Orang Tua Untuk Bayiku

Orang Tua Untuk Bayiku
Failed


"Sandra." kata Kamila.


Aku sebenarnya begitu terkejut melihat kedatangannya di depan kamarku.


"Ada apa Sandra, tiba-tiba kamu datang ke kamar kami."


"Maaf jika kehadiran saya sudah mengganggu, Bapak dan Ibu sepertinya mau pergi?"


"Iya Sandra, kebetulan kita mau jalan-jalan, kamu mau ikut? Yuk kita jalan-jalan bareng."


'Astaga Kamila.' batinku dalam hati.


"Apa kalau saya ikut tidak menggangu?"


"Sebenarnya kami merasa terganggu Sandra, karena kami sedang menikmati masa bulan madu."


"Mas ga boleh ngomong gitu! Sandra boleh ikut kok, jangan dengerin kata-kata suami saya ya."


"Beneran nih Bu? maaf ya sudah mengganggu, tadi sebenarnya saya mau jalan-jalan sama Dimas, tapi karena tiba-tiba perut saya sakit, jadi Dimas meninggalkan saya."


"Iya gapapa San, kita seneng kok kamu ikut bareng-bareng kita."


"Kamu aja sayang, aku ngga." kataku sambil sedikit mencibir.


Lalu Kamila mencubit perutku sambil berbisik. "Ga boleh ngomong gitu sayang."


"Ya sudah yuk kita jalan sekarang."


"Baik Bu."


Sekilas aku melirik ke arah Sandra, dia tampak tersenyum dengan sinis padaku. Selama kami jalan-jalan bersama, tak segan aku memperlihatkan sikapku yang begitu romantis pada istriku. Sepanjang jalan, aku memeluk pinggangnya ataupun menggandeng tangannya, agar tak ada celah bagi Sandra untuk mengganggu kebersamaan kami.


"Aduhhh." tiba-tiba aku mendengar suara teriakan Sandra.


"Sandra, kamu kenapa?" tanya Kamila.


"Bu, kaki saya sepertinya terkilir, tadi di jalan saya tersandung dan sempat terperosok ke dalam lubang kecil di jalan."


"Aduh Mas, gimana nih? kasihan Sandra sepertinya kakinya susah buat jalan deh."


"Iya Bu, untuk berdiri saja rasanya sakit sekali."


"Oh ya sudah, sebaiknya Sandra harus dipapah sampai ke hotel."


"Iya benar Pak, saya memang tidak bisa berjalan sendiri."


"Ya sudah kalau begitu, saya telepon Dimas dulu untuk membantumu."


"Mas apa-apaan sih, Sandra kan udah kesakitan seperti ini, kok malah nungguin Dimas."


"Tenang sayang, Dimas ada di dekat sini kok."


"Kenapa bukan Bapak saja yang membantu saya?" tanya Sandra.


"Iya bener apa kata Sandra Mas, lebih baik Mas saja yang membantunya, kelamaan kalo harus nunggu Dimas."


"Sayang, kamu gimana sih, aku kan laki-laki yang sudah beristri, tidak pantas aku menyentuh wanita lain selain istriku, bukan mukhrim kalau kata Pak Ustadz." kataku sambil tersenyum.


Aku melihat Sandra tampak begitu kecewa. "Nah itu Dimas sudah datang, Sandra lebih baik kamu ke rumah sakit dulu ya untuk mengobati kakimu. Saya dan istri saya belum selesai membeli oleh-oleh untuk Amanda."


"Mas, ga boleh gitu, Sandra kan lagi sakit, ga boleh ditinggal sendiri loh. Kita antar saja bersama-sama ke rumah sakit."


"Ooohhh tidak usah Bu, kaki saya sudah baik-baik saja, kita tidak usah ke rumah sakit."


"Loh katanya tadi susah untuk jalan Ndra?"


"Ga Bu, kaki saya sudah jauh lebih baik."


"Duh, jadi bingung nih. Jadi yang bener yang mana nih Pak Anton?" kata Dimas.


"Kamu bawa Sandra ke hotel saja Dim, nanti kalau ada apa-apa terjadi pada Sandra, kamu tidak direstui oleh orang tuanya buat nikahin Sandra loh!"


"Wah gawat nih kalau urusannya kaya gitu, ayo neng Sandra, lebih baik kita pulang dulu ke hotel."


Sandra tampak begitu kesal karena dia gagal menggangguku dengan Kamila. Dengan raut wajah marah dan penuh kekecewaan, dia akhirnya pulang ke hotel bersama Dimas. Sedangkan aku melanjutkan jalan-jalan dengan istriku.


Aku sengaja ingin memberikan kejutan untuk menikmati makan malam romantis dengan Kamila. Aku sudah menyuruh pegawai hotel untuk menghias kamar kami dengan lilin dan menu makanan yang istimewa. Ketika kami membuka pintu kamar hotel, lampu di ruangan sudah gelap, hanya lilin yang menyala, dan di balkon kamar sudah ada meja makan yang dipenuhi hidangan istimewa serta lilin yang menyala di bagian tengah meja. Saat Kamila melangkahkan kakinya ke dalam kamar, alunan musik romantis sudah terdengar menggema di dalam ruangan, selain itu lantai di kamar ini pun sudah dihiasi oleh taburan bunga berwarna merah muda. Dia begitu bahagia melihat kejutan yang kuberikan untuknya.


"Mas, kamu yang udah siapin semua ini?"


"Memangnya siapa lagi sayang? Everything for you." kataku sambil memeluknya.


Kami lalu makan malam dengan hidangan yang telah tersedia, sambil menikmati keindahan kota yang dipenuhi oleh lampu warna warni. Selesai makan kami lalu berdansa sejenak, sebelum akhirnya kami kelelahan dan merebahkan tubuh di atas tempat tidur.


"Sayang tidur yuk, besok kita harus pulang pagi."


"Beneran kamu mau tidur Mas?" kata Kamila sambil sedikit menggoda.


"Kamu mau apa sayang?"


Dia hanya tersenyum lalu memelukku. "Aku mau kamu Mas." bisiknya di telingaku.


"Kamu sudah memberikan kejutan yang begitu romantis dan mau melewatkan malam ini begitu saja?"


Aku hanya bisa tertawa mendengar kata-katanya. "Kamu makin pintar aja sayang." balasku.


"Ingat Mas, kita harus memberikan oleh-oleh adik untuk Amanda."


"Sure."


Lalu bi*ir kami pun mulai berc*uman dan menikmati indahnya malam yang begitu romantis, seromantis alunan musik di ruangan ini. Pagi-pagi kami begitu tergesa-gesa karena kami bangun kesiangan. Dimas dan Sandra tampak sudah menunggu di lobi hotel.


"Maaf kami sedikit terlambat."


"Tenang Pak Bos, kita masih punya banyak waktu sebelum check ini di Bandara. Lagipula saya bisa mengerti kondisi Bapak dan Ibu yang sedang tancap gas." kata Dimas sambil meledek.


"Kamu memang karyawan saya yang paling pengertian Dimas."


"Tentu dong Pak, yang penting jangan lupa, gaji naik."


"Dasar kamu, selalu memuji karena ada maunya." kataku sambil memukul kepalanya.


"Ya sudah, ayo sekarang kita berangkat ke Bandara."


Pukul sebelas siang akhirnya kami sampai di Tanah Air. Aku melihat Pak Samsul sudah menjemput kami. "Terimakasih banyak Dimas dan Sandra atas kerjasamanya, sampai bertemu besok di kantor."


"Sama-sama Pak, kami pulang dulu. Bapak sama Ibu hati-hati di jalan."


Kami lalu masuk ke dalam mobil, Kamila tampak sibuk memainkan ponselnya. Sedangkan aku iseng-iseng membuka chat yang tak kubaca semenjak tadi malam. Ternyata begitu banyak chat masuk dari Sandra ke dalam ponselku. Untungnya Kamila bukanlah tipe istri yang seringkali membuka ponsel milik suaminya. Baginya ponsel pribadiku adalah barang privasi yang tak berhak dia campuri. Setelah berbagai macam kejadian yang kami alami, dia tentu paham akan perasaanku jika aku tak pernah bisa mencintai wanita lain kecuali dirinya.


Perlahan aku membuka salah satu chat dari Sandra.


Sandra:


Lihat saja, aku akan membuat kamu dan istrimu berpisah Pak Anton.


Aku hanya sekilas membacanya, semua pesannya rata-rata sama, berisi ancaman. Namun aku tak mau ambil pusing dengan semua ancamannya. Ketika kami sudah sampai di rumah, Kamila masuk terlebih dahulu. Sedangkan aku memilih pergi ke taman di halaman rumah dan mengetik sebuah nama di ponselku, lalu kuhubungi nama itu.


[Halo Reza.]


[Ya bos, ada apa?]


[Ada pekerjaan untukmu Reza.]