Orang Tua Untuk Bayiku

Orang Tua Untuk Bayiku
Cinta Anak Muda


Mata Ilham terbuka saat seseorang memanggil namanya. "Ilham."


"Apa yang kau lakukan disini? Ini bukan tempatmu!"


"Ilham maafkan aku, tolong jangan pernah membenci keluargaku lagi. Aku sudah memberikanmu hidup baru padamu, lupakan semua dendammu. Bukalah lembaran baru dalam hidupmu, kami semua sudah tenang disini Ilham."


Ilham hanya bisa diam melihat laki-laki itu berbicara di depannya. Lalu tiba-tiba di samping laki-laki yang berdiri di hadapan Ilham datang seorang laki-laki dan seorang wanita, mereka bertiga lalu tersenyum pada Ilham.


"Wiguna!!! Mas Arif!! Mba Winda." kata Ilham sambil berteriak, tubuhnya kini bercucuran keringat.


"Ilham tenangkan dirimu." kata Rebecca yang ada di sampingnya.


"Rebecca, kemana mereka pergi?"


"Mereka? Siapa yang kau maksud Ilham?"


"Wiguna dan kedua kakakku."


"Tidak ada siapapun disini Ilham, setelah pulang dari makam kamu terlihat begitu lelah, lalu dokter menyuruhmu beristirahat dan kau tidur dengan begitu lelap."


"Jadi aku hanya mimpi Rebecca?"


Rebecca lalu mengangguk. "Tenangkan dirimu Ilham."


Ilham lalu merebahkan tubuhnya kembali, seketika perut kanannya terasa begitu sakit. "Aku tahu, ini adalah milikmu Wiguna. Terimakasih atas hidup baru yang kau berikan padaku." kata Ilham sambil meraba perut di bawah tulang rusuknya, namun yang terasa hanyalah sebuah luka jahitan yang kini masih tertutup oleh kain kasa.


"Ilham apa rencanamu selanjutnya?"


"Aku akan pulang ke Singapura, Rebecca."


"Hanya itu?"


"Ya."


Wajah Rebecca sedikit kecewa mendengar jawaban Ilham. Ilham lalu menggenggam tangannya. "Menikahlah denganku Rebecca, tolong rubah semua pola pikirmu, aku janji akan selalu membahagiakanmu."


Seketika Rebecca pun terdiam. "Ilham, sebenarnya ada yang ingin kubicarakan."


"Ada apa Rebecca?"


"Ilham, aku sedang mengandung anakmu."


Raut wajah Ilham pun berubah, kebahagiaan kini terpancar dari wajahnya. "Benarkah itu Becca?"


Rebecca lalu mengangguk dan mengambil sebuah surat hasil tes kehamilan di rumah sakit ini. "Bacalah Ilham."


Ilham lalu membaca surat tersebut. "Sejak kapan kamu mengetahui semua ini Becca?"


"Setelah aku mengantarmu ke rumah sakit ini, aku merasa begitu mual dan pusing, lalu aku pun pingsan. Anton dan Kamila lalu memeriksakan kondisiku, dan dokter menyatakan aku hamil. Saat itu aku benar-benar takut Ilham, kau benar-benar diambang kematian, aku takut jika anak yang kukandung tak pernah bisa bertemu dengan Ayahnya." Rebecca menghentikan kata-katanya lalu menangis.


"Rebecca tenanglah semua sudah berakhir."


"Saat itu, Kamila yang sudah tahu kondisiku begitu marah pada Tuan Wiguna, apalagi saat itu, dia juga sudah tahu jika yang membunuh kakakmu adalah Ayahnya sendiri. Hati Kamila begitu hancur, dia lalu masuk begitu saja ke ruang ICU tempat Ayahnya dirawat."


"Lalu?"


"Beberapa saat setelah Kamila keluar dari ruang ICU kondisi Wiguna semakin drop, dan sebelum kematiannya dia berpesan pada dokter untuk menyumbangkan hatinya untukmu."


"Jadi, Wiguna tahu kondisiku saat itu dari Kamila?"


Rebecca lalu menangis sambil mengangguk.


"Rebecca sungguh aku tak menyangka jika semua akan berakhir seperti ini."


"Ilham, aku memiliki satu permintaan padamu."


"Apa sayang?"


"Minta maaflah pada Amanda, ingat Ilham kau telah mempermainkan perasaan seorang anak gadis yang masih kecil."


"Baik Rebecca, aku akan melakukannya setelah pulang dari rumah sakit ini."


"Bagus Ilham."


"Aku juga memiliki satu permintaan padamu Becca?"


"Apa itu?"


"Menikahlah denganku!"


Rebecca hanya tersenyum lalu mengangguk dan memeluk Ilham. "Hati-hati sayang, perutku masih sakit."


"Ups sori."


"Hahahaha." keduanya pun tertawa sambil berc*uman.


Kamila masih termenung melihat sebuah nama di ponselnya, ada keraguan untuk menjawab telepon itu.


"Angkat saja sayang." kata Anton. Akhirnya Kamila pun mengangkat telepon tersebut.


[Hallo, Assalamualaikum Wina]


[Waalaikumsalam.]


[Ada apa Win?]


[Kamila, maaf jika saya mengganggumu.]


[Gapapa Win, aku sedang tidak sibuk kok.]


[Gimana keadaan kamu Mila?]


[Alhamdulilah sehat Win, kamu gimana?]


[Alhamdulilah, Kamila maaf jika tiba-tiba aku meneleponmu, ada sesuatu yang ingin keberitahukan padamu.]


[Ada apa Win?]


