Orang Tua Untuk Bayiku

Orang Tua Untuk Bayiku
Kembali


Sepanjang presentasi, Sandra tampak diam disampingku. Sangat berbeda dengan biasanya yang selalu antusias dan bersemangat saat kami melakukan meeting. Setelah selesai, aku lalu pergi meninggalkan ruang meeting dan berjalan ke ruanganku. Aku lalu mengambil ponsel dan menghubungi Kamila.


[Kamu dimana sayang?]


[Di cafe mas, kenapa?]


[Jangan lupa makan sayang, jaga kesehatan.]


[Kamu tuh Mas yang harus jaga kesehatan, aku tahu pasti kamu begitu sibuk karena pekerjaan sudah begitu menumpuk kan?]


[Hahahhahaha hmmm tau aja kamu.]


[Apa sih yang ga aku tahu tentang kamu Mas.]


[Ada, banyak, contohnya hari ini kami ga tau kan apa yang telah kulakukan untukmu.]


[Hmmm apa sih, kita juga lagi jauh-jauhan.]


[Tunggu saja sebentar lagi sayang, kamu juga akan tahu.]


Aku lalu memutuskan sambungan telepon dan tertawa bahagia membayangkan Kamila saat ini pasti sedang dilanda kebingungan. Sebelum memulai rapat, aku telah memesan buket bunga berukuran besar untuk Kamila. Aku yakin saat ini bunga tersebut pasti sudah sampai. Saat masih tersenyum membayangkan Kamila, tiba-tiba ponselku berbunyi.


Wife:


Terimakasih kejutannya sayang. Love you..


Sampai bertemu akhir pekan, kamu pasti sudah merindukan kebersamaan kita kan sayang?


Melihat pesan dari Kamila membuatku tak dapat lagi menahan perasaan ini. Aku lalu berkemas dan pergi dari ruanganku. "Sandra, saya ada urusan, tolong kamu perintahkan Dimas untuk menyelesaikan pekerjaan saya, kamu juga tolong bantu dia ya!"


"Bapak mau ke mana? Bukankah hari ini kita sudah tidak ada jadwal pertemuan lagi dengan klien?"


"Bukan urusan pekerjaan Sandra, saya ada urusan keluarga." kataku sambil tersenyum.


Sandra tampak begitu terkejut dan sedih dengan kepergianku. Namun dia hanya diam, menuruti semua perintahku. Dua jam kemudian, aku sudah sampai di cafe milik istriku. Dia begitu terkejut melihat kedatanganku.


"Mas, apa-apaan ini? Bukankah ini masih hari Senin?"


"Memangnya salah kalau aku merindukan istriku sendiri?"


"Terus pekerjaan kamu gimana?"


"Biar asisten dan sekretarisku yang urus."


"Hmmm... sekarang kita pulang yuk, sudah sore nih. Amanda pasti sudah nungguin kita di rumah."


Kami lalu masuk ke dalam mobil dan pulang ke rumah Kamila. Amanda tampak begitu bahagia melihat kedatanganku.


"Papa... Nanti malam Papa mau nginep sini?"


"Iya dong, papa kan udah baikan sama mama, kita bisa tinggal bersama-sama."


"Tapi Manda penginnya kita tinggal bareng tiap hari Pa!" kata Amanda dengan raut wajah sedih.


Ayah lalu menghampiri kami. "Anton, kamu bawa saja Kamila dan Amanda ke Jogja, kalian sudah menikah, tidak baik tinggal berjauhan seperti ini."


Aku lalu mengangguk mendengar kata-kata Ayah. "Mila, aku sebenarnya setuju dengan Ayah, karena di Jogja kini aku tinggal sendiri. Ayahku dan Caesar telah pulang ke Jakarta. Aku yang meminta Caesar untuk membawanya agar Ayah bisa sedikit melupakan kesedihannya. Karena di rumah itu begitu banyak kenangannya bersama Ibu yang akan membuat Ayah semakin terpuruk." kataku.


"Tapi kalau Kamila pindah ke Jogja nanti Ayah sendirian. Mila ga mungkin tega ninggalin Ayah hidup sendiri di rumah ini."


"Kamu tak usah khawatir Kamila, ada Bi Sumi dan Mang Usman yang menemani Ayah disini. Lagipula, rumah Rani juga dekat, hanya berbeda beberapa blok saja dari sini."


"Lalu bagaimana dengan cafe Mila yah?"


"Tenang Mila, biar mba yang mengurusnya."


Tiba-tiba suara Mba Rani mengagetkan kami. "Rayhan sekarang sudah besar, dia semakin banyak kegiatan di luar bersama teman-temannya, kadang mba merasa kesepian dan ingin memiliki kesibukan, sebenarnya sudah lama mba ingin mengurusi cafe itu, tapi tampaknya kamu belum ingin melepas cafemu hahahahahaha."


"Ih Mba Rani, ya sudah Mila titip cafe ya, tolong diurus dengan baik dan jangan sampai gulung tikar." Mba Rani lalu mengangguk.


"Ya udah, yuk masuk." kata Kamila.


Jantungku berdetak tak karuan saat aku dan Kamila berdua di dalam kamar. Dia berdiri di balkon kamar ini, lalu aku menghampirinya dan memeluknya dari belakang. "Sayang." bisikku di telinganya.


"Mas, kamu belum ngantuk?"


"Aku ingin menghabiskan malam ini denganmu, sudah 10 tahun lamanya, aku menantikan saat-saat ini lagi."


Kamila lalu mengangguk dan kami hanyut dalam suasana yang begitu romantis, kerinduan yang telah lama terpendam di dadaku akhirnya terbayar. Kami lalu menikmati malam ini layaknya suami istri. Aku begitu bahagia bisa merasakan saat-saat ini lagi bersama Kamila. Tanpa sadar, kami terjaga sepanjang malam untuk melampiaskan rasa rindu yang begitu membuncah di dada.


"Mas, udah hampir pagi. Kamu ga mau tidur? Besok kan kamu harus berangkat kerja Mas."


"Besok aku ga berangkat, semua urusan pekerjaan sudah kuserahkan pada Dimas, besok aku akan menemanimu pergi ke sekolah Amanda untuk mengurus kepindahan sekolahnya, lalu siangnya kita bisa pulang ke Jogja."


"Ya sudah kalau itu maumu." kata Kamila sambil bersandar di atas dadaku. Akhirnya kami baru bisa tertidur menjelang pagi.


"Papa... Mama... Ayo bangun, udah pagi nih, katanya mau nganterin Manda ke sekolah."


"Iya... Iya sayang, sebentar."


"Mas, mandi yuk, katanya mau ikut ke sekolah Amanda."


Aku hanya mengangguk malas, mataku rasanya masih ingin terpejam. Namun tiba-tiba Kamila menarik tubuhku dan memaksaku berjalan ke arah kamar mandi. Setelah selesai mandi dan sarapan kami lalu pergi ke sekolah Amanda. Saat aku dan Kamila sedang mengurus dokumen kepindahan Amanda, tiba-tiba ponselku berbunyi.


"Siapa Mas?"


"Sandra, mungkin ada urusan pekerjaan."


"Ya sudah kamu angkat telepon di luar saja, biar tidak menggangu."


"Aku keluar dulu ya sayang."


[Ya, ada apa Sandra.]


[Maaf Pak Anton, Bapak hari ini berangkat ke kantor atau tidak?]


[Sandra, hari ini saya belum bisa berangkat, karena saat ini saya masih berada di Solo, kemungkinan nanti sore saya baru pulang ke rumah. Apa ada masalah di kantor?]


[Emh... Tidak ada Pak.]


[Oh ya sudah kalau tidak ada lagi yang perlu dibicarakan saya tutup teleponnya karena saya sedang ada di sekolah anak saya.]


[Baik Pak.]


"Mas."


"Udah beres sayang?"


"Udah, yuk kita pulang."


Kami lalu pulang dan mengemasi barang-barang milik Amanda dan Kamila, kami juga dibantu Mba Rani dan Bi Sumi. Setelah makan siang, kami lalu berpamitan.


"Ayah, jaga diri Ayah baik-baik ya, kalau ada apa-apa telepon Mila. Mba Rani, Mila titip Ayah ya.". Mba Rani lalu mengangguk.


"Kamu juga jaga diri Mila, urus anak dan suamimu dengan baik. Anton, hati-hati di jalan ya."


"Baik yah."


Setelah berpamitan, kami lalu masuk ke dalam mobil. Kukendarai mobil ini dengan kecepatan sedang, kami begitu menikmati perjalanan ini, sepanjang jalan kami lalui dengan penuh tawa dan canda. Kami akhirnya sampai di rumah saat masuk waktu senja, karena jalanan begitu macet, terutama di sekitar perbatasan kota.


Mba Murni begitu antusias melihat kedatangan kami, barang-barang kami lalu dibawa olehnya masuk ke dalam rumah dan dirapikan ke dalam kamar kami masing-masing.


"Tuan dan Nyonya silahkan makan malam, sudah saya siapkan semuanya."


"Terimakasih Mba Murni." jawab Kamila.


Saat kami menikmati makan malam, tiba-tiba pintu rumahku diketuk seseorang. Mba Murni lalu membukakan pintu, kemudian masuk lagi dengan tergesa-gesa.


"Maaf Tuan Anton, ada Non Sandra."


"Sandra?" aku dan Mila hanya bisa saling berpandangan.