
Seorang laki-laki dan wanita tampak sedang menikmati makan malam dengan begitu mesra.
Tetapi kemesraan itu sedikit terusik oleh sebuah panggilan telepon dari ponsel yang tergeletak di atas meja, namun sambungan telepon itu dia alihkan dan kemudian pria itu lalu sibuk mengetik sebuah pesan.
"Kenapa ga diangkat sayang? Kalau kamu terlalu lama menghindarinya dia bisa curiga loh Ham."
"Aku sebenarnya sudah malas Becca, tapi aku harus tetap menjaga perasaannya agar tetap mencintaiku."
"Dasar laki-laki hidung belang."
"Aku laki-laki yang setia Becca, semua yang kulakukan hanya untuk membalas dendam pada keluarga mereka."
" You bad boy." kata Rebecca sambil tersenyum.
Pertemuan Ilham dan Rebecca di malam kedatangan Rebecca ke Singapura telah banyak membawa dampak bagi hubungan mereka. Rebecca yang awalnya selalu menghindari Ilham kini berubah, dia mulai membuka kesempatan pada Ilham untuk mendekati dirinya dan memulai sebuah hubungan dengannya.
Pada malam itu, saat Ilham mengantar Rebecca ke apartemen miliknya setelah mereka menyantap makan malam, tiba-tiba sebuah tawaran tak terduga datang darinya.
"Kamu mau masuk dulu ga Ham? kita habiskan malam ini sambil ngobrol, kita kan udah lama ga ketemu."
"Boleh." jawab Ilham.
'Yes, kesempatan, ga biasanya Becca bersikap semanis ini.' gumam Ilham dalam hati.
Ilham lalu mengikuti langkah Rebecca menuju ke apartemennya. "Maaf aku belum punya banyak makanan untuk menjamu kamu Ilham, malam ini kita minum kopi saja ya."
"Tak masalah Becca, aku selalu menyukai apapun yang kau berikan."
"Mulai gombal lagi deh!"
Mereka lalu menghabiskan malam ini dengan mengobrol sambil menonton film. Tanpa sengaja Rebecca memutar sebuah film romance yang banyak memutar adegan-adegan romantis.
Perasaan Ilham pun semakin bergejolak, apalagi saat ini Rebecca yang ada di sampingnya tampak begitu cantik dan seksi. Tubuh putihnya hanya memakai kemeja tanpa lengan berwarna cream yang tipis dan begitu memperlihatkan bagian tubuhnya, serta celana hotpen jins pendek semakin memperlihatkan kakinya yang mulus. Rambutnya diikat kucir kuda menampakkan bagian leher yang membuat Ilham beberapa kali menelan ludah.
Saat sebuah adegan ciuman di film tersebut, Rebecca menyandarkan tubuhnya di atas bahu Ilham. Jantung Ilham pun kian berdetak kencang saat Rebecca juga memegang pinggangnya.
Ilham bagaikan mendapat angin segar. 'Mungkin ini saatnya Rebecca jatuh ke dalam pelukanku.' batin Ilham. Pelan-pelan Ilham mendekatkan wajahnya pada Rebecca, dan memegang dagunya. Sedetik kemudian bi*ir mereka sudah mulai menyatu. Perasaan cinta dan rindu yang selama ini terpendam begitu membuncah. Yang dia tahu dia begitu menginginkan Rebecca.
Tanpa Ilham duga, Rebecca membalas ci*man darinya dengan penuh gairah. Bahkan Rebecca yang terlebih dahulu bermain dengan li*ah Ilham.
"I love you. Jadilah kekasihku Rebecca?"
Namun Rebecca hanya terdiam. "I don't know."
"Why."
"You know, how about me."
"Kita bisa menjalani hidup ini tanpa pernikahan dan anak Becca."
"Promise?"
"Yeah, i do."
Sejak hari itu, Ilham selalu menghabiskan hari-harinya dengan Rebecca. Rencana awal Ilham yang sudah begitu matang untuk membalas dendam akhirnya buyar karena kedatangan Rebecca dalama hidupnya. Bahkan sudah satu minggu lamanya dia tidak menemui Amanda.
Amanda pun tak sedikitpun menaruh rasa curiga padanya. Bagi Amada yang terpenting adalah tetap saling menjaga komunikasi satu sama lain.
'Dasar bocil.' gumam Ilham saat selesai mengetikan sebuah pesan untuknya. Kemudian dia melanjutkan makan malam romantisnya dengan Rebecca.
"Ilham berhentilah bermain-main dengan anak itu."
"Tidak bisa sayang, rencanaku sudah berjalan begitu matang. Aku harus segera membalaskan dendamku pada keluarganya."
"Ilham dia masih anak-anak dan dia tidak berhak disakiti."
"Tapi keluarganya sudah begitu menyakitiku Becca, setelah kakakku berbuat baik pada Kamila, ibunya. Mereka dengan mudahnya melenyapkan kakakku!!! Benar-benar tak punya perasaan."
"Amanda harus ikut merasakan akibat dari perbuatan keluarganya Becca."
***
Di suatu malam dua orang laki-laki tampak mengendap-endap mendekati sebuah rumah mewah. Salah seorang diantaranya lalu mendekat pada dua orang satpam yang berjaga dan berpura-pura tersesat sambil menanyakan alamat. Sedangkan laki-laki yang lain masuk ke dalam garasi mobil dan menghampiri sebuah mobil mewah berwarna hitam.
Dia lalu masuk ke kolong mobil dan terlihat sibuk mengerjakan sesuatu. Beberapa saat kemudian dia pun keluar dari kolong mobil. "Selesai." katanya sambil tersenyum. Dia lalu keluar dari garasi mobil, kemudian memanjat tembok seperti yang dilakukannya saat memasuki rumah itu.
Dia lalu memberi kode pada temannya jika dia telah selesai mengerjakan tugasnya, temannya yang bertugas mengalihkan perhatian satpam lalu berpamitan pada kedua satpam tersebut lalu menghampirinya. Kemudian mereka pun pergi meninggalkan rumah itu.
Tak jauh dari tempat itu, seorang lelaki paruh baya tampak duduk di atas mobil sambil membuang asap rokok ke udara. Dua orang tadi lalu menghampirinya.
"Bagaimana?"
"Beres Bos."
"Ini upah untuk kalian, jika sudah berhasil akan kuberikan kalian bonus. Tapi ingat jangan pernah bocorkan rahasia ini pada siapapun atau keluarga kalian akan ikut merasakan akibatnya. Bukankah kalian tahu siapa aku, dan akan berhadapan dengan siapa kalau kalian berani macam-macam padaku!"
"Siap Bos, kami akan tutup mulut untuk selamanya. Tenang saja rahasia bos kami jamin aman."
"Baik kalau begitu. Sekarang kalian boleh pergi."
"Baik bos, terimakasih."
Beberapa hari kemudian laki-laki itu tampak duduk di antara dua pusara.
"Maafkan saya, kalian adalah orang yang begitu baik, bahkan kebaikan kalian pun sungguh tak ternilai harganya. Sebenarnya saya tidak memiliki niat buruk pada kalian. Namun, rasa penyesalan di dalam hati saya semakin hari begitu menghantui. Saya hanya ingin melihat putri saya hidup bahagia kembali dengan putra kandungnya, Kevin."
Beberapa saat kemudian laki-laki itu lalu pergi meninggalkan dua buah pusara yang bernama Arif dan Winda.
Namun tanpa dia sadari ada sosok yang memperhatikannya di balik sebuah pohon.
"Ba*ingan jadi kau Wiguna yang sudah membunuh kedua kakakku!!?" kata Ilham sambil menahan amarah.
***
Anton tampak sibuk berbicara telepon dengan seseorang.
"Mas Antonnn..."
[Sudah dulu ya, ada istriku.]
[Oke beb.]
[Nanti kita sambung lagi, kamu hati-hati dan jaga diri baik-baik.]
[Oke, tenang saja. Rahasia kita aman.]
[Oke.]
"Telepon dari siapa Mas?"
"Dari Tuan Kim sayang, dia mengundurkan rapat minggu depan."
"Jadi kita tetap bisa ke Singapore kan buat jenguk Manda."
"Jadi dong sayang."
"Semoga Manda baik-baik saja ya Mas."
"Tentu sayang, Amanda akan baik-baik saja, aku akan berusaha untuk selalu melindunginya."
Kamila lalu memeluk tubuh suaminya. Namun secara tidak sengaja dia melihat sebuah panggilan di ponsel milik suaminya terlihat seperti sebuah nama wanita.
"Mas Antonnnnnnn."