[Putriku Shakila, dua minggu lagi akan melangsungkan pernikahan, dan aku mengundangmu untuk menghadiri acara pernikahan putriku.]


[Alhamdulilah, Insyaa Allah kami bisa hadir Wina, selamat ya.]


[Iya Mila, terimakasih banyak.]


[Iya Mila, nanti kukirimkan undangan virtual, kamu bisa menginap di rumahku, anggap saja ini rumah sendiri. Aku sudah menganggapmu sebagai adikku.]


[Terimakasih banyak Wina.]


[Sampai bertemu dua minggu lagi, Assalamualaikum.]


[Waalaikumsalam.]


"Ada apa sayang?"


"Ini Mas, kita diundang ke pesta pernikahan putrinya Wina, kita bisa datang ke sana kan?"


"Tentu, bukankah kita sudah lama tidak bulan madu sayang."


"Mas, kita datang dengan anak-anak."


Wajah Anton seketika berubah menjadi masam. Kamila yang mengetahui perbedaan raut wajah suaminya langsung meledeknya.


"Kamu mau kita bulang madu Mas?"


Anton hanya mengangguk. "Bagaimana kalau sekarang saja?"


"Yang benar sayang?"


"Tentu, aku akan menelepon ke rumah dan mengatakan pada Mba Murni jika kita ada urusan mendadak, sehingga kita pulang agak sedikit terlambat."


"Kamu memang pintar sayang." kata Anton sambil mengarahkan laju mobilnya ke sebuah hotel bintang lima.


"Dasar kamu Mas, sudah tua masih saja nakal."


"Aku belum tua sayang." kata Anton sambil mendekatkan wajahnya pada Kamila lalu mel*mat b*birnya bertubi-tubi.


"Mas, sabar kamu mau melakukannya di tempat parkir seperti ini?" kata Kamila sambil tersenyum.


"Kamu yang meledekku sayang."


"Ya sudah ayo kita masuk." Anton pun mengangguk dan menggandeng tangan Kamila masuk ke dalam hotel.


Amanda tampak begitu bosan di dalam rumah, kedua adiknya kini sedang mengikuti les diantar oleh Mba Murni, dan kedua orang tuanya belum pulang. Bahkan tadi Mamanya mengirimkan pesan jika mereka akan pulang sedikit terlambat. Saat Amanda sedang memainkan ponselnya, tiba-tiba dia mendengar suara bel di depan rumah."


"Biii Bi Siti, tolong buka pintunya, ada tamu."


Bi Siti lalu berlari membuka pintu, dan masuk lagi menghampiri Amanda. "Siapa Bi?"


"Katanya teman Non Manda."


"Teman?"


Bi Siti lalu mengangguk dan kembali masuk ke dapur. Amanda lalu berjalan ke ruang tamu, tampak seorang laki-laki berdiri menghadap ke arah luar, sehingga wajahnya tak terlihat.


"Permisi, anda mencari saya?"


Mendengar suara Amanda, dia lalu membalikkan tubuhnya.


"Evan? kok kamu tahu rumahku?"


"Dikasih tahu sama Sabrina."


"Manda, masa gue masih disuruh berdiri, emang gue ga boleh gitu masuk ke rumah loe?"


"Hahahaha maaf Evan, aku lupa, ayo masuk."


Evan lalu mengikuti Amanda masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa ruang tamu. "Mau minum apa Evan?"


"Apa aja."


"Bi Siti, tolong bikinkan jus Bi." teriak Amanda


Beberapa saat kemudian, Bi Siti keluar dengan membawa jus seperti yang diperintahkan oleh Amanda.


"Minum Van."


"Manda, kapan loe balik ke Singapore?"


"Maaf Evan, aku ga akan pernah kembali lagi ke sana, orang tuaku trauma takut sesuatu terjadi lagi padaku."


"Jadi kita ga akan pernah bertemu lagi Manda?"


"Kamu gimana sih Van, lihat sekarang saja kita sedang bertemu."


"Bukan itu maksud gue Manda, jika kita berjauhan pasti kita akan sulit bertemu."


"Memangnya kenapa? kan kita bisa komunikasi lewat chat, video call,.."


"Tapi Manda, pasti gue rindu sama loe!"


"Maksudku kamu gimana Evan? kenapa harus merindukan aku?"


"Manda mengertilah gue cinta sama loe."


Mendengar kata-kata Evan seketika Amanda terdiam, sebenarnya di sangat terkejut karena mendengar Evan mengungkapkan cinta padanya. Evan yang selama ini begitu ketus dan galak ternyata mencintainya, rasanya Amanda tak percaya mendengar kata-katanya.


"Benarkah?"


"Tentu aja benar, apa loe ga sadar selama di Singapore gue yang selalu menjaga, menghibur, dan mengikuti kemanapun loe pergi karena gue begitu mencemaskan loe, bahkan gue sampe ga pulang ke rumah saat libur semester buat nemenin loe disana. Jadi gimana Manda?Apa loe mau terima cinta gue?"


"Beri aku waktu Evan."


"Baik kalau begitu lebih baik gue pulang dulu."


Melihat Evan berdiri dari tempat duduknya, seketika ada perasaan berbeda dalam diri Amanda, dalam lubuk hatinya, dia seperti tidak rela Evan pulang begitu saja.


"Tunggu Evan." kata Amanda.


"Aku juga mencintaimu." jawab Amanda sambil malu-malu. Mendengar kata-kata Amanda, Evan lalu menghampiri Amanda dan memeluknya.


"Terimakasih Amanda." kata Evan sambil melepas pelukannya.


"Ehhhh apa-apaan ini kamu dekat-dekat dengan anak saya."


"Papa."