Orang Tua Untuk Bayiku

Orang Tua Untuk Bayiku
Pernikahan


Aku berjalan di lorong kampus, entah mengapa lorong ini terasa begitu panjang, rasanya aku sudah ingin berada di dalam kamar kostku. Sudah sebulan berlalu sejak aku meninggalkan Anton dalam hujan, kini aku semakin asyik dengan duniaku sendiri seperti dulu, menyendiri di dalam kamar.


Sampai saat ini dia pun belum berangkat karena masih menjalani masa pemulihan, keadaan ini sebenarnya memudahkanku agar tidak perlu menghindarinya.


Satu semester berlalu, Anton juga belum kembali ke kampus ini, namun tadi aku sempat mendengar salah seorang kakak kelasku yang sedang berbincang jika Anton telah dipindahkan orang tuanya untuk melanjutkan kuliahnya di Australia.


Aku mencoba untuk merasa baik-baik saja, bukankah ini yang aku inginkan, bukankah aku tidak ingin bertemu dengannya lagi, namun ternyata hati ini begitu sakit menerima kenyataan. 'Mila kamu pasti bisa, demi orang tuamu, kamu harus sukses Mila.'


Aku hanya bisa menyemangati diriku sendiri. Saat ini tujuan hidupku adalah untuk membahagiakan kedua orang tuaku, aku berharap rasa sakit ini juga bisa hilang dari hatiku. Dengan sisa semangat yang kumiliki, akhirnya aku berhasil menyelesaikan kuliahku dengan nilai yang memuaskan. Predikat cum laude yang kudapatkan membuat Ayah dan Ibu begitu bangga padaku.


Tak perlu waktu lama, akhirnya aku mendapat pekerjaan, beberapa hari setelah yudisium di kampus ada perusahaan tingkat nasional yang mencari tenaga kerja dan aku berhasil lolos saat wawancara kerja, meski pekerjaan ini mengharuskanku untuk berpisah lebih jauh dengan kedua orang tuaku.


Hiruk pikuk ibukota yang berbeda jauh dengan kota Solo dan Jogja kini harus menjadi bagian dalam hidupku. Untuk saat ini aku tinggal di rumah Mba Tari, dia sekarang sudah menikah dan memiliki seorang anak laki-laki berusia tiga tahun.


Jarak kantorku dengan rumah Mba Tari pun tidak terlalu jauh, sehingga memudahkanku karena aku belum terlalu mengenal kota ini. Hari ini adalah hari pertamaku bekerja di kantor, aku begitu terburu-buru karena tidak mau terlambat.


Akhirnya aku sampai, setelah menemui staf HRD aku lalu diarahkan pada kubikel kerjaku. Baru saja kurebahkan tubuh ini di tempat duduk, tiba-tiba setangkai bunga mawar sudah berada di mejaku. Aku begitu terkejut, namun kuacuhkan karena aku pikir itu adalah milik salah satu karyawan yang tertinggal.


Aku lebih memilih mendengar penjelasan Mba Dini sebagai staf senior yang mengajariku selama masa training. Namun keesokan harinya keanehan kembali terjadi, aku menemukan sebatang cokelat berpita warna merah di atas meja kerjaku, karena takut aku lalu membuangnya.


Aku lalu mengambil kertas yang ada di atas cokelat tersebut.


"Teruntuk Kamila"


'Siapa yang sebenarnya telah mengirimkan cokelat ini?' batinku. Namun kucoba mengindahkan semua itu, dan memilih fokus untuk bekerja.


Keanehan yang kualami tidak hanya terjadi di kantor. Namun juga kualami di rumah Mba Tari, aku sebenarnya sangat penasaran siapa sebenarnya pengirim bunga dan cokelat untukku.


Namun Mba Tari pun tak mengetahuinya.


Keanehan itu tidak terjadi hanya dalam hitungan hari, namun selama tiga bulan masa training ini setiap hari aku mendapat kado berupa cokelat, boneka, maupun bunga baik itu di kantor atau di rumah Mba Tari. Sampai akhirnya, pada suatu hari Mba Dini memanggilku "Mila kamu dipanggil bos besar ke ruangannya tuh."


Aku begitu terkejut karena tiba-tiba aku dipanggil, hatiku bertanya-tanya kesalahan apa yang sudah kulakukan sampai aku harus menghadap ke ruangan pemilik perusahaan ini. Kubuka pintu ruangannya dengan sedikit gemetar.


"Selamat siang Pak, anda memanggil saya?" kataku dengan nada begitu gugup.


Dia lalu membalikkan tubuhnya, betapa terkejutnya aku melihat orang yang ada di hadapanku adalah orang yang selama ini kurindukan. Tak terasa butiran bening mengalir, aku tak bisa lagi menahan perasaan yang berkecamuk di dalam dadaku, apalagi saat ini Anton mulai mendekat padaku.


"Bagaimana kabarmu Mila? Akhirnya setelah sekian lama kita bertemu lagi Mila." katanya sambil tersenyum, kini tubuh kami begitu dekat.


Jantungku pun semakin berdegup dengan kencang. "Maaf Mas, permisi saya sedang banyak pekerjaan." kataku sambil mencoba menjauh darinya.


Namun gerakanku kalah cepat, Anton kini sudah memelukku. Langkah kakiku pun tertahan, apalagi dia memelukku begitu erat, rasanya begitu sulit untuk kulepaskan.


"Mila jangan pernah tinggalkan aku lagi Mila."


"Mas, sadar Mas kita berbeda."


"Apanya yang berbeda Mila, kamu tidak pernah memberiku kesempatan!!" Lalu Anton mengambil ponselnya dari dalam saku celananya.


"Lihat ini Mila, lihat baik-baik!"


Aku melihat Anton tampak sedang duduk dengan salah seorang pemuka agama, lalu dia memperlihatkan sebuah video saat dia sedang mengucapkan kalimat syahadat.


"Tapi Mas, aku ga mau kamu berpindah keyakinan hanya karena aku, kamu harus benar-benar yakin yang menjadi keputusanmu adalah pilihan dari dalam lubuk hatimu!!!"


"Siapa yang berpindah keyakinan karena kamu Mila? aku sudah lama ingin berpindah keyakinan sejak di bangku sekolah, teman-temanku yang mengajarkan semua ini padaku, bukan kamu, makanya aku berani mencintaimu, inilah alasanku!!!"


Aku hanya bisa menangis tersedu-sedu mendengar semua penjelasannya. Tidak ada alasan lagi bagiku untuk menghindar darinya. Aku juga begitu mencintainya. Aku lalu membalas pelukannya dan menerima cintanya kembali.


Tak terasa sudah satu tahun aku menjalani hubungan ini dengan Anton. Akhirnya dia memberanikan diri mengajakku untuk menemui orang tuaku. Tentu saja Ayah dan Ibu merestui hubungan kami, aku pun sangat bahagia bisa menikah dengan orang yang sangat kucintai.


Namun ada sesuatu yang mengganjal dalam hatiku, sampai satu bulan menjelang pernikahan kami, aku belum pernah dipertemukan dengan kedua orang tua Anton. Saat aku bertanya, dia hanya menjawab jika orang tuanya sedang sibuk.


Aku mencoba berfikir positif dan memahami kondisi kedua orang tuanya.


Akhirnya hari pernikahan pun tiba, aku sedikit lega karena Anton datang bersama keluarga besarnya, Ayahnya juga ikut mendampingi saat ijab qabul kami berlangsung. Namun aku tak melihat kehadiran Ibu mertuaku, saat kutanyakan pada Anton dan Ayahnya mereka hanya menjawab jika Ibu sedang sakit.


Aku tak mau merusak kebahagiaan orang-orang di sekitarku saat itu, akhirnya hanya bisa percaya dengan yang mereka katakan.


Satu minggu setelah pernikahan, aku dan Anton pulang ke Jakarta. Sementara kami tinggal di apartemen milik Anton sampai kami menemukan rumah yang cocok. Aku pun tidak diperbolehkan bekerja, sekarang aku hanya menjadi Ibu rumah tangga.


Hingga suatu hari saat pernikahan kami menginjak bulan ketiga, aku mendengar sebuah ketukan di pintu apartemen. Aku lalu membukanya, seorang wanita cantik berdiri di depanku.