
Wina kembali bersama Shakila, kemudian mereka menceritakan semua hal yang telah terjadi pada Kamila. Shakila begitu terkejut mendengar cerita dari orang tuanya.
"Maaf Amanda, karena aku dan Mama mengundang kalian ke rumah ini, kalian jadi tertimpa banyak masalah."
"Shakila, ini bukan kesalahanmu dan Tante Wina, ini sudah takdir, cepat atau lambat hal ini bisa saja terjadi pada Mama jika Reno masih menyimpan video milik Mama. Yang harus kita pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya kita harus menghapus semua video di email Reno."
"Benar Amanda."
"Tenang saja, ada kakek disini, bagaimana jika kita melumpuhkan mereka agar bisa bebas mengambil ponsel milik Reno."
"Bagaimana caranya Om Rusli?" tanya Wina.
"Lihat saja besok, yang penting kita harus bekerja sama." kata Rusli sambil menyunggingkan senyuman di bibirnya.
***
Wina membiarkan Fatma yang tampak begitu jumawa saat Kamila berpamitan dengannya. 'Lihat saja nanti.' gumam Wina.
Akhirnya Kamila pun pergi dari rumah Wina, dia lalu menggandeng Kevin masuk ke dalam rumah. Saat Fatma melihat Kevin, dia lalu menghampiri Wina.
"Berikan Kevin padaku Wina, mulai saat ini Kevin adalah tanggung jawabku. Kemari Kevin, ayo ikut nenek, sebentar lagi kita akan pulang ke rumah nenek. Oh tidak, sebaiknya kita membeli rumah baru Kevin, rumah yang lebih besar dibandingkan dengan rumah ini." kata Fatma sambil terkekeh.
"Tidak akan kubiarkan kau membawa Kevin." kata Wina.
"Apa katamu Wina? Hak asuh Kevin akan jatuh ke tanganku. Jadi aku berhak membawanya pergi dari rumah ini Wina."
"Ayo Kevin sayang, kita berkemas, kita akan pergi ke rumah nenek." kata Fatma.
"Cukup Nek, tidak akan kubiarkan Kevin pergi dari rumah ini! Kevin adalah anak kandung Papa, dan dia adalah adikku, aku lebih berhak mengasuh Kevin dibandingkan kalian semua yang ada di sini." kata Shakila.
"Hah, enak saja kau berbicara seperti itu Shakila."
"Memang kenyataannya seperti itu, dia adalah adik tiriku, kami memiliki darah yang sama yaitu darah daging Papa Randi, sedangkan kalian tidak ada yang memiliki hubungan sekuat aku dan Kevin dengan Papa Randi."
Wina melirik Shakila sambil tersenyum dengan senyum kemenangan saat Shakila berhasil membuat Fatma tidak bisa berkutik melihat video transaksi narkoba yang telah dikirimkan Rusli ke ponsel milik Shakila. Fatma yang kesal akhirnya masuk ke dalam kamar, Wina dan Shakila pun tertawa melihat tingkah Fatma.
"Ma kemana Kakek Rusli?"
"Sepertinya dia sudah pergi."
"Bagus kalau begitu, sekarang kita harus memastikan Reno dan Fatma tetap berada di kamar mereka agar tidak curiga keberadaan Kakek." kata Shakila sambil berbisik
"Iya Shakila."
***
Malam harinya, Rusli tampak membawakan secangkir teh ke hadapan istrinya yang sedang asyik menonton televisi.
"Minum dulu Ma."
"Tumben." jawab Fatma sambil melirik ke arah Rusli.
"Papa liat seharian Mama kurang bersemangat, padahal Kevin sekarang sudah ada bersama Mama kan? Jadi Papa buatkan teh untuk Mama, siapa tahu bisa merubah mood Mama."
"Iya Pa, semua gara-gara kecerobohan Reno, kini rencanaku hancur karena ulah Reno."
"Memang Reno berbuat apa Ma?"
"Sudahlah Pa, Mama lagi males bicara soal Reno, nanti mood mama semakin jelek kalau inget kelakuan Reno."
"Ya sudah, diminum dulu tehnya Ma, terus Mama istirahat, siapa tahu kalau sudah istirahat, perasaan Mama jadi lebih sedikit tenang. Nanti kita pikirkan lagi rencana berikutnya."
"Iya Pa." kata Fatma sambil meminum tehnya.
Rusli lalu menyunggingkan senyumnya saat melihat Fatma menghabiskan teh yang telah dicampur dengan obat tidur yang dibelinya tadi siang.
"Ya udah Pa, Mama masuk kamar dulu ya, Mama mau istirahat."
"Iya Ma, Papa mau nonton berita dulu."
Fatma lalu mengangguk dan melangkahkan kakinya ke dalam kamar sambil sesekali menguap. 'Berhasil.' gumam Rusli, dia lalu mengambil ponselnya lalu mengetikkan sebuah pesan ke Reno untuk pulang ke rumah, karena semenjak dimarahi oleh Fatma tadi siang, dia pergi dari rumah begitu saja.
"Gimana Kek?"
"Beres, sekarang kita tunggu Reno pulang untuk menjalankan rencana berikutnya." jawab Rusli saat Wina, Shakila dan Amanda menghampirinya.
"Ayo kita semua bersembunyi." jawab Shakila.
"Sekarang giliranmu Amanda, kau harus membuat Reno takluk padamu."
"Baik, doakan Amanda."
Mereka semua lalu mengangguk dan masuk ke kamar mereka masing-masing. Amanda lalu berjalan ke taman dan berpura-pura memandang langit. Suara telapak kaki Reno begitu terdengar jelas karena rumah sudah begitu sepi. 'Tumben sepi banget.' gumam Reno.
Kemudian netranya tertuju pada sosok Amanda yang duduk sendirian di taman sambil menatap langit. 'Kesempatan.' gumam Reno sambil mendekat pada Amanda.
"Manda."
"Oh Reno, duduk Ren." Mendengar balasan hangat dari Amanda, hati Reno pun semakin berdesir dan dipenuhi kebahagiaan. Dia kemudian menjatuhkan tubuhnya dan duduk di samping Amanda.
"Kamu lagi ngapain Manda?"
"Lagi liat bintang."
"Kamu suka liat bintang?"
"Iya Reno, kok kamu belum tidur?"
"Lagi ga bisa tidur Manda."
"Mau temenin aku ga?"
"Apa? Temenin?"
"Ya temenin ngobrol, aku lg gabut nih, bingung mau ngapain, Shakila juga udah di dalem kamar sama Rama. Tante Wina udah tidur."
"Boleh, boleh Manda." jawab Reno, dadanya pun berdesir mendengar kesempatan yang sangat dinantikannya tiba-tiba datang tanpa dia duga.
'Pucuk dicinta ulam pun tiba.' gumam Reno.
"Ya udah, aku ambilkan cemilan sama teh dulu ya untuk nemenin kita ngobrol."
"Oke." jawab Reno, bibirnya pun tersenyum begitu lebar.
Amanda lalu masuk ke dalam rumah, dia langsung menunju dapur. Di dapur, Rusli telah menunggunya sambil memberikan sebuah kertas berisi serbuk berwarna kuning yang kemudian di masukkan ke dalam cangkir teh milik Reno.
"Semoga berhasil Manda." kata Rusli sambil melingkarkan jari telunjuk dan jempolnya.
"Iya Kek." jawab Manda lalu pergi mendekati Reno.
"Maaf Ren sedikit lama, aku ga tau tempat Tante Wina nyimpen teh jadi tadi cari-cari dulu di dapur."
"Oh gapapa Manda."
"Minum Ren, kamu pasti haus."
"Iya Manda " jawab Reno kemudian meminum tehnya. Sebuah senyuman pun tersungging di bibir Amanda. Setelah Reno selesai minum teh, Amanda lalu mendekatkan tubuhnya pada Reno.
"Ren, bolehkah aku melihat foto-foto di ponselmu yang kau ambil saat pernikahan Shakila." kata Amanda dengan sedikit manja
"Oh tentu Amanda.. Tentu." kata Reno gugup. Kemudian Reno mengambil ponselnya. Amanda lalu memperhatikan jari Reno saat mengetikan angka password di ponsel itu.
"Ini Manda." kata Reno sambil memberikan ponselnya pada Amanda. Amanda lalu berpura-pura memperhatikan foto-foto itu beberapa saat.
"Bagus-bagus ya Ren, sepertinya kamu memiliki bakat fotografi."
"Ah kamu bisa saja Manda." jawab Reno sambil tersipu malu.
"Beneran Ren." kata Amanda sambil mengedipkan mata kanannya. Melihat Amanda yang bersikap begitu manis malam ini membuat Reno begitu bahagia.
"Ren udah mulai dingin nih, kita masuk yuk, duduk di sofa saja."
"Ayo."
Mereka lalu masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa. Namun ketika mereka baru saja duduk, Reno merasakan rasa kantuk yang begitu tak tertahankan.
"Manda, aku tidur sebentar ya." kata Reno sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa, matanya kini pun sudah terpejam.
'Yes berhasil.' gumam Amanda sambil tersenyum kecut melihat Reno yang kini tertidur begitu pulas di depannya.