
Amanda tak bisa menahan tangis harunya saat mereka tiba di rumah. Kejadian itu terasa begitu cepat, kemarin malam dia masih menjadi tawanan Ilham, dan kini dia sudah berkumpul kembali dengan keluarganya.
"Manda, ayo masuk sayang."
"Iya Ma."
"Kakkkkk Mandaaaaa." tiba-tiba Kevin dan Brian berlari dan menghambur ke dalam pelukannya.
"Kevin Brian, kalian sekarang sudah terlihat lebih besar."
"Tentu kita kan pengen cepet sekolah ke luar negeri kaya Kak Manda." kata Kevin.
"Brian juga, mau ikut sama Kak Kevin."
"Ih Brian, kamu seneng banget ngikutin kakak deh."
"Biarin, Brian kan adiknya kakak, jadi kemanapun kakak pergi, Brian harus ikut wekkkkk." kata Brian sambil menjulurkan lidahnya. Amanda pun bisa tertawa begitu lepas melihat tingkah kedua adiknya.
"Kevin sama Brian ga kangen nih sama Papa dan Mama." kata Anton sambil membuka tangannya berharap Kevin dan Brian akan memeluknya.
"Buat apa kangen, tiap hari juga ketemu." kata Kevin sambil memeluk Amanda.
"Hmmm dasar anak Papa sekarang udah printer ngledek ya."
"Kan Papa yang ngajarin."
"Hahahaha." Kamila dan Amanda pun tertawa melihatnya.
"Manda sebaiknya kamu mandi dan bersihkan badanmu. Kalau sudah selesai kami tunggu di bawah untuk makan malam ya sayang."
"Iya Ma."
Amanda masuk ke dalam kamar, lalu mandi. Selesai mandi, dia lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil membuka ponsel miliknya. Ponselnya memang kemarin malam terjatuh saat Ilham membekap mulutnya. Untungnya ponsel tersebut ditemukan salah seorang penjaga asrama dan menyerahkannya pada Kamila saat mengecek keberadaan putrinya di asrama.
Ponsel itu kini telah dinyalakan. Begitu banyak pesan masuk dari Evan dan Sabrina. Namun Amanda belum ingin membalasnya, yang pertama Amanda lakukan adalah memblokir nomor milik Ilham, setelah selesai, dia lalu membalas pesan Evan dan Sabrina.
Sabrina:
Aku baik-baik saja Sabrina, sekarang aku sudah pulang ke Jogja, datanglah ke rumahku jika kamu ada waktu.
Evan:
Aku sudah di Jogja Evan.
Selesai membalas pesan mereka, Amanda sebenarnya ingin turun untuk makan malam. Namun tubuhnya terasa begitu lelah, akhirnya dia pun tertidur sampai pagi.
"Selamat Pagi, Pa Ma, maaf tadi malam Manda ketiduran." kata Amanda sambil ikut sarapan bersama keluarganya.
"Gapapa sayang, kami mengerti." jawab Kamila.
"Makan yang banyak sayang, lihat tubuhmu sekarang begitu kurus." kata Anton.
"Manda, maaf jika Mama terlalu cepat membicarakan ini padamu,tapi sungguh Mama sudah tidak sanggup lagi berpisah jauh denganmu. Kamu adalah anak perempuan satu-satunya Mama, Mama tidak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi lagi padamu. Bahkan selama satu minggu terakhir ini Mama tidak bisa tidur karena selalu memikirkan keadaanmu. Mama adalah orang tuamu Manda, meskipun kamu tidak pernah bercerita apapun pada Mama, Mama tahu semua tentangmu, kapan kamu memiliki masalah, kapan kamu berbohong, perasaan seorang Ibu pada anaknya itu kuat Nak."
"Mama maafin Manda sudah merepotkan kalian semua. Sungguh Manda tidak tahu jika akan terjadi seperti ini."
"Sudahlah Manda, lupakan semua hak buruk yang telah berlalu, yang terpenting kamu sudah bisa mengambil hikmah dari kejadian ini."
Amanda lalu mengangguk, sebenarnya dia tidak terlalu setuju untuk pindah kuliah ke Jogja, tapi dia tidak ingin egois, dia sudah tidak mau merepotkan kedua orang tuanya lagi, dan dia yakin keputusan orang tuanya adalah yang terbaik untuknya.
"Lalu bagaimana? kamu setuju kan untuk pindah kuliah disini saja?"
"Kalau menurut Mama itu yang terbaik, Manda ikuti keinginan Mama saja."
"Bagus kalau begitu, nanti kepindahan kamu biar Papa dan Mama yang urus." kata Anton.
"Alah Papa, bilang aja mau bulan madu lagi, pake pura-pura mau mengurus kepindahan." jawab Amanda.
"Kamu emang paling tahu urusan Papa sama Mama."
"Apasih yang Manda ga tahu tentang kalian berdua, gini-gini Manda kan saksi hidup cinta Papa sama Mama hahaha, Manda juga masih inget hari-hari dimana Papa masih sering menangis karena Mama."
"Manda bagian yang itu ga usah diceritain lagi deh! Malu kan jadinya."
"Ups sori Pa, ga sengaja keceplosan." jawab Amanda sambil tertawa.
"Ya udah Papa berangkat dulu."
"Loh, sarapannya kan belum habis Mas." kata Kamila sambil meledek.
"Udah kenyang sayang."
"Kenyang jadi bahan becandaan." bisik Kamila pada Amanda.
Kepulan asap yang berulang kali dihembuskan tak kunjung membuat rasa gundah di hatinya sedikit menghilang.
"Ilham..." panggilan dari seseorang pun membuyarkan lamunannya.
"Kamu sudah datang sayang?"
"Ilham, ayo kita pulang ke Indonesia."
"Untuk apa sayang?"
"Menyelesaikan masalahmu!"
"Menyelesaikan masalahku?"
"Ya, apakah kau tidak ingin hidupmu seperti ini terus Ilham?"
"Maksud kamu?"
"Apakah kamu selamanya akan hidup dipenuhi dengan rasa kebencian? Apakah kamu tidak lelah Ilham? Bahkan anak tidak berdosa pun menjadi sasaran kebencianmu. Selesaikan masalahmu dengan Wiguna secara jantan, kamu sama saja pengecutnya dengan Wiguna jika hanya selalu bermain di balik topeng."
Mendengar kata-kata kekasihnya, Ilham hanya bisa diam, namun hatinya kini terasa dipenuhi dengan amarah yang begitu mengelora.
"Baik, kita pulang ke Indonesia. Kita habisi orang yang telah menyakitiku dan keluargaku." kata Ilham dengan wajah merah dan tatapan mata yang begitu tajam.
Seorang pria tua tampak sedang berlari-lari pagi mengelilingi komplek perumahan mewah. Tiba-tiba sebuah mobil mercy berhenti di depan rumahnya. Melihat seseorang yang keluar dari dalam mobil, laki-laki tua itu kemudian menghampirinya.
"Tolong jujurlah padaku, sebenarnya apa yang telah Ayah perbuat? Tahukah perbuatan Ayah telah merugikan dan menyakiti banyak orang?"
"Apa maksudmu Anton."
"Manda bahkan hampir saja mengalami kejadian yang begitu buruk karena perbuatan Ayah!"
"Ayah tidak mengerti Anton!"
"Ayah sudah membunuh Pak Arif dan Bu Winda kan?"
"Tidak mungkin Ayah melakukannya, bukankah kamu juga tahu jika Ayah tidak terlalu mengenal mereka."
"Silahkan Ayah mengelak, tapi aku memiliki bukti ini!" kata Anton sambil memperlihatkan sebuah video tentang pengakuannya di depan makam Arif dan Winda. Video tersebut Anton dapatkan dari Rebecca.
"Anton, maafkan Ayah Nak."
"Jangan minta maaf padaku, minta maaflah pada keluarga dari Pak Arif. Perlu Ayah tahu jika karena perbuatan Ayah, Amanda hampir saja menjadi sasaran balas dendam adik Pak Arif. Hampir saja masa depan Amanda hancur karena perbuatan Ayah!"
Wiguna hanya bisa menangis dan mulai menyesali perbuatannya. "Ayah, Kamila pun tidak tahu akan hal ini, aku tidak mau hati istriku hancur melihat perbuatan Ayah seperti ini, bahkan mungkin Kamila bisa begitu membenci Ayah jika tahu Ayah melakukan perbuatan sekejam ini. Perlu Ayah tahu jika Kamila sangatlah menghormati Pak Arif dan Bu Winda, apa Ayah tidak sadar jika mereka adalah penyelamat Kamila!"
"Nak, Ayah mengaku salah. Lalu apa yang harus kulakukan?"
"Kita temui Ilham, selesaikan semua urusan Ayah dengannya."
"Baik Nak, jika itu maumu."
"Kapan kita akan bertemu dengannya Nak?"
Baru saja Wiguna menyelesaikan kata-katanya, sebuah BMW merah berhenti tepat di depannya. Seorang pria tampan berkaca mata tampak keluar dari mobil tersebut.
"Tuan Wiguna."