Penggoda King Mafia

Penggoda King Mafia
PKM BAB 98 - Suara Anak-Anak


Sesuai dengan permintaan Ellen, Draco menuruti istrinya untuk melahirkan memakai metode water birth. Selang beberapa hari setelah kelahiran Akash, Ellen juga menunjukkan gejala-gejala melahirkan.


Kali ini Ruzel yang menjaga Ellen, anak laki-laki itu sampai tidak bersekolah karena ingin melihat kelahiran anak perempuan Ellen.


"Lebih baik kau keluar dulu," ucap dokter Luna meminta Ruzel tidak melihat proses kelahiran Draco dan Ellen.


Saat ini keduanya tengah berendam di kolam dan Ellen hanya mengenakan bra saja, apalagi Draco terus mencium Ellen karena mengikuti gaya Eros.


"Aku sudah terbiasa melihatnya dan jangan anggap aku anak kecil," ucap Ruzel yang tidak mau diremehkan.


Ruzel berusaha bersikap santai walau dalam hatinya takut, takut jika bayi perempuan Ellen kenapa-kenapa.


Menit demi menit sampai berganti jam akhirnya bayi Ellen keluar juga, bayi perempuan menangis di kamar itu terdengar jelas di telinga Ruzel.


Ruzel mendekati bayi perempuan itu sambil melihat bayinya dipotong tali pusatnya.


"Dok, hati-hati," ucap Ruzel memberi peringatan pada dokter Luna.


Dokter Luna hanya terkekeh dengan sikap posesif Ruzel pada bayi itu.


"Aku akan memberikan pada ayah dan ibunya," ucap dokter Luna setelah memotong tali pusat. Dokter itu memberikan bayi yang baru dilahirkan pada Draco dan Ellen.


Ellen menimang bayi perempuannya, tak lama pengasuh yang membawa Izek masuk dan ikut bergabung dengan Draco yang mengambil alih Izek.


Lengkap sudah kebahagiaan keluarga kecil itu.


"Selamat datang Izzy," ucap Draco dan Ellen kompak. Mereka memang sudah menyiapkan nama untuk putri mereka.


Semenjak kelahiran Izzy, Izek menjadi rewel karena perhatian Ellen kini lebih banyak pada adiknya. Izek sering menangis dan hal itu membuat Ruzel turun tangan.


"Biar Izzy bersamaku," ucap Ruzel yang siap menggendong bayi perempuan itu.


"Apa kau tidak lelah, kau baru pulang sekolah." Ellen yang baru menyusui Izzy kini menepuk-nepuk punggung bayinya.


Sementara Izek terus merengek di samping Ellen karena balita itu tidak mau bersama dengan pengasuhnya.


Terpaksa Ellen menyerahkan Izzy pada Ruzel, anak laki-laki itu begitu hati-hati menggendong Izzy dan hal itu sering Ruzel lakukan selepas pulang sekolah.


...***...


"Ayo kita tinggal Izzy!" ajak Akash yang ingin mengerjai anak perempuan itu.


Izek yang biasanya bersikap cuek setuju kalau urusan mengerjai adiknya.


Kedua anak laki-laki itu berlari meninggalkan Izzy sendirian di lorong yang sepi di istana.


"Kak Izek... Akash..." panggil Izzy ketakutan.


Padahal sebelumnya mereka main bertiga, sekarang dia jadi sendirian.


"Kalian di mana?" Izzy terus mencari kakak dan sepupunya.


Tapi, dia tidak menemukan mereka yang membuat Izzy menangis.


"Huaaa... Huaaa..."


Ruzel yang mengawasi itu dari kamera cctv merasa geram. Dia akhirnya mendatangi Izzy supaya anak perempuan itu berhenti menangis.


"Izzy...." panggil Ruzel.


"Paman Ruzel...." Izzy berlari ke arah Ruzel dan langsung memeluknya.


"Apa kau takut?" tanya Ruzel dengan berjongkok, tangannya mengusap pipi Izzy yang basah karena air mata.


"Ayo aku antar ke kastil dewan, kau harus mengadu pada King!" Ruzel menepuk punggungnya supaya Izzy naik ke sana dan Ruzel bisa menggendong anak itu.


Dengan senang hati Izzy naik ke punggung Ruzel, paman kecilnya selalu ada untuknya.


Sementara Akash dan Izek yang bersembunyi di semak-semak tidak mendengar lagi tangisan Izzy.


"Di mana Izzy?" gumam Akash.


Padahal mereka sudah siap mengagetkan anak perempuan itu jika sudah dekat semak-semak.


"Hah? aku tidak mau mengikuti idemu lagi," keluh Izek sambil berdiri.


"Iz, tunggu!" Akash memegangi bokongnya yang gatal. "Bokongku digigit semut!"