
Suasana rumah Wina sudah begitu ramai, semua orang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Bahkan para pekerja catering sudah mulai memasak di dapur sejak subuh. Tenda pengantin dan dekorasi ruangan sudah mulai terpasang, berbagai bunga warna-warni pun sudah tampak menghiasi seluruh ruangan. Tiba-tiba Shakila datang ke menghampiri Wina yang saat itu tengah duduk sambil melihat para pekerja.
"Ma, gawat."
"Kenapa sayang?"
"Lihat ini Ma."
"Astaghfirullah kok jadi rusak gini?"
"Entahlah Ma, Shakila juga ga tau."
"Wina kenapa kok ribut-ribut?"
"Ini Mil, kebaya untuk pengajian nanti sore tiba-tiba rusak gini."
"Ya udah buruan di benerin Win."
"Ayo Shakila, kita harus cepat ke rumah desainernya."
"Tunggu Win, kalian keluarga pengantin, ga baik pergi seperti ini menjelang hari H, biar Mas Anton temani kalian ya, aku yang urus semua persiapan di sini."
"Kamu gapapa Mila?"
"Gapapa, kamu tenang saja Win. Sebentar aku panggilkan Mas Anton."
Wina dan Shakila mengangguk, beberapa saat kemudian Anton pun datang. "Mas, tolong ya temani mereka."
"Iya sayang, ayo Wina, Shakila lebih baik kita berangkat sekarang mumpung masih pagi."
"Iya Om Anton, makasih banyak mau nemenin kami."
"Sama-sama Shakila."
Di salah satu pojok ruangan tampak Fatma melihat mereka semua dengan menyunggingkan senyum liciknya. 'Kena kalian.' gumam Fatma.
Fatma lalu mendekati Kamila yang kini tengah duduk sambil menyuapi Kevin sarapan. "Selamat pagi Mila."
"Selamat pagi Tante Fatma."
"Selamat pagi juga Kevin sayang, sungguh kamu memang sangat mirip dengan ayahmu, Randi."
Mendengar kata-kata Fatma, Kamila lalu menatap tajam ke arahnya. "Apa maksud Tante? Kevin adalah anakku dan Mas Anton."
"Tidak usah berbohong Kamila, aku sudah tahu semuanya jika Kevin adalah anak hasil hubungan gelapmu dengan Randi di belakang Wina."
Kamila hanya diam mendengar kata-kata Fatma. "Permisi, saya sedang banyak urusan." kata Kamila sambil beranjak dari tempat duduknya. Namun sebelum Kamila bangkit, Fatma sudah mencekal tangannya.
"Kenapa kamu begitu terburu-buru Kamila? Bukankah seharusnya kamu bahagia bisa bertemu salah satu sanak keluarga dari Randi yang masih hidup? Dan tante adalah neneknya Kevin."
"Maaf Tante, saya tidak ingin berurusan dengan sesuatu hal yang berkaitan dengan Randi."
"Uh uh uh, sebegitu bencinya kamu pada Randi? apa kamu tidak sadar, bagaimanapun juga Randi adalah ayah dari salah satu anakmu."
"Randi juga sudah menghancurkan kehidupan saya dan keluarga saya. Dia telah membuat saya mengalami trauma yang begitu dalam, bahkan dengan sengaja membuat Ibu saya meninggal dengan memperalat Wina. Perlu anda tahu Tante, jika hari-hari yang saya lalui karena perbuatan Randi itu terasa begitu berat dan butuh waktu yang tidak sebentar untuk melupakan semua rasa trauma ini. Dan hari ini dengan mudahnya anda mau menggores kembali luka lama saya yang telah mengering."
"Puitis sekali kata-katamu Kamila, kamu yang sudah terlalu mendramatisir keadaan, terimalah kenyataan jika bagaimanapun juga Kevin adalah anak kandung Randi, dan tante berhak memiliki hak asuh Kevin karena hanya tinggal tante keluarga yang Randi miliki.".
"Apa maksud Tante?"
"Ya, seperti yang sudah kau dengar jika tante memiliki hak untuk mengasuh Kevin karena hanya tinggal Tante keluarga yang Randi punya."
"Dengar Tante, tidak akan kubiarkan semua itu terjadi. Aku akan mempertahankan Kevin sampai titik darah terakhirku."
"Aku juga akan merebut hak asuh Kevin sampai titik darah terakhirku Kamila sayang."
"Coba saja jika bisa Tante, aku adalah ibu kandungnya, hak asuh seorang anak sebelum dewasa akan jatuh pada ibu kandungnya. Lagipula lihat keadaan Tante, bagaimana pengadilan akan mengabulkan gugatan Tante jika keluarga Tante tidak memiliki pendapat yang cukup." kata Kamila sambil tersenyum sinis.
"Kura*g ajar, kamu mengejekku jika aku adalah orang miskin?"
"Mila bukan mengejek, tapi kenyataannya seperti itu Tante, hal ini akan menjadi pertimbangan saat kita bertanding di pengadilan."
"Mila hanya ingin Tente mengerti jika posisi Tante itu begitu sulit, apalagi setelah semua kejahatan yang Randi lalukan, bahkan dia tidak pernah mengakui Kevin sejak dalam kandungan, jadi jangan sekali-sekali bermimpi untuk merebut Kevin dariku."
"Aku tetap akan berusaha Kamila, lihat saja nanti."
"Silahkan saja Tante, tapi jangan pernah menyesal jika suatu saat hal ini akan menjadi bumerang bagi hidup Tante." kata Kamila sambil meninggalkan Fatma.
"Br*ngsek, ternyata dia bukan wanita yang polos dan bodoh. Aku harus lebih berhati-hati dalam merencanakan semua ini."
"Ma."
"Ih apa-apaan sih Papa bikin kaget saja."
"Mama habis ngobrol sama Kamila?"
"Iya, tapi ternyata dia wanita yang begitu menyebalkan, bahkan di sudah berani menghina kita Pa."
"Menyebalkan bagaimana? Menurut Papa dia sangatlah lembut dan sopan."
"Papa bisa ga sih, sekali-kali dukung Mama, bisanya cuma muji orang lain terus."
"Papa ga memuji Ma, tapi inilah kenyataannya, Kamila adalah wanita yang baik, tidak mungkin dia berbuat di luar batas jika Mama tidak keterlaluan padanya."
"Papa, lebih baik Papa diam sebelum membuat Mama bertambah kesal."
Saat Fatma dan Rusli masih beradu mulut tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. "Siapa ya Pa?"
"Lebih baik kita keluar saja Ma, barangkali dia salah satu tamu pentingnya Wina."
Fatma dan Rusli lalu keluar menuju ruang tamu. Wajah Fatma yang masam kini berubah, begitupula dengan perasaannya yang kesal kini berbalik diselimuti kebahagiaan, dia lalu memeluk seorang laki-laki muda yang tengah berdiri di depan pintu.
"Reno, kapan kamu keluar dari rehabilitasi Nak? Kenapa kamu ga kabari Mama dan Papa?"
"Reno keluar kemarin sore Ma, Reno hanya ingin memberi kejutan, namun ternyata Mama dan Papa ga di rumah, dan tetangga bilang jika Papa dan Mama ada di sini, jadi Reno langsung pergi ke rumah ini."
"Ayo kita masuk sayang. Kamu pasti lelah."
"Ma, apa kita akan kembali ke rumah ini lagi?"
Fatma dan Rusli hanya terdiam, lalu sebuah senyuman mengembang di bibir Fatma. "Reno, kamu harus membantu Mama agar kita kembali ke sini lagi dan menguasai harta warisan yang begitu banyak."
"Apa harta warisan Ma?" Fatma lalu mengangguk sambil tersenyum.
"Tentu Reno mau Ma, Reno akan lakukan apapun agar kita bisa hidup enak."
"Bagus Reno, kamu memang anak Mama."
Rusli yang mendengar percakapan keduanya hanya menggelengkan kepala. Sedangkan Reno hanya tersenyum, lalu dia memandang sekeliling ruangan. Begitu banyak kenangan yang hadir, karena di rumah inilah dia menghabiskan masa kecilnya dengan Shakila yang hanya berbeda usia lima tahun dengannya.
"Shakila mana Ma?"
"Sedang membetulkan baju untuk pengajian nanti."
"Oh." jawab Reno, namun tiba-tiba netranya tertarik pada seorang sosok wanita cantik berkulit putih dan memiliki postur tubuh yang begitu ideal. 'Sempurna.' gumam Reno.
"Reno kamu lagi ngapain?"
"Ma, siapa wanita itu?"
"Yang mana?"
"Itu Ma, yang pake baju pink lagi main sama dua anak kecil."
"Oh itu." kata Fatma dengan muka sedikit masam.
"Ya dia siapa Ma?"
"Itu Amanda."