
"Kamilaaaa." suara Anton yang memanggilku terasa begitu lirih. Aku lalu menghampirinya dan memegang tangannya.
"Ya Mas, aku di sini, kamu bertahan Mas, aku yakin kamu pasti kuat Mas."
"Kamilaaaa." suaranya semakin lirih, tiba-tiba matanya kembali terpejam. Aku begitu panik lalu kupanggil perawat dan dokter jaga di IGD, mereka lalu bergegas masuk ke bilik kami.
"Dok, teman saya kenapa dok? dia tadi sempat siuman dan memanggil nama saya namun kemudian dia tak sadarkan diri lagi."
Dokter itu kemudian tersenyum "Anda tidak usah cemas, itu hanya reaksi dari obat yang saya berikan untuknya, kita berdoa saja semoga dia bisa siuman secepatnya."
"Iya dok, terimakasih banyak."
"Sama-sama, saya tinggal dulu ya, besok pagi sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan."
Aku lalu mengangguk, semalaman aku menjaga Anton di bilik IGD, aku sangat menghawatirkannya sampai tidak bisa tidur dan terus terjaga di sampingnya.
Kulihat wajahnya yang begitu pucat, wajah tampannya kini terasa begitu menyedihkan dipenuhi oleh luka, tubuhnya yang kekar juga tampak rapuh karena lebam di sekujur tubuhnya.
"Maaf Mas Anton, ini salahku." kataku sambil terus menangis.
Menjelang pagi rasa kantuk mulai mendera, akhirnya mataku pun terpejam diiringi suara adzan subuh yang berkumandang. Tiba-tiba aku dikejutkan sebuah belaian lembut di kepalaku. Aku lalu membuka mata, betapa terkejutnya aku saat kulihat aku tengah tertidur di atas dada Anton.
"Ma.. Maaf Mas Anton, Mila ga sengaja tidur disini."
"Gapapa Mila, mas seneng bisa semalaman sama kamu."
"Mas lagi sakit kok malah ngomong gitu sih."
"Ada kamu Mila, itu sudah cukup untukku" katanya sambil tertawa.
"Aduh awww..."
"Kenapa Mas, ada yang sakit makanya hati-hati tangan Mas Anton itu retak loh, jangan banyak bergerak." kataku diiringi tangis yang menetes di pipiku. Anton lalu memandangku, aku menjadi sangat gugup bahkan melihat bola matanya pun aku tak sanggup.
"Kenapa kamu menangis Mila?"
"Maafin Mila ya Mas, karena Mila Mas jadi seperti ini."
"It's okay Mila everything for you, jangan dipikirkan, jika aku gak nolongin kamu mungkin aku sudah kehilangan orang yang paling berarti dalam hidupku."
Aku semakin menangis tersedu saat mendengar kata-katanya. "Maafin Mila mas, Mila masih belum bisa menerima Mas Anton."
"Mila, aku tahu masa lalumu, kamu hanya tidak mau membuka hatimu untuk orang lain, cobalah buka hatimu Mila, lupakan masa lalumu, jangan terperangkap dengan masa lalu Mila, masa depanmu bisa hancur jika kamu masih terperangkap masa lalu."
Benar yang Anton katakan, mungkin aku sudah bisa melupakan Randi, namun aku belum mau beranjak dari masa laluku dengannya.
"Mila, kamu wanita yang cantik dan pintar, jangan buang waktumu untuk sebuah ketidakpastian, berdamailah dengan masa lalu dan bukalah lembaran baru."
Aku mengangguk mendengar semua kata-kata Anton, yang dia katakan memang benar. Aku memang tidak bisa berdamai dengan masa lalu. Sebenarnya dalam lubuk hatiku yang paling dalam, ada sesuatu yang kurasa saat bertemu dengan Anton. Mungkin tanpa sadar aku mulai mencintainya, namun perasaan itu selalu kusangkal. Aku selalu mengingat rasa trauma yang kualami saat berpisah dengan cinta pertamku.
"Iya Mas aku mengerti, aku memang harus melupakan semua kenangan buruk dalam hidupku dan memulai kehidupan baru."
"Mas orang tua mas gimana? Apa perlu aku kabari tentang keadaan mas?"
Aku begitu terkejut mendengar kondisi keluarga Anton, tak kusangka dibalik keceriaannya dia menyimpan permasalahan dalam keluarganya. Raut wajahnya pun berubah menjadi masam saat aku membicarakan kedua orang tuanya.
"Ya udah Mas Anton ga usah sedih, kan ada Mila di sini, Mila janji akan merawat Mas Anton sampai benar-benar sembuh." kataku sambil tersenyum.
Wajah Anton pun berubah, matanya berbinar menyiratkan kebahagiaan. "Yang bener Mila, kamu mau nemenin aku?"
"Iya Mas nih Mila janji, Mila pasti akan nemenin Mas Anton sampai sembuh." jawabku sambil kubentuk angka dua di jariku.
Satu minggu di rawat di rumah sakit, akhirnya Anton diperbolehkan pulang. Aku lalu mengantarnya pulang menggunakan taksi. Rumah Anton berada di sebuah komplek perumahan mewah di daerah Sleman.
Saat kami masuk memang rumah ini begitu sepi, hanya ada dua orang asisten rumah tangga dan seorang tukang kebun yang sedang membersihkan halaman.
"Ehhh den Anton sudah pulang, mau minum apa den?"
"Mila kamu mau minum apa?"
"Terserah Mas Anton saja."
"Bawain jus jeruk dua ya Mba Murni bawain ke kamar."
"Baik den."
"Yuk ke kamarku saja Mila, aku mau tiduran, kepalaku masih sedikit pusing kalau berdiri terlalu lama."
Aku lalu membantu Anton masuk ke dalam kamar, kamar yang begitu luas. Setelah membantu Anton tidur di atas ranjang, Mba Murni datang dan memberikan jus pada kami. Saat Anton sedang meminum jusnya aku tertarik untuk melangkahkan kaki menuju balkon kamar, rasanya angin bertiup begitu segar dan aku ingin menikmati hembusan angin itu. Kupejamkan mata saat angin menghempas tubuhku, tiba-tiba tubuhku begitu hangat, aku begitu terkejut saat Anton tengah memelukku dari belakang."
"Mas, kamu kan masih sakit, kamu tidur saja Mas."
"Aku juga ingin menikmati hempasan angin bersamamu Mila."
Anton lalu memeluk tubuhku kembali, aku mulai terbuai dalam dekapannya, tanpa terasa bibir kami sudah bersentuhan. Tanpa sadar aku begitu menikmatinya, hingga kami dikejutkan oleh tetesan air hujan yang mulai membasahi.
"Mila aku cinta kamu Mila, jangan pernah tinggalkan aku."
Aku hanya bisa mengangguk dalam dekapannya. Rasa di dalam hatiku tak ingin kusangkal lagi jika aku memang benar-benar begitu mencintainya.
Namun saat itu juga aku tersadar saat melihat sebuah benda yang menandakan perbedaan antara aku dan Anton berada di salah satu sudut kamarnya. Sebuah salib berukuran besar menghiasi sudut kamar Anton. Aku lalu mulai berjalan menjauhinya.
"Mas, ga mungkin Mas, kita ga mungkin bisa bersatu."
"Apa maksudmu Mila?"
"Mas, kita ga mungkin bisa bersatu Mas, kita berbeda."
Aku lalu lari meninggalkan Anton, air mataku mengalir deras membasahi pipi. Anton yang tampak kebingungan tak bisa mengejarku karena kondisinya masih tidak memungkinkan.
Dalam derasnya hujan aku menangis dan berteriak."Kenapa Tuhan? Kenapa harus terjadi lagi? Apa salahku kenapa kisah cintaku selalu seperti ini? Saat aku mulai mencintai orang lain kenapa aku dan dia juga tidak bisa bersama? Kenapa Tuhan?Kenapaaa? Apa aku tidak berhak bahagia?"
Teriakanku semakin kencang, orang -orang yang berlalu lalang tampak memperhatikanku namun aku tak peduli. Rasanya begitu sakit.