Orang Tua Untuk Bayiku

Orang Tua Untuk Bayiku
Lost Contact


"Tidak mungkin." kata Amanda setelah melihat pesan yang masuk ke dalam ponselnya berisi beberapa buah foto yang memperlihatkan Ilham sedang bermesraan dengan seorang wanita.


Bahkan dalam salah satu foto, tampak Ilham sedang berc*uman dengan wanita tersebut di depan menara Eiffel.


"Aku harus memastikan semua ini." kata Amanda.


Beberapa saat kemudian dia sudah sampai di komplek perkantoran di Raffles Place. Amanda lalu masuk ke dalam gedung dan menuju ke lantai yang tertera pada kartu nama Ilham. Akhirnya Amanda sampai di lantai 13 sesuai alamat yang tertera. Amanda lalu menghampiri resepsionis di kantor tersebut.


"Selamat Pagi."


"Pagi."


"Bisakah saya bertemu dengan Tuan Ilham."


"Maaf Nona, Tuan Ilham sedang cuti selama satu minggu."


"Satu minggu?"


"Ya, Tuan Ilham sedang berlibur ke Eropa."


"Berlibur ke Eropa?"


"Ya."


Hati Amanda terasa begitu sakit, dia lalu meninggalkan kator tersebut dengan berderai air mata.


"Aku memang bodoh." katanya sambil terus menangis.


Tanpa dia sadari, Amanda telah berjalan begitu jauh. Dia sedang tidak ingin pulang ke asrama, karena kesendirian akan semakin menambah lukanya. Sebenarnya dia sangat ingin pulang ke rumah dan menangis di pelukan Mamanya, namun dia sudah mengatakan jika liburan semester ini dia tidak akan pulang.


Melihat sepasang kekasih yang tengah bermesraan di Taman Merlion semakin membuat hati Amanda begitu sesak. "Kamu mau seharian di sini terus?" Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan lamunannya.


"Evan, ngapain kamu disini?".


"Lagi jalan-jalan aja, suntuk, bosen dari kemarin ujian belajar terus."


"Memangnya kamu pernah belajar?" kata Amanda sambil tertawa.


"Kamu kan lihat sendiri aku selalu belajar."


"Iya kamu emang pegang buku, tapi di bawah buku tanganmu sibuk main game. Hahaha."


Evan pun tersenyum malu, ketika rahasianya diketahui Amanda.


"Ya lagian Sabrina reseh banget sih, dikit-dikit ngadu ke nyokap, gue kan jadi bete."


"Sabrina ga salah, kamu aja yang susah diatur."


"Dasar, semua cewek sama aja."


"Eh ngomong-ngomong kok kamu ga ikut Sabrina pulang ke Jogja?"


"Em.. Aku... aku lagi banyak urusan."


"Banyak urusan apa?"


"Pengen tau aja sih, kepo banget, lagian loe juga liburan gini ga pulang ke rumah?"


"Aku ada urusan yang harus diselesaikan Evan."


"Laki-laki itu lagi?"


Amanda pun mengangguk." Aku harus mengakhiri hubunganku dengannya Evan."


"Nahhh gitu dong." kata Evan sambil tersenyum bahagia.


"Kok kamu seneng banget Van?"


"Ya seneng lah akhirnya kamu sadar, makanya jangan beg* beg* banget jadi cewek, sama laki-laki hidung belang aja ketipu."


"Iya Van, memang semua salahku."


"Terus, kapan kamu mau mutusin dia."


"Entah, aku tak tahu."


"Kok ga tau sih?"


"Dia sedang pergi ke Eropa, aku harus menunggunya pulang."


"Tinggal putusin lewat telepon susah banget sih."


"Ga semudah itu Evan, aku harus menanyakan apa alasannya mempermainkanku."


"Yah, gitu aja pake ditanyain, ribet amat jadi cewek. Yang namanya laki-laki hidung belang itu punya sejuta alasan buat nyakitin cewek Manda."


Amanda lalu menatap wajah Evan yang hari ini tampak begitu berbeda. 'Tampan juga, kenapa dari dulu aku tak menyadarinya.' batin Amanda.


"Loe ngapain liatin gue?"


"Aku lihat-lihat, kamu mirip juga sama artis idola Mamaku deh Van."


"Artis siapa? cakepan gue lagi. Eh ngomong-ngomong artis siapa sih Manda?"


"Hahaha tuh kan penasaran."


"Ye ditanyain bener-bener malah ngledek. Artis siapa sih?"


"Aku juga ga terlalu tahu siapa namanya, tapi Mama selalu bilang namanya Mas Al kalo di sinetron."


"Yah loe aja kagak tahu pake ngata-ngatain. Udah yuk pulang."


Amanda lalu mengangguk, rasa sedihnya kini benar-benar sedikit terobati oleh kehadiran Evan.


"Ga tau, mungkin tidur di asrama seharian."


"Yah, lagi patah hati malah mau menyendiri."


"Trus aku harus kemana? Sabrina aja pulang ke Jogja."


"Kan ada gue?"


"Kamu?"


"Iya, jalan-jalan aja yuk, kita keliling sampai ke pelosok Singapore, negeri ini kan kecil Manda."


"Hmmm oke, tapi aku ga mau ke pelosok,aku pengennya ke tempat yang view nya bagus dong."


"Oke.. Oke.. Terserah kamu."


Keesokan harinya Evan menjemput Amanda dengan mobil yang telah dia sewa. "Kita mau kemana dulu nih?"


"Pantai." kata Amanda.


"Okay. Let's go."


Mereka lalu pergi ke East Cost Beach. Meskipun East Cost Beach bukan pantai alami, namun East Coast Beach terlihat begitu indah dan memikat pandangan mata dengan segala fasilitas yang ada di sana, layaknya pantai alami ciptaan Tuhan.


Tak hanya itu saja di sekeliling pantai East Coast Beach terdapat beragam jajanan khas Singapura yang bisa dicicipi. Amanda menghabiskan seharian waktu di sini bersama Evan yang menurutnya kini jauh lebih bersahabat dan terasa menyenangkan. Segala rasa sedih dan sakit di hatinya pun sejenak hilang.


"Manda kita besok jalan-jalan lagi yuk."


"Kemana?"


"Disini masih banyak tempat wisata Manda."


"Okay."


Selama tiga hari berturut-turut Amanda dan Evan akhirnya menghabiskan liburan bersama, berbagai obyek wisata mereka kunjungi mulai dari Gardens by The Bay, The Southern Ridges. dan West Coast Park.


Setelah lelah seharian bersenang-senang, akhirnya mereka makan malam di Cafe On The Ridge, sebuah cafe di dekat kampus mereka.


"Gimana Manda?"


"Gimana apanya?"


"Perasaan loe ke laki-laki tua itu."


"Flat."


"Loe dah ga suka lagi kan sama dia?"


"Masih tapi dikit."


"Kok masih sih, percuma dong gue ajak loe jalan-jalan seminggu ini?"


"Hahaha tenang Van, aku dah ga suka lagi sama dia kok."


"Bagus deh, ngomong-ngomong kalau urusan loe sama di udah kelar kita pulang ke Jogja yuk."


"Aku takut Van."


"Takut kenapa?"


"Kamu tahu kan nilai kita udah keluar, orang tuaku pasti udah tau nilai-nilaiku yang begitu turun drastis Van. Aku takut mereka marah padaku."


"Hmmmm justru itu Manda, kamu harus bisa berbesar hati akui kesalahan kamu dan berjanji untuk ga mengulangi semua yang sudah terlanjur terjadi. Jangan buat mereka kecewa untuk yang kedua kalinya Manda."


"Kamu benar Van, aku harus hadapi ini semua. Makasih ya kamu tak seburuk yang aku pikirkan." kata Amanda sambil berdiri lalu mengecup pipi Evan dan beranjak pergi meninggalkannya untuk pulang ke asrama.


Evan yang begitu terkejut baru sadar ternyata Amanda telah berjalan meninggalkannya dan masuk ke dalam komplek asrama.


"Si*l, telat gue." katanya sambil menggerutu.


Amanda memasuki halaman asrama dengan sedikit bersenandung, kebahagiaan begitu terasa memenuhi isi hatinya.


"Amanda."


Langkah Amanda terhenti saat seseorang memanggil namanya.


"Mau apalagi kamu kesini? Aku mohon jangan pernah dekati aku lagi. Aku sudah tahu siapa kamu sebenarnya, dan mulai detik ini kita PUTUS!!!"


"Amanda dengarkan aku, ini tidak seperti yang kamu pikirkan."


"Cukup! Aku sudah tidak mau dibohongi lagi olehmu!!!"


"Amanda." tiba-tiba sebuah kain membekap mulutnya dan diapun kehilangan kesadaran.


Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam, Kamila tampak begitu panik di dalam kamar.


"Ada apa sayang?"


"Mas, hari ini aku belum bisa menghubungi Amanda Mas, sejak pukul 08.00 malam pesanku tak ada yang Amanda balas. Akupun sudah berulangkali menelponnya tapi ponselnya tidak aktif."


"Sabar sayang, tenangkan dirimu, besok pagi kita juga akan ke sana."


"Mas, bagaimana kalau sesuatu yang buruk sudah terjadi pada Amanda?"


"Sebentar sayang."


Anton lalu mengambil ponsel miliknya, dan menelpon seseorang.


[Hallo, Amanda sudah tidak bisa lagi dihubungi. Tolong bantu aku menemukannya.]