibumu mengandungmu saat usianya masih sangat muda, di umur 18 tahun. Aku dan ibumu terlalu dimabuk cinta sampai melakukan hal yang tidak seharusnya kami lakukan. Pada saat itu ibumu tidak memberitahuku sama sekali mengenai kehamilannya karena dia takut akan menghambatku, pada saat itu aku harus melakukan misi di berbagai negara. Ibumu tahu saat mengandungmu mempunyai masalah kehamilan tapi dia tetap berjuang supaya kau tetap lahir," jelas Loyd sambil mengingat kejadian masa lalu.


"Sampai hari kelahiranmu, aku baru menyelesaikan misi dan Dante memberitahuku jika ibumu tidak bisa bertahan. Aku datang didetik-detik terakhir dia menghembuskan nafas, aku menyalahkanmu atas kehilangannya orang yang aku cintai. Untuk itu, aku menjaga jarak darimu, merahasiakan siapa ibumu dan berpihak pada Dante," sambungnya.


Loyd meneteskan air matanya. "Maafkan aku, aku memang tidak pantas menjadi seorang ayah!"


Mendengar semua penjelasan Loyd tentu membuat Ruzel sakit hati tapi dia juga menyadari sesuatu. "Apa kau masih membenciku, Ayah?" tanyanya.


"Aku rasa tidak, kalau kau membenciku pasti aku tidak ada di sini sekarang, kau berusaha melindungiku," tambah Ruzel.


Ruzel berkata dengan lelehan air mata. "Maukah kau menerimaku jadi anakmu, Ayah?"


"Aku tidak akan bertanya tentang ibuku lagi dan membuatmu susah, aku berjanji. Hanya kau satu-satunya orang yang aku inginkan di dunia ini!"


Loyd langsung memeluk anaknya, dia sangat menyesal selama ini berusaha menolak keberadaan Ruzel dan tidak cukup memberi kasih sayang pada anaknya.


"Maafkan aku, kau memang anakku dan selamanya seperti itu," ucap Loyd.


Ruzel menangis meraung-raung dipelukan ayahnya. Bukan Ruzel yang jenius yang ada di sana, bukan Ruzel yang tidak mau dipanggil anak kecil. Tapi, hanya Ruzel anak berumur sepuluh tahun yang merindukan kasih sayang ayahnya.