
Dua bulan berlalu...
Setelah acara pesta pernikahan, di hari berikutnya ada acara untuk Ellen karena perempuan itu yang sah menjadi Queen De Servant.
Dari hari itu, Ellen mulai mengurus rumah tangga istana. Perutnya sudah mulai membuncit tapi staminanya jangan diragukan.
Bahkan kini Ellen berada di hutan untuk melihat penebangan pohon.
"Ingat ya, kita hanya menggunakan bagian utara saja jadi hewan yang ada di hutan tidak terusik," ucap Ellen memberi peringatan pada para pekerja.
Ellen menunjuk peta De Servant dan memperlihatkan rancangan pembangunan.
"Baik, Queen."
Ellen tampak puas dengan hasil kerja mereka yang cekatan. Perempuan itu terus mengawasi sampai Abby datang memberinya minum.
"Minum dulu, Queen. Dan lebih baik anda beristirahat, ingat kandungan anda," ucap Abby memberi peringatan.
"Bayiku ini bayi yang pengertian." Ellen justru menepuk-nepuk perutnya. Dia mengambil minuman dari Abby dan meminumnya sampai tandas.
Tak lama Ellen melihat sebuah mobil berhenti di area itu, rupanya Ruzel yang datang setelah pulang sekolah.
Seperti biasa, Ruzel akan berwajah masam setelah pulang sekolah dan anak itu selalu mencari Ellen.
"Masih tidak menyukai sekolahmu? Apa perlu pindah sekolah lagi? Dalam dua bulan sudah pindah sekolah 3 kali itu artinya kau yang bermasalah," tegur Ellen yang jengah sendiri.
Dia berharap anaknya nanti menyukai sekolah walaupun dia dibesarkan di lingkungan mafia.
"Ayo kita masuk, aku lapar!" Ruzel sepertinya tidak mau membahas sekolahnya. Kalau disuruh memilih, dia pasti pilih mengurung diri di perpustakaan untuk eksperimennya.
"Kalau kau rajin sekolah dan tidak pindah-pindah lagi, King akan mengajarimu meracik ramuan obat," ucap Ellen saat mereka berjalan masuk ke istana.
"Benarkah?" tanya Ruzel antusias.
"Apa King pernah berbohong?" Ellen bertanya balik.
Mereka berdua berjalan sampai ke kastil dewan berada. Ellen berencana memanggil suaminya sementara Ruzel ingin berbicara dengan Loyd.
"Sepertinya mereka sangat sibuk apalagi tidak ada Eros dan Freya," ungkap Ellen.
Memang sejak dia resmi menikah, Eros dan Freya menjalankan misi di luar untuk memperbanyak anggota De Servant.
"Aku rasa begitu, padahal ayah sudah berjanji akan memperlihatkan makam ibuku," keluh Ruzel.
"Apa kau tidak apa-apa, Kid?" tanya Ellen.
"Tentu saja aku baik-baik saja," balas Ruzel seraya mengusap hidungnya dengan ibu jarinya.
Ellen hanya bisa terkekeh melihat tingkah Ruzel, mereka masih berada di depan pintu dan di detik itu juga Loyd keluar dari ruangan.
"Bagaimana sekolahmu?" tanya Loyd.
"Tentu saja baik," jawab Ruzel cepat. Berbeda sekali dengan sikap Ruzel sebelumnya.
"Dasar labil!" Ellen mengumpat seraya masuk ke ruangan suaminya berada.
Di sana Draco masih memeriksa beberapa berkas dengan Patrick. Saat melihat Ellen masuk, Draco menghentikan pekerjaannya sejenak dan meminta Patrick keluar.
"King..." Ellen memanggil lelaki itu begitu manja.
Draco menepuk pahanya dan dengan senang hati Ellen langsung duduk di pangkuan suaminya. Lelaki itu tersentak karena harus menahan tubuh Ellen yang tidak kurus lagi.
Kadang Draco melupakan kehamilan Ellen padahal perut istrinya sudah membuncit.
"Kapan jadwal periksa lagi?" tanya Draco seraya mengusap perut Ellen.
"Beberapa hari lagi, setelah periksa kehamilan, aku mau kita berkencan dengan gaya kencan rakyat biasa," rengek Ellen yang ingin kencan seperti orang normal lainnya.
"Kau mau kan, King?"
Draco berpikir sejenak lalu mengiyakan permintaan Ellen tapi sebelum itu, dia bertanya. "Memangnya rakyat biasa itu bagaimana?"
"Lihat saja nanti." Ellen akan membuat daftar apa-apa saja yang mereka akan lakukan saat berkencan.
_
Rekomendasi Author
Sambil nunggu up lagi, mampir juga di karya kece ini ya gaes. Ceritanya tentang pembunuh bayaran dan gadis mafia.
Judul : Pria Bayaran dan Gadis Mafia
Napen : sensen
Blurb :
Jourrel Alvaro, pembunuh bayaran yang selalu melakukan pekerjaannya dengan sangat bersih tanpa kendala berarti. Banyak para pejabat atau pengusaha yang menyewanya untuk menghabisi musuh-musuh mereka.
Cheryl Anastasia, gadis 24 tahun yang berbakat menjadi seorang arsitek. Darah seni mengalir dari ibunya, sedang jiwa kepemimpinan merupakan turunan dari sang ayah.
Suatu hari, Jourrel dibayar untuk menghabisi nyawa Cheryl. Namun seolah memiliki nyawa seribu, gadis cantik itu selalu lolos dari kematian.
Hingga akhirnya, kekaguman Jourrel meluluhkan hatinya. Ia kalah dan justru jatuh cinta dengan Cheryl karena gadis itu ternyata bukan gadis lemah. Memiliki banyak talenta luar biasa.
Akankah Cheryl membalas cintanya? Lalu bagaimana jika ayah Cheryl yang seorang ketua mafia dapat mengendus pria bayaran itu mengincar putrinya?