
Kerel mencoba mendekati Freya, dia tidak menyukai perempuan itu tapi jika kenyataannya Freya adalah saudara kembar Draco artinya Freya ada dipihaknya.
"Aku bertanya-tanya kenapa matamu dan Draco begitu mirip, aku kira awalnya karena memang kalian berjodoh tapi ternyata kalian adalah saudara," ucap Kerel seraya duduk di samping Freya.
Freya menghapus air matanya tapi dia memalingkan wajah karena tidak mau melihat Kerel.
"Mungkin ini akan membuatmu sedikit tenang, dengarkan aku baik-baik! Kau tidak pernah tidur dengan Draco, malam itu kau hanya berhalusinasi jadi kau tidak melakukan hubungan inses. Dan tentang pernikahan, pernikahan dianggap tidak sah karena kalian bersaudara," jelas Kerel.
Mendengar itu, Freya sedikit lega tapi tidak mengurangi rasa sakit hatinya. Dia butuh waktu untuk sendiri.
Kerel tidak mau mengganggu lagi, dia ingin semua sekarang segera bangkit atau mereka akan mati di tangan Robert.
"Hanya Ellen yang bisa berbicara dengan Drac," batin Kerel seraya berdiri untuk menemui Ellen di ruangan lain.
Pada saat itu, Ellen tengah bersama Rara. Di sana Ellen tampak memarahi Rara karena gadis itu mendapat perundungan lagi. Keadaan istana benar-benar berantakan karena sistemnya yang kacau.
"Aku yang akan bertanggung jawab pada Rara, aku sudah mendengarnya dari Ruzel, sebenarnya aku yang mendekati Rara duluan," ucap Kerel bersikap seolah menjadi laki-laki sejati.
"Cih, kau itu sama saja dengan..." Ellen tidak melanjutkan kalimatnya karena nama yang akan dia sebut adalah Draco. Pasti lelaki itu hancur sekarang.
"Aku tidak sama dengan Drac dan Drac tidak seburuk yang kau kira," ucap Kerel yang ikut duduk di samping Rara.
Kemudian Kerel menjelaskan kenapa Draco tidak mau peduli dengan pengantinnya, kenapa Draco tidak percaya dengan pernikahan, bagaimana Draco mengalami trauma selama ini. Ellen mendengarkan semua dengan seksama.
Awalnya memang Ellen kecewa tapi setelah tahu semuanya, dia justru merasa kasihan apalagi pada Freya. Api kebenciannya langsung padam.
"Kita semua dipermainkan oleh Robert," ucap Ellen seraya mengepalkan kedua tangannya.
"Hanya kau yang bisa membujuk Drac, aku rasa luka di pahanya belum diobati," ungkap Kerel.
"Drac, bukan tipe laki-laki yang bisa bicara hangat pada wanita walaupun dia tahu kau pengantinnya jadi kau pasti tahu cara membujuknya," tambahnya.
Ellen berdiri dan mengambil kotak P3K, dia ingin berbicara pada Draco. Dalam situasi seperti ini, dia harus menurunkan egonya.
Benar kata Kerel luka Draco belum diobati bahkan darah terus menetes dari paha lelaki itu.
Ellen mendekat dan berdiri di depan Draco. "Ayo buka!"
"Buka celanamu!"
Draco yang sebelumnya tertunduk mulai menegakkan kepalanya menatap Ellen, dia hanya diam menatap perempuan itu.
"Jangan membuatku mengulang perkataanku dan ini bukan bagian dari menggoda," ucap Ellen lagi.
Kali ini Ellen sedikit memaksa lelaki itu membuka celananya. Tapi sepertinya Draco menolak.
"Kalau lukanya dibiarkan justru akan bertambah parah!" Ellen terpaksa perlahan menggunting celana Draco karena dia tidak mau membuang waktu.
Beruntung Draco hanya diam saja, Ellen segera mengusap darah yang ada di paha lelaki itu dan mengobati lukanya kemudian membalutnya dengan perban.
Tidak ada suara rintihan atau pergerakan apapun dari Draco ketika Ellen mengobati lukanya.
"Sudah selesai!" seru Ellen seraya tersenyum cerah.
"Sekarang waktunya mengobati hati yang rusak!"
_
Next bab agak vanas yaðŸ¤