
Kerel memesan dua tiket untuk masuk ke wahana rumah hantu, dia sudah berencana akan sedikit menjauh dari Rara, dia berharap Rara akan ketakutan kemudian datang sendiri padanya.
"Jika sudah begitu, aku akan mengajukan banyak persyaratan untuk menyentuh tubuhku ini," batin Kerel sudah tidak sabar menjalankan rencana liciknya.
Setelah mendapatkan tiket, Kerel mendatangi Rara yang menunggunya di pintu masuk wahana rumah hantu.
"Ayo masuk!" ajak Kerel.
Kerel menggandeng tangan Rara untuk masuk tapi saat akan memasuki wahana pertama, Kerel melepas pegangan tangannya lalu sedikit memundurkan badan.
Ruangan di dalam begitu gelap dengan pencahayaan yang minim dan terdengar suara-suara mistis yang menambah suasana semakin horor
Dari belakang Kerel bisa melihat punggung Rara, gadis itu terus berjalan masuk tanpa ragu karena memang Rara penasaran seperti apa rupa hantu di wahana itu.
Saat tiba-tiba hantu vampire muncul, Kerel bersiap menerima tubuhnya dipeluk oleh Rara. Tapi, bukannya mendapat pelukan, Rara justru semakin maju ke depan.
"Hah?" Kerel sampai keheranan.
Akhirnya Kerel menyusul Rara yang sudah berada jauh di depannya, hantu demi hantu muncul tapi Rara kelihatan berjalan santai saja. Sementara Kerel sendiri mengeluarkan senjatanya, setiap ada hantu menakutinya, Kerel menodongkan pistol yang membuat para hantu justru ketakutan.
"Hanya begitu saja ternyata," ucap Rara saat keluar dari wahana rumah hantu.
Kerel semakin dibuat heran dan dia lalu bertanya. "Kau benar-benar tidak takut?"
Rara menjawab dengan gelengan kepala. "Tidak sama sekali!"
"Bagaimana bisa?" tanya Kerel semakin penasaran.
Rara mendekati Kerel dan berbisik ke telinga lelaki itu. "Hantu di istana De Servant justru lebih menyeramkan, aku sering melihatnya saat lembur, rata-rata mereka kehilangan anggota tubuh mereka!"
"A-- apa?" Kerel menelan ludahnya sendiri.
Di sisi lain, Ruzel dan Ellen menaiki wahana yang membuat adrenalin mereka terpacu. Ruzel tampak begitu menikmati setiap permainan yang membuat Ellen kewalahan.
"Kita istirahat sebentar, Kid!" Ellen menahan Ruzel yang langkah kakinya cepat sekali.
Ruzel berhenti dan mengikuti duduk di sebuah bangku.
"Aku akan membeli minum," ucap Ruzel yang melihat Ellen tampak kelelahan.
"You so sweet, Kid," komentar Ellen seraya meminum jus pemberian Ruzel.
Ruzel menatap Ellen, tatapannya sulit diartikan yang membuat Ellen keheranan karena Ruzel tidak biasanya menatap seperti itu.
"Ada apa?" tanya Ellen.
"Boleh aku memelukmu?" Ruzel justru bertanya balik.
"Tentu saja," jawab Ellen cepat.
Dan sedetik kemudian tubuh Ellen terhuyung ke belakang, tubuh kecil Ruzel memeluknya dengan erat sekali. Spontan Ellen membalas pelukan anak itu, tangan Ellen membelai punggung Ruzel. Sepertinya anak itu menahan sesuatu.
"Aku tidak akan menganggapmu anak kecil jadi keluarkan semuanya," ucap Ellen kemudian.
Ellen bisa merasakan punggung Ruzel yang bergetar, Ruzel menangis.
"Aku merindukan ibuku," ucapnya lirih. "Tapi, aku tidak tahu wajahnya!"
Ellen jadi sadar, tempat yang mereka datangi adalah tempat wisata keluarga. Pasti Ruzel sedari tadi melihat anak seusianya datang bersama keluarga mereka.
"Apa ayahmu tidak pernah memperlihatkan foto ibumu?" tanya Ellen.
"Ayahku selalu marah jika aku bertanya tentang ibuku," jawab Ruzel.
Ellen jadi iba, dia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Ruzel. Dia bahkan hanya sebatang kara sekarang.
"Setidaknya kau masih punya ayah, bukan? Aku sendiri yang akan meminta ayahmu memberikan foto ibumu jadi tenang saja, Kid!" bujuk Ellen.
"Kalau dia tidak mau, aku akan menendang bokongnya. Tendanganku cukup kuat jadi jangan remehkan aku!"
Mendengar itu, Ruzel terkekeh pelan. "Aku menyayangimu Ellen!"
_
Jangan jadi anak kecil, Kid🥺 othor jadi melow tahu😠Jadi gede aja kaya biasanya.