Penggoda King Mafia

Penggoda King Mafia
PKM BAB 82 - Kesukaan King


Eros berdiri di gerbang utama dan melihat kepergian Kerel. Walaupun mereka tidak terlalu dekat pasti De Servant akan merasa kehilangan sosok lelaki itu.


"Akhirnya semua akan pergi satu persatu," gumam Eros.


Lelaki itu kemudian kembali masuk dan pergi ke tempat di mana para anggota yang sebelumnya terluka.


Setelah melihat keadaan mereka membaik, Eros pergi lagi ingin memeriksa keadaan anak buahnya yang tengah berlatih.


Tapi, saat di jalan, Eros melihat Ruzel berlari dari arah gudang makanan.


Karena penasaran apa yang dilakukan oleh anak itu, Eros menghadang langkah Ruzel. Ternyata bocah itu baru saja mencuri es krim.


"Ck! Padahal kau bisa meminta pada pelayan tanpa perlu mencurinya," decak Eros.


"Rasanya lebih enak saat makan hasil dari curian," jawab Ruzel tanpa beban.


Eros hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar itu, dia akhirnya merebut es krim dari tangan Ruzel dan membawanya pergi.


"Paman... itu es krim ku!" teriak Ruzel.


"Kau bisa mencuri lagi, bukan?" Eros tetap menjauh dengan santai. Sekarang dia ingin mencari Freya.


Rupanya Freya berada di taman karena dia tengah menghias tempat untuk pesta pernikahan kakaknya.


"Sepertinya kau sangat sibuk, ya?" komentar Eros yang berdiri di samping Freya.


Freya melirik ke arah Eros sejenak sambil menghela nafasnya. "Kau sepertinya juga sibuk, Komandan!"


"Pekerjaanku hampir selesai, sisa membentuk tim-tim baru," sahut Eros seraya memberi es krim di tangannya. "Makanlah!"


Freya menerima es krim itu dan langsung memakannya. "Lumayan," komentarnya.


"Baguslah kalau kau suka," ucap Eros sambil menepuk pundak Freya dan memajukan wajahnya ke telinga perempuan itu. "Kau masih punya hutang kencan denganku dan aku mempunyai es krim yang lebih enak, apa kau mau melihatnya?"


Freya terkekeh karena mengerti apa yang dimaksud Eros. "Jadi itu yang kau sebut dengan es krim matang?"


"Ya, begitulah." Eros kemudian berlalu pergi meninggalkan Freya.


...***...


Sementara Draco yang saat ini bersama Patrick menerima kabar jika keadaan istana mulai kondusif. Mereka baru saja menyelesaikan bisnis mereka dan mengembalikan semua pada tempatnya.


"Kerel?" gumam Draco yang jadi memikirkan temannya.


Draco terdiam sejenak, dia memejamkan matanya karena baru kali ini Draco berpisah dengan Kerel.


Tapi, dia tidak mau egois. Kerel juga punya kehidupannya sendiri.


"Wolf Shadow lebih baik kita bubarkan dan aku menarik kalian semua ke istana," ucap Draco kemudian.


"Saya tidak yakin mereka mau ke istana karena selama ini pekerjaan kami bebas tanpa aturan seperti di istana," jelas Patrick.


"Yakinkan saja mereka, aku akan membuat peraturan baru. Dan kau bisa gantikan posisi Kerel," tambah Draco.


"A--apa? Saya?" Patrick rasanya tidak percaya, walaupun dia tidak akan sebaik Kerel tapi dia akan berusaha sebaik mungkin.


"Sekarang kita kembali ke apartemen!" Draco ingin mengajak Ellen kembali ke istana. Tapi, sebelum itu dia ingin membawakan sesuatu untuk pengantinnya. "Apa yang disukai oleh wanita hamil?"


"Mungkin bunga, King. Biasanya semua wanita hamil maupun tidak pasti menyukai bunga," sahut Patrick memberi usul.


"Baiklah, kita mampir ke toko bunga," ucap Draco setuju.


Mereka pergi ke toko bunga dan Draco membeli hampir semua bunga yang ada di toko karena tidak tahu bunga kesukaan Ellen.


Saat sampai di apartemen, mereka sampai dibantu security untuk membawa bunga-bunga itu.


"Drac..." Ellen merasa bingung karena Draco yang kembali dengan membawa banyak bunga. "Kenapa kau membeli banyak bunga?"


"Ini semua untukmu, pilihlah yang kau suka," pinta Draco.


Ellen melihat semua bunga itu dan bingung memilih yang mana. "Sebenarnya kau tidak perlu membeli bunga seperti ini!"


"Kata Patrick, wanita suka dibawakan bunga," ucap Draco jujur.


Karena ingin menghargai Draco, Ellen mengambil mawar putih saja. Dan hal tak terduga dilakukan oleh Draco setelah Ellen memilih, Draco memerintahkan Patrick untuk membuang semua bunga yang tidak terpilih.


"Ternyata kau suka mawar putih, lain kali aku akan membeli bunga itu," ucap Draco.


"King, bukankah kau punya ponsel? Kau bisa bertanya padaku sebelum membeli dan membuang uang," protes Ellen.


"Aku lebih tertarik mencari tahu sendiri," sahut Draco seraya mendekati Ellen. Dia memandangi wajah perempuan yang tengah mengandung anaknya itu. "Apa kau ingin tahu apa yang aku suka sekarang?"


Ellen menggeleng dan itu membuat Draco melepas baju Ellen. "Aku suka melihatmu tidak memakai apapun!"