Orang Tua Untuk Bayiku

Orang Tua Untuk Bayiku
Luluh


"TOOLLOOONGGGG"


Aku berusaha berteriak namun karena hari sudah larut malam serta hujan yang turun dengan derasnya membuat tidak ada seorangpun yang mendengarku. Karena tak kunjung ada yang menolong aku lalu mencoba untuk memindahkan tubuh Randi ke dalam mobilku.


Sekuat tenaga aku berusaha membopong tubuh Randi dan memasukkan ke dalam mobil, lalu kukendarai mobilku dengan kecepatan yang cukup tinggi. Tak lama kemudian, aku sampai di rumah sakit, beberapa tenaga kesehatan yang melihatku tampak kepayahan lalu mengambil alih tubuh Randi dan membawanya ke ruang IGD.


Aku menunggu di depan ruang IGD dengan cemas, 'Sial, kenapa jadi kaya gini sih.' batinku dalam hati. Aku lalu menelpon ibu serta mengirimkan voice note untuk Amanda dan memberitahu jika malam ini aku tidak bisa pulang karena merawat temanku yang mengalami kecelakaan.


Dokter yang merawat Randi akhirnya keluar, aku segera menghampirinya dan menanyakan keadaan Randi.


"Keadaan Tuan Randi sudah baik-baik saja, karena lukanya tidak cukup dalam, hanya tergores di bagian subcutan, kami sudah menjahit lukanya dan memberikan obat serta melakukan transfusi darah karena Tuan Randi tadi kehilangan darah cukup banyak, sekarang Tuan Randi bisa di bawa ke ruang perawatan sambil menunggu dia siuman."


"Terimakasih dok, saya bisa bertemu dengannya dok?"


"Silahkan, setelah itu tolong anda ke bagian administrasi untuk proses pemindahan Tuan Randi ke ruang perawatan.'


"Baik dok, terimakasih."


Aku lalu pergi ke bagian administrasi dan memindahkan Randi ke ruang perawatan, setelah proses pemindahan selesai. Aku lalu menghampiri Randi yang tengah terbaring, wajahnya begitu pucat dan tubuhnya terlihat lemah.


"Maafin aku Ran, kalau aku tidak menyuruhmu turun dari mobil pasti hal seperti ini tidak akan menimpamu."


Aku hanya bisa memandang wajahnya dan mencoba berkomunikasi dengannya, namun matanya masih tertutup. Akhirnya karena sudah begitu lelah, akupun tertidur. Sampai pagi menjelang tidak ada tanda-tanda jika keadaan Randi membaik. Aku pun mulai merasa cemas. Kugenggam tangannya mencoba untuk menguatkan. Saat air mata ini mulai jatuh tiba-tiba dia membalas genggaman tanganku.


"Milaaa."


"Ya Ran, kamu udah bangun?"


"Kamu yang bawa aku ke sini Mila?"


"Iya, Ran kamu ga usah banyak gerak dulu, biar aku saja yang merawatmu."


"Terimakasih Mila, kamu masih mau memperhatikan kondisiku." katanya sambil tersenyum, dan untuk pertama kalinya aku akhirnya membalas senyumannya.


Selama satu minggu terakhir aku menemani Randi di Rumah Sakit, tanpa seorang pun yang tahu termasuk kedua orang tuaku. Yang mereka tahu, setiap hari aku bekerja mengurus cafe milikku sampai malam. Aku hanya kasihan dengan Randi, karena saat ini dia hidup sendiri, dia sudah tidak memiliki siapapun disini. Kedua orang tuanya juga sudah meninggal.


Akhirnya Randi diperbolehkan pulang, kuakui selama merawat dirinya kami menjadi semakin dekat dan rasa canggung yang dulu kurasakan kini telah hilang. Getaran di hatiku pun mulai aku rasakan, aku begitu bahagia saat bersamanya, sedangkan hati terasa hampa jika aku tak bertemu dengannya. Aku sudah berusaha menepis perasaan ini, namun rasanya begitu sulit.


Setelah hampir dua bulan, Randi sudah sepenuhnya sembuh dan bisa beraktifitas lagi seperti biasa. "Udah sembuh kan Ran?"


"Mulai besok aku dah ga kesini lagi ya Ran, aku mau mengurus cafe ku seperti biasa, udah dua bulan cafeku ga kuurus."


Kulihat raut wajahnya sedikit berubah. "Mila, berjanjilah padaku agar kamu mau menerimaku sebagai temanmu Mila, jangan menjauh lagi dariku."


"Iya Ran, kita bisa berteman baik."


Selama satu minggu ini aku begitu sibuk mengurus cafe, laporan keuangan selama dua bulan yang belum aku kerjakan, serta desain interior baru yang telah kurencanakan baru terealisasi di minggu ini. Randi pun sudah tidak pernah datang ke cafe, hanya sesekali dia mengirimkan pesan padaku.


Hingga pada suatu malam saat semua karyawanku telah pulang, aku masih sibuk dengan laptop yang ada di depanku menyelesaikan semua laporan keuangan yang telah tertunda. Tiba-tiba seseorang menepuk bahuku.


"Pulang Mila, udah malam, lanjutkan besok saja, jaga kesehatanmu, tidak baik bekerja terlalu keras."


"Ooo..ooh Randi, iya sebentar lagi selesai, kamu kok tiba-tiba ada disini?"


"Iya tadi lewat terus liat lampu masih nyala padahal cafe udah tutup, iseng aku ke dalam eh ternyata ada kamu."


Aku memang telah menutup cafe ini hanya menyisakan satu pintu besinya saja yang kubuka sedikit agar ada udara masuk. "Oh ya udah yuk keluar, aku dah selesai nih."


Saat berjalan keluar, tiba-tiba kakiku tersandung oleh salah satu kaki meja dan keseimbanganku pun goyah. Randi yang berusaha menangkapku pun ikut terpeleset dan kami pun jatuh bersama di salah satu sofa, dengan posisi tubuhku yang menindih tubuh Randi. Aku mencoba untuk berdiri, namun tangan Randi menahan tubuhku. Dia lalu mendekap tubuhku dengan begitu erat, dan aku tak sanggup melawan.


Heningnya malam seakan membuat hati ini bergejolak, aku tak bisa berhenti menatap matanya, lalu wajah Randi mendekat padaku dan bibir kami pun mulai bersentuhan. Kami sangat menikmati ciuman ini, bahkan rasanya tak ingin kuakhiri.


Kemudian aku tersadar dan melepas bibirku, namun Randi balas memelukku kembali begitu erat. "Mila, please don't leave me, i want you, aku pengin kita bisa kaya dulu lagi Mila, kamu masih ingat semua janji kita untuk selalu bersama kan sampai ajal menjemput? ayo kita wujudkan janji kita terdahulu yang sempat tertunda Mila. I love you Mila, i love you."


Air mataku mulai menetes, tak bisa kupungkiri jika rasa di hatiku untuknya mulai tumbuh kembali. Perlahan aku pun mengangguk, "Yes me too."


"Sure?"


Aku pun mengangguk. Randi begitu bahagia mendengar jawabanku, lalu dia memelukku dan menggendongku berlarian di dalam cafe yang telah sepi, memang tampak seperti anak kecil tapi aku sungguh bahagia. Akhirnya aku dapat merasakan sebuah rasa yang telah lama hilang dalam hatiku.


Kami yang kelelahan setelah berlarian lalu duduk di atas sofa. " Yuk pulang Ran, udah hampir jam dua belas nih, Amanda pasti udah nungguin aku."


Randi lalu mengangguk, namun sebelum kami keluar dari cafe tanpa permisi dia mencium kembali bibirku, bukan ciuman lembut, tapi ciuman yang penuh gairah.


Aku yang sudah terpedaya padanya hanya mengikuti kemauannya, dia lalu mengunci pintu dan mulai membaringkan tubuhku di atas sofa yang sedikit lebar di dalam cafeku.


Dia memeluk dan mencium tubuhku serta menanggalkan satu per satu pakaianku. Entah setan apa yang merasukiku hingga aku mau melakukannya, yang kutahu aku begitu mencintainya dan merindukan saat-saat seperti ini dengannya